Kjokkenmoddinger adalah Bukit Kerang, Ini Penjelasan Sejarahnya

Kabar Harian
Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
Konten dari Pengguna
1 Desember 2023 12:53 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kjokkenmoddinger adalah Bukit Kerang, Ini Penjelasan Sejarahnya. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Kjokkenmoddinger adalah Bukit Kerang, Ini Penjelasan Sejarahnya. Foto: Pexels
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Sejarah Indonesia dimulai sejak zaman pra aksara, yaitu zaman ketika manusia belum mengenal tulisan. Cara mengenali kehidupan manusia pada zaman tersebut adalah dengan mengidentifikasi peninggalan-peninggalannya.
ADVERTISEMENT
Salah satu peninggalan dari zaman tersebut adalah Kjokkenmoddinger yang diteliti Dr. P.V. Van Stein Callenfels pada tahun 1925.
Lantas apa itu Kjokkenmoddinger? Simak penjelasannya berikut ini.

Pengertian Kjokkenmoddinger

Pengertian Kjokkenmoddinger. Foto: Pexels
Dijelaskan dalam buku Menelusuri Jejak-Jejak Masa Lalu Indonesia oleh Yusliani Noor dan Mansyur, kata kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, kjokken berarti dapur dan modding yang artinya sampah.
Dengan demikian, Kjokkenmoddinger berarti sampah dapur. Kjokkenmoddinger terbentuk sejak masa prasejarah dan sering juga disebut dengan istilah shell midden.
Kjokkenmoddinger merupakan bukit yang terdiri dari tumpukan sisa cangkang kerang atau kulit moluska yang hidup di air payau seperti moluska placunidae dan muara yang berlumpur.
Moluska jenis ini merupakan moluska yang umum dikonsumsi masyarakat pesisir sejak dahulu hingga sekarang. Adapun efoktual lain yang dijumpai di Kjokkenmoddinger atau bukit kerang tersebut adalah fragmen tulang belakang ikan.
ADVERTISEMENT

Sejarah Kjokkenmoddinger

Sejarah Kjokkenmoddinger. Foto: pexels
Istilah kjokkenmoddinger dicetuskan seorang peneliti bernama Japetus Steenstrup. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan tumpukan kulit kerang sisa-sisa kegiatan manusia purba di kawasan pesisir.
Manusia purba pada zaman tersebut mengonsumsi hewan laut seperti kerang, kemudian membuat sampahnya hingga sampah tersebut menggunung.
Jadi, Kjokkenmoddinger bukan fenomena yang terbentuk dalam waktu sebentar. Diperlukan waktu selama ribuan tahun untuk membuat Kjokkenmoddinger, hingga kulit kerang tersebut membatu alias menjadi fosil.
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, peradaban kjokkenmoddinger berasal dari Zaman Batu Madya atau Mesolithikum. Ciri dari zaman mesolitihikum yaitu sudah ada manusia purba yang menetap.
Adapun manusia purba yang hidup pada masa mesolithikum adalah Homo Sapiens. Hal ini didukung dengan ditemukannya fosil manusia purba berupa tulang belulang, pecahan tengkorak, atau gigi dalam tumpukan kjokkenmoddinger.
ADVERTISEMENT

Situs Kjokkenmoddinger atau Bukit Kerang

Situs Kjokkenmoddinger atau Bukit Kerang. Foto: Pexels
Mengutip laman disbud.kepriprov.go.id, situs Bukit Kerang telah ditetapkan menjadi situs cagar budaya berdasarkan SK Bupati Nomor 301/V/2017 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Cagar Budaya Kabupaten Bintan.
Lokasi Bukit Kerang berada di areal perkebunan kelapa sawit milik PT. Tirta Madu yang berada di wilayah Kawal Darat Kecamatan Gunung Kijang Bintan dan berjarak sekitar 5 kilometer ke arah garis pantai.
Selain itu beberapa temuan artefak juga ditemukan disekitar situs bukit kerang seperti alat cungkil bahan tulang, alat dari cangkang kerang, batu pukul, kapak genggam yang disebut dengan pebble serta serpihan tulang tengkorak.
Kapak batu tersebut menunjukkan bahwa aktifitas yang berlangsung dalam upaya pemenuhan hidup masih sangat sederhana.
ADVERTISEMENT
Sebaran situs bukit kerang menggambarkan aktivitas masa prasejarah di pesisir timur Sumatera dari wilayah provinsi Kepulauan Riau hingga wilayah provinsi Aceh.

Mengenal Budaya Mesolithikum

Mengenal Budaya Mesolithikum. Foto: Pexels
Mesolithikum merupakan zaman batu. Berdasarkan hasil temuan alat-alat peninggalan manusia purba, bentuk dan cara pembuatannya, zaman batu dibagi menjadi empat.
Berikut penjelasannya dirangkum dari Modul PJJ IPS Kelas 7 Semester Genap.

1. Palaeolithikum (Zaman Batu Tua)

Zaman ini dikatakan zaman Batu Tua, karena alat-alat yang digunakan manusia purba masih terbuat dari batu yang relatif besar dan masih kasar.
Adapun contoh peralatan manusia purba pada zaman batu tua adalah kapak perimbas dan alat-alat serpih.
Bentuk kehidupan manusia purba pada zaman batu tua diyakini masih berpindah-pindah (nomaden), mereka memperoleh makanan dengan cara berburu binatang dan mengumpulkan makanan berupa biji-bijian, sayuran dan buah dari alam yang dilewatinya.
ADVERTISEMENT
Masyarakat zaman ini hidup secara berpindah-pindah karena mengikuti perpindahan atau migrasi binatang yang menjadi buruannya.
Berdasarkan ciri-ciri dan tempat temuannya, peralatan manusia purba Indonesia pada masa batu tua dibagi dalam dua kelompok besar yaitu kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.

2. Mesolithikum (Zaman Batu Tengah)

Zaman Mesolitikum dikenal juga sebagai Zaman Batu Tengah atau Batu Madya. Zaman ini merupakan kehidupan dimana peralatan batu yang digunakan manusia sudah lebih maju dari sebelumnya.
Pada zaman batu tengah, alat-alat batu yang dibuat manusia sudah relatif halus dan berukuran kecil seperti mata panah dari batu.
Pada masa ini diyakini bahwa manusia purba sudah mulai tinggal menetap dengan ditemukannya banyak tinggalan pebble (kapak Sumatra) pada tumpukan sampah kulit kerang sisa makanan manusia purba Kjokkenmoddinger, dan pada liang-liang gua yang bisa dihuni manusia Abris sous Roche.
ADVERTISEMENT
Masyarakat pada zaman ini mencari makan dengan berburu, meramu, dan bercocok tanam. Mereka juga sudah mengenal seni melukis dan mengenal kepercayaan.

3. Neolithikum (Zaman Batu Baru)

Zaman baru baru merupakan zaman dimana kehidupan manusia sudah tinggal menetap karena manusia mulai melakukan kegiatan bercocok tanam.
Selain itu, manusia juga sudah mulai menguasai teknik pengolahan tanah liat untuk membuat tembikar sebagai alat penyimpanan.
Gaya hidup yang menetap dan aktivitas yang semakin beragam ini pun tentu saja menyebabkan perubahan kebudayaan karena mereka semakin dituntut untuk bekerjasama, sehingga muncul sistem sosial.
Hasil kebudayaannya pada masa neolitikum adalah kapak persegi dan kapak lonjong.

4. Megallithikum (Zaman Batu Besar)

Zaman ini erat kaitannya dengan manusia yang sudah mengenal kepercayaan mengenai tuhan sehingga memunculkan hasil kebudayaan berupa bangunan terbuat dari batu berukuran besar, seperti; menhir, dolmen, kubur peti batu, sarkofagus, waruga, punden berundak, dan patung-patung.
ADVERTISEMENT
(DEL)