Konten dari Pengguna

Kultum Pertengahan Ramadhan yang Penuh Makna

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kultum Pertengahan Ramadhan, Foto:Unsplash/Levi Meir Clancy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kultum Pertengahan Ramadhan, Foto:Unsplash/Levi Meir Clancy

Kultum pertengahan Ramadhan menjadi momen yang sangat dinantikan bagi setiap Muslim, karena di tengah perjalanan puasa, kita diajak untuk sejenak berhenti, merenung, dan menata kembali hati.

Pada titik ini, bukan hanya rasa lapar dan dahaga yang diuji, tetapi juga kesabaran, ketulusan, dan kualitas ibadah kita.

Kultum pertengahan Ramadhan hadir sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman tentang makna puasa, mengingatkan tentang pentingnya amal saleh, serta menumbuhkan kesadaran spiritual yang lebih matang.

Kultum Pertengahan Ramadhan

Ilustrasi Kultum Pertengahan Ramadhan, Foto:Unsplash/Masjid MABA

Kultum pertengahan Ramadhan menjadi momen penting untuk merenungkan hakikat puasa, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala yang dapat merusak jiwa dan hati.

Dikutip dari laman digilib.uin-suka.ac.id, mengungkapkan bahwa puasa atau dalam bahasa Arab disebut saum atau siyam, secara harfiah berarti menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa.

Lebih dari itu, puasa mengajarkan kontrol diri, ketulusan, dan kesabaran, sehingga setiap insan dapat menjalani hari-hari Ramadhan dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam.

Menahan diri dibutuhkan oleh semua orang, baik kaya maupun miskin, muda maupun tua, laki-laki maupun perempuan. Inti dari menahan diri adalah menjaga anggota tubuh dan hati agar tidak melakukan perbuatan yang sia-sia atau melanggar perintah Allah.

Misalnya, menahan lidah dari ucapan yang tidak benar, menahan telinga dari mendengar hal-hal yang dilarang, serta menahan diri agar tidak mengambil hak orang lain secara sembarangan.

Dengan demikian, puasa menjadi sarana pelatihan batin untuk menumbuhkan disiplin, empati, dan ketenangan hati.

Selain menahan diri, konsep imsak juga menjadi bagian penting. Imsak berarti berpegang teguh pada perintah Allah dan Rasul-Nya, serta menjalankan puasa dengan kesadaran penuh.

Orang yang imsak menjaga keyakinan, menegakkan niat, dan tidak tergoda untuk melanggar aturan puasa. Hal ini mencerminkan kualitas iman yang murni dan perilaku yang konsisten, di mana setiap tindakan didasari oleh kepatuhan dan keikhlasan.

Secara syar’i, puasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari, dengan niat yang tulus dan kesungguhan untuk beribadah.

Puasa bukan sekadar ritual, tetapi strategi menjaga jiwa. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, jiwa menjadi lebih bersih, akal lebih jernih, dan hati lebih lembut.

Selain menjaga diri sendiri, efek puasa juga berdampak pada lingkungan sekitar, membentuk sikap peduli dan penuh empati.

Kultum pertengahan Ramadhan mengingatkan bahwa makna puasa sesungguhnya terletak pada kesadaran diri, keteguhan iman, dan ketulusan dalam menjalankan perintah Allah.

Menahan diri bukan hanya soal menahan lapar, tetapi tentang menata hati, menjaga perilaku, dan merawat jiwa agar Ramadhan menjadi bulan yang penuh berkah, refleksi, dan transformasi spiritual.(DANI)

Baca juga: Kultum Ramadhan Hari ke 11 yang Penuh Makna dan Menyentuh Hati