Konten dari Pengguna

Lirik Hai Siarkan di Gunung, Lagu Rohani yang Bawa Kedamaian Natal

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lirik Hai Siarkan di Gunung, foto: unsplash/Oleg Sergeichik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lirik Hai Siarkan di Gunung, foto: unsplash/Oleg Sergeichik

Perayaan Natal selalu identik dengan lagu-lagu rohani yang mengangkat kabar kelahiran Kristus. Salah satu kidung yang tak lekang oleh waktu adalah lirik Hai Siarkan di Gunung.

Lagu ini mengajak setiap orang untuk bersukacita dan menyebarkan kabar kelahiran Almasih ke seluruh penjuru, dari gunung hingga lembah, dari kota hingga pelosok.

Nuansa syukur dan pengharapan terasa kuat dalam setiap baitnya, menjadikan lagu ini sering dinyanyikan saat ibadah Natal maupun persekutuan rohani.

Makna Rohani di Balik Lirik Hai Siarkan di Gunung

Ilustrasi lirik Hai Siarkan di Gunung, foto: unsplash/Kenny Eliason

Mengutip situs alkitab.sabda.org, berikut adalah lirik Hai Siarkan di Gunung yang punya makna mendalam:

Hai, siarkan di gunung di bukit dan di mana jua,

Hai, siarkan di gunung lahirnya Almasih!

Di waktu kaum gembala menjaga dombanya

Terpancar dari langit cahaya mulia

Hai, siarkan di gunung di bukit dan di mana jua,

hai, siarkan di gunung lahirnya Almasih!

Gembala sangat takut ketika mendengar

Nyanyian bala sorga gempita menggegar

Hai, siarkan di gunung di bukit dan di mana jua,

hai, siarkan di gunung lahirnya Almasih!

Terbaring di palungan yang hina dan rendah,

Sang Bayi menyampaikan selamat dunia

Hai, siarkan di gunung di bukit dan di mana jua,

Hai, siarkan di gunung lahirnya Almasih!

Pembahasan makna lirik Hai Siarkan di Gunung tidak lepas dari ajakan untuk bersaksi. Bagian reff dari lagu ini menegaskan panggilan iman agar kabar kelahiran Kristus tidak disimpan sendiri, melainkan diumumkan dengan lantang.

Gunung dan bukit menjadi simbol tempat tinggi, menggambarkan pesan yang harus terdengar luas dan jelas oleh semua orang.

Pada bait pertama, diceritakan suasana malam ketika para gembala menjaga kawanan domba. Kehadiran cahaya mulia dari langit menjadi tanda campur tangan ilahi yang membawa pengharapan baru.

Bait berikutnya menggambarkan rasa takut para gembala yang berubah menjadi kekaguman saat mendengar pujian bala tentara sorga. Dari ketakutan lahirlah sukacita, sebuah pesan Natal yang relevan sepanjang masa.

Bait terakhir menyoroti palungan yang hina, tempat Sang Bayi dibaringkan. Kesederhanaan ini justru menegaskan kasih Allah yang besar bagi dunia. Keselamatan hadir bukan dalam kemegahan, melainkan dalam kerendahan hati.

Sebagai lagu Natal, lirik Hai Siarkan di Gunung mengingatkan bahwa damai sejahtera lahir ketika kabar baik tentang Kristus disampaikan dan dihidupi.

Lagu ini bukan sekadar nyanyian, tetapi seruan iman agar semangat Natal terus bergema, membawa terang, kedamaian, dan pengharapan bagi banyak hati. (Echi)

Baca juga: Jadwal Misa Santa Monika BSD Terbaru untuk Natal