Makna dan Lirik Lagu Manusia Terakhir di Bumi Kunto Aji

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Makna dan lirik lagu Manusia Terakhir di Bumi Kunto Aji menjadi topik yang menarik untuk dibahas karena karya ini bukan sekadar lagu pop biasa, melainkan sebuah ekspresi perasaan yang dalam dan penuh makna.
Kunto Aji, sebagai salah satu musisi Indonesia yang dikenal dengan lirik-liriknya yang puitis dan kontemplatif, kembali berhasil menggugah perasaan banyak pendengar melalui lagu ini.
Lagu ini hadir dengan nuansa yang tenang, melodi yang menyentuh, serta lirik yang menggambarkan perasaan eksistensial secara jujur dan apa adanya.
Makna dan Lirik Lagu Manusia Terakhir di Bumi Kunto Aji
Makna dan lirik lagu Manusia Terakhir di Bumi Kunto Aji menghadirkan pesan kuat dan menyentuh mengenai hubungan manusia dengan alam.
Kunto Aji bersama grup musik IKLIM resmi merilis lagu ini pada Kamis, 2 Oktober 2025 sebagai bagian dari album kompilasi Sonic/Panic Vol. 3.
Album ini dirancang untuk menyuarakan tema besar tentang lingkungan dan perubahan iklim yang kini menjadi isu mendesak di berbagai belahan dunia.
Melalui lagu ini, Kunto Aji tidak hanya menyuguhkan karya musikal, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenung dan sadar akan peran mereka dalam menjaga bumi.
Dalam pernyataan resminya, Kunto Aji menjelaskan bahwa lagu ini lahir dari kegelisahan terhadap krisis iklim yang makin terasa.
Ia menggambarkan kemungkinan ekstrem di masa depan: jika kerusakan alam terus dibiarkan, manusia bisa saja menjadi terakhir di bumi.
Lagu ini menjadi bentuk ekspresi kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus peringatan akan dampak besar yang mungkin terjadi jika kita tidak bertindak sejak sekarang.
Lirik lagu ini menggambarkan kehancuran alam dengan sangat puitis namun menyayat. Berikut lirik lengkapnya, sebagaimana dikutip dari laman rri.co.id:
Teratai menua
Angin kering gersang
Retas batu karang
Tak lagi menopang
Waktu takkan terulang
Berjalan ke depan
Tua yang kau tanam
Atas seluruh alam
Langit terbelah
Hujan arang
Ku menari-menari di atas perih
Melihat langit, langit hitam
Melantunkan doa terakhir
Bait-bait pengampunan
Samar-samar menghempas daun
Kerasnya angin, angin berputar
Terbang melingkar untuk mengantar
Babak akhir kehidupan
Langit biru tiada batas
Air jernih membasuh kaki
Kupu-kupu hinggap di telunjuk jari
Hutan hijau yang memberimu nafas
Tanpa balas, tanpa balas
Tanah, air, udara, nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Langit terbelah
Hujan arang
Ku menari-menari di atas perih
Melihat langit, langit hitam
Melantunkan doa terakhir
Bait-bait pengampunan
Samar-samar menghempas daun
Kerasnya angin, angin berputar
Terbang melingkar untuk mengantar
Babak akhir kehidupan
Makna utama lagu ini adalah pengingat bahwa manusia tidak terpisah dari alam. Ketika alam rusak, manusia pun akan menuai akibatnya.
Lagu ini menjadi cermin bahwa perubahan harus dimulai sekarang, dari kesadaran individu hingga gerakan kolektif.
Dengan aransemen musik yang atmosferik dan lirik yang sarat makna, lagu ini bukan hanya menyentuh telinga, tetapi juga menggugah hati.
Makna dan lirik lagu Manusia Terakhir di Bumi Kunto Aji menegaskan pentingnya kepedulian lingkungan demi keberlangsungan hidup umat manusia. (KIKI)
Baca juga: Makna dan Lirik Lagu Ditinggal Begitu Saja Danilla
