Materi Tolak Peluru: Sejarah, Teknik Dasar, Sarana, dan Aturan

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Materi tolak peluru menjadi salah satu olahraga atletik yang diberikan di tingkat sekolah lanjutan seperti SMP dan SMA. Olahraga ini cukup menarik perhatian masyarakat karena gaya lempar yang unik dengan menggunakan bola besi.
Materi tolak perlu dapat diberikan di lapangan maupun di kelas. Sama seperti olahraga atletik lainnya, tolak peluru memiliki teknik dasar, peralatan yang digunakan hingga peraturan permainan yang perlu dipatuhi setiap peserta.
Agar dapat menguasai olahraga atletik kategori lempar tersebut, simaklah artikel ini sampai selesai. Artikel ini akan mengungkap materi tolak peluru mulai dari sejarah, teknik dasar, sarana dan prasarananya hingga aturan yang perlu dipatuhi setiap peserta.
Sejarah Tolak Peluru
Tolak peluru adalah suatu gerakan menolak benda bulat dengan berat tertentu untuk mencapai jarak sejauh-jauhnya dengan menggunakan gaya.
Mengutip buku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk SMA/SMK/MA Sederajat tulisan Nur Hasyim, dkk, olahraga tolak peluru sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu. Pada awalnya, olahraga ini diciptakan untuk menguji kekuatan prajurit Inggris.
Sebelum menggunakan jenis peluru canon, alat yang digunakan untuk olahraga ini terbuat dari batu sampai abad pertengahan saat negara Eropa mengalami banyak sekali perang.
Sehingga, sejak saat itu peluru yang digunakan untuk pertandingan kekuatan diganti menjadi canon. Skotlandia menjadi negara pertama yang mengadakan pertandingan resmi olahraga tolak peluru pada 1866. Namun, kejuaraan tersebut masih bersifat amatir.
Tolak peluru masuk ke Indonesia dibawa oleh penjajah Belanda. Kemudian olahraga ini dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah pribumi sehingga dikenal kalangan warga lokal.
Meski tolak peluru sudah dikenal sejak masa kolonial, organisasi resmi tolak peluru baru diakui pada 3 September 2020.
Baca Juga: Mengenal Sudut Sektor Tolak Peluru dan Teknik Dasarnya
Teknik Dasar Tolak Peluru
Dalam melakukan tolak peluru, setiap atlet harus menguasai berbagai teknik dasar dengan baik. Tujuannya agar dapat mencapai jarak lempar dengan maksimal.
Mengutip buku Mengenal Olahraga Atletik karya Enik Yuliatin, dkk., berikut teknik dasar olahraga tolak peluru yang perlu dipelajari.
1. Cara Memegang Peluru
Teknik memegang peluru yang benar akan mempengaruhi hasil tolakan. Berikut cara memegang peluru yang dapat dipraktikkan.
Peluru diletakkan pada telapak tangan bagian atas atau pada ujung telapak tangan.
Jari-jari tangan direnggangkan atau dibuka.
Gunakan jari manis, jari tengah, dan jari telunjuk untuk menahan dan memegang peluru bagian belakang.
Jari kelingking dan ibu jari digunakan untuk menahan peluru bagian samping agar tidak tergelincir ke dalam atau ke luar.
Setelah peluru dipegang dengan baik, tempelkan di leher pada bawah rahang dan dukung dengan tangan.
Tempelkan peluru bagian atas pada dagu dan siku dengan sudut tak lebih dari 90 derajat atau tepat 45 derajat. Sementara posisi badan membentuk sudut 120 derajat.
Perhatikan durasi waktu di arena. Durasi waktu peserta sejak namanya dipanggil hingga selesai melakukan lontaran adalah 60 detik.
2. Gaya Dalam Tolak Peluru
Gaya yang dipakai dalam tolak peluru terdiri dari tiga macam, yaitu:
a. Gaya Ortodoks
Gaya ini lebih membutuhkan sedikit gerakan dibanding dengan gaya lainnya. Atlet harus memposisikan tubuh menyamping pada area lingkaran. Setelah posisi peluru di bagian pangkal leher sudah pas, atlet bisa langsung melempar peluru ke area sasaran.
b. Gaya O’Brien
Untuk memulai gaya O’brien, atlet harus membelakangi arena sasaran. Gaya ini dimulai dari posisi membungkuk. Selanjutnya, gerakan dilanjutkan dengan menendang kaki depan ke arah depan lingkaran, sedangkan kaki lainnya mengikuti arah gerakan.
Ketika kaki depan menendang, badan diputar 180 derajat ke arah depan sekaligus mendorong peluru ke area sasaran.
c. Gaya Spin
Gaya Spin adalah gaya yang digunakan oleh atlet tolak peluru professional dalam kompetisi olimpiade. Gaya ini membutuhkan latihan dan keterampilan yang tajam. Saat menggunakan gaya ini, atlet harus berputar 360 derajat sebelum menolak peluru.
Perputaran yang dilakukan atlet saat melakukan gerakan dapat mempengaruhi jarak yang diperoleh. Saat menggunakan gaya spin, setiap atlet harus benar-benar fokus agar tidak melakukan pelanggaran.
3. Sikap Badan Setelah Menolak Peluru
Adapun sikap badan yang dilakukan setelah menolak peluru, setiap atlet dapat melakukan tahapan berikut ini.
Setelah peluru ditolakkan atau dilempar, kaki kanan yang dipakai untuk menolak didaratkan di tempat bekas kaki kiri dengan lutut dibengkokkan.
Kaki kiri diangkat ke belakang lurus dan lemas untuk membantu menjaga keseimbangan.
Badan condong ke depan, dagu diangkat, badan agak miring ke samping kiri, dan pandangan ke arah jatuhnya peluru.
Siku tangan kanan dibengkokkan dengan posisi berada di depan dan sedikit di bawah badan.
Tangan atau lengan kiri lurus ke belakang untuk menjaga keseimbangan.
Ketentuan Diskualifikasi Teknik Tolak Peluru
Saat melakukan awalan, gerakan menolak, hingga akhiran, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tidak didiskualifikasi oleh wasit. Masih dari sumber yang sama, berikut ketentuan diskualifikasi yang perlu dipahami.
Menyentuh balok batas sebelah atas
Menyentuh tanah di luar lingkaran
Keluar masuk lingkaran dari garis tengah
Dipanggil selama tiga menit belum menolak
Peluru ditaruh di belakang kepala
Peluru jatuh diluar sektor lingkaran
Menginjak garis lingkar lapangan
Keluar lewat depan garis lingkar
Keluar lingkaran tidak dengan berjalan tenang
Peserta gagal melempar sebanyak tiga kali.
Sarana dan Prasarana Tolak Peluru
Agar permainan dapat berjalan dengan lancar, ada sarana dan prasarana yang perlu dipenuhi. Mengutip buku Ensiklopedia Olahraga Atletik: Lompat Jauh hingga Tolak Peluru oleh Atma Endris, dkk., berikut sarana dan prasarana yang digunakan.
1. Ukuran dan Berat Peluru
Peluru terbuat dari besi padat, kuningan atau logam. Cangkang dari logam diisi dengan timah dan wajib berbentuk bola. Berat peluru disesuaikan dengan gender dan kelas.
Senior Putra: 7,257kg
Senior Putri: 4kg
Junior Putra: 5kg
Junior Putra: 3kg
2. Lapangan tolak peluru
Lingkaran tolak peluru berkontruksi dari besi, baha, atau bahan lain yang sejenis untuk bagian lengkungan. Bagian atasnya harus rata dengan tanah luar. Bagian lingkaran dalam terbuat dari semen yang berbentuk padat tapi tidak licin.
Diameter dalam lingkaran area tolakan berukuran 2,135.
Panjang balok penahan berukuran 1,22m.
Sektor lemparan harus membentuk sudut 45 derajat dari titik tengah lingkaran.
Papan batas lingkaran dan area lemparan terbuat dari kayu atau bahan yang sesuai. Stop board menyerupai bentuk busur dan dipasang dengan kuat ke tanah.
Area pendaratan berbentuk segitiga terbalik yang dibentuk dengan garis yang ditarik dari pusat lingkaran dan melewati ujung stop board.
Penarikan garis dari pusat lingkaran dapat membentuk sudut 34,92 derajat dengan garis sektor 5cm.
Peraturan Olahraga Tolak Peluru
Untuk menjaga kompetisi tolak peluru berjalan lancar dan adil, ada beberapa peraturan singkat yang harus dipatuhi setiap pemain.
Dihimpun dari buku Siswa Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan SMP/MTS kelas 7 yang disusun Paiman, berikut peraturan olahraga tolak peluru secara singkat.
Atlet dapat memasuki lingkaran dari segala arah termasuk melangkahi stop board yang ada di depan lingkaran. Namun, selesai melakukan tolakan atlet harus keluar dari bagian belakang lingkaran.
Peluru harus berada di dekat leher atau dagu dan tangan tak boleh jatuh ke bawah. Lemparan peluru tak boleh dilakukan di belakang garis bahu.
Tolakan peluru harus dimulai dan diakhiri di dalam lingkaran. Setelah menyelesaikan tolak peluru, sentuhan pertama dengan tanah di luar lingkaran harus berada di luar setengah bagian belakang lingkaran.
Bagian atas stop board dianggap berada di luar lingkaran. Atlet tak boleh menyentuh bagian atas stop board. Menyentuh bagian stop board dengan cara apapun dianggap pelanggaran.
Peluru harus mendarat sepenuhnya di dalam sektor. Peluru yang mendarat di luar sektor dianggap pelanggaran.
Pendaratan peluru ditentukan oleh tempat peluru pertama kali menyentuh tanah. Jika mendarat seluruhnya di dalam sektor, namun peluru kemudian berguling di luar sektor, hasil peluru masih dapat dihitung.
Jarak yang dihitung untuk hasil akhir tolak peluru adalah area lingkaran tempat peserta melakukan lontaran hingga tempat pendaratan peluru.
Atlet dilarang meninggalkan area lingkaran sebelum peluru mendarat ke tanah atau tepat di area yang sudah ditentukan secara sempurna.
(IPT)
