Memahami Tata Nama Senyawa Berdasarkan Bilangan Oksidasi

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penamaan senyawa menurut IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry) adalah tata nama senyawa berdasarkan bilangan oksidasinya. Bilangan oksidasi sendiri berguna untuk memberi nama pada senyawa, yang unsur pembentuknya memiliki lebih dari satu macam tingkat oksidasi.
Menurut buku Kimia utnuk SMA Kelas X karya Suyatno dkk (2008: 94), berdasarkan jenis atau sifat unsur penyusunnya, senyawa dapat dibedakan menjadi senyawa unsur logam dan nonlogam, senyawa unsur nonlogam dan non logam, dan senyawa unsur semilogam dan non logam.
Pada bahasan ikatan kimia, unsur logam yang bersenyawa dengan unsur nonlogam akan menghasilkan senyawa dengan ikatan ion yang disebut senyawa ion.
Sementara itu, senyawa antara unsur nonlogam dengan nonlogam atau semilogam dengan nonlogam merupakan senyawa dengan ikatan kovalen yang disebut senyawa kovalen atau senyawa molekul.
Merujuk pada buku Rumus Pocket Kimia terbitan Tim Kompas Ilmu (2019: 109), berikut aturan penamaannya berdasarkan bilangan oksidasi dan contohnya.
Aturan Penamaan Senyawa Biner Logam dan Nonlogam
Logam yang memiliki satu bilangan oksidasi, misalnya logam alkali, alkali tanah, dan aluminium, maka penamaan senyawanya adalah nama logam di depan, lalu nama nonlogam diikuti ida. Contoh:
NaCl: Natrium Klorida
KI: Kalium Iodida
Logam yang memiliki beberapa bilangan oksidasi, misalnya logam transisi, penamaannya adalah dengan menuliskan bilangan oksidasi dengan angka romawi di belakang nama logam tersebut. Contoh:
FeCl2: besi (II) klorida
FeCl3: besi (III) klorida
Cu2O: tembaga(I) oksida
SnO: timah(II) oksida
Aturan Penamaan Senyawa Biner Nonlogam dan Nonlogam
Atom nonlogam yang hanya dapat membentuk satu senyawa dengan atom lain, maka penamaannya sebutkan nama unsur nonlogam pertama, nama unsur logam kedua, dan ditambahkan dengan akhiran ida. Contoh:
HCl: Hidrogen Klorida
H2S: Hidrogen Sulfida
Penamaan senyawa yang terdiri dari atom nonlogam yang dapat membentuk dua atau lebih senyawa adalah dengan memberi awalan yang menyatakan jumlah atom, kemudian atom nonlogam yang bermuatan negatif, dan berakhiran ida. Awalan yang digunakan adalah sebagai berikut:
1: mono
2: di
3: tri
4: petra
5: penta
6: heksa
7: hepta
8: okta
9: deka
10: nona
3.Aturan Penamaan Senyawa dari Ion-Ion Poliatom
Ion poliatom biasanya terdiri dari dua unsur yang bergabung dan mempunyai muatan. Aturan penamaannya adalah sebagai berikut;
Untuk senyawa yang terdiri dari kation, diikuti nama anion poliatom. Contoh:
*NaOH=
Kation: Na+
Anion Poliatom: OH-
Nama Senyawa: Natrium Hidroksida
*KMnO4=
Kation: K+
Anion Poliatom: MnO-4
Nama Senyawa: Kalium Permanganat
Untuk senyawa yang terdiri dari kation yang memiliki muatan lebih dari 1 dan anion poliatom, aturan penamaannya:
*Sebutkan nama kation, kemudian muatan kation diberi angka romawi, dan diikuti nama anion poliatom.
*Sebutkan nama latin logam, beri akhiran i/o (akhiran i untuk kation yang muatannya lebih besar, sedangkan akhiran o untuk kation yang muatannya lebih kecil), diikuti nama-nama anion poliatom.
Contoh:
Atom Fe dapat membentuk kation Fe2+ dan Fe3+. Jika atom Fe akan membentuk senyawa dengan anion poliatom PO43-, maka dapat membentuk 2 senyawa, yaitu Fe3 (PO4)2 dan FePO4.
Pada senyawa Fe3(PO4)2, penamaannya: Besi(II) fosfat atau Ferro fosfat
Pada senyawa FePO4, penamaannya: Besi (III) fosfat atau Ferri fosfat
Untuk senyawa yang terdiri dari kation poliatom dan anion, sebutkan nama kation poliatom, dan diikuti nama anion. Contoh:
NH4Cl=
Kation Poliatom: NH4+
Anion: Cl-
Nama Senyawa: Ammonium Klorida
(VIO)
