Menengok Reaksi Masyarakat terhadap Kedatangan Bangsa Spanyol di Indonesia

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penjajahan Bangsa Spanyol pertama kali memasuki kawasan Asia Tenggara dimulai sejak 10 Agustus 1519. Ekspedisi mengelilingi dunia ini dipimpin oleh Fernando de Maggelan’s, seorang pelaut dari Kerajaan Spanyol.
Rombongan yang ikut dalam ekspedisi Bangsa Spanyol adalah sekitar 260 orang dengan menggunakan lima buah kapal layar dan perlengkapan yang cukup banyak. Kapten Yuan Sebastian del Cano ditunjuk sebagai wakil Maggelan’s.
Sesampainya di Filipina, Maggelan’s tewas terbunuh. Pimpinan ekspedisi dilanjutkan Yuan Sebastian del Cano. Ia berhasil membuka jalur laut baru pada tahun 1521 dan singgah terlebih dahulu di Tidore, Maluku Utara.
Tidak berapa lama kemudian, Spanyol menjalin hubungan perdagangan dengan Sultan Tidore Al Mansyur (1512-1526). Lantas bagaimana reaksi masyarakat terhadap kedatangan Bangsa Spanyol di Indonesia ini? Temukan jawaban lengkapnya di bawah ini.
Reaksi Masyarakat terhadap Kedatangan Bangsa Spanyol di Indonesia
Dikutip dalam buku Sejarah SMP Kelas VII karya Dr. Nana Nurliana Soeyono, MA (2012: 111), reaksi masyarakat Indonesia terhadap Bangsa Spanyol ditunjukkan dengan keakraban hubungan perdagangan antara Bangsa Spanyol dan masyarakat Maluku.
Keakraban ini menyebabkan Portugis yang telah membuka lebih dahulu kantor dagangnya di Ternate merasa terancam. Maka, terjadilah perselisihan antara kedua Bangsa Eropa tersebut.
Perselisihan menyebabkan terjadinya pertempuran untuk memperebutkan daerah Maluku tersebut. Namun, pertikaian tersebut tidak berlangsung lama karena mendapat kecaman langsung dari Roma.
Atas bantuan Paus Alexander VI di Roma, akhirnya perseteruan tersebut dapat diselesaikan melalui Perjanjian Saragossa. Perjanjian ini ditandatangani 22 April 1529 yang berisi bahwa Bangsa Spanyol kembali menduduki Filipina, sedangkan Portugis tetap di Maluku.
Kedatangan Bangsa Spanyol sama seperti Bangsa Eropa lainnya, yang dilandasi oleh gold, gospel, dan glory. Hal ini dibuktikan ketika Bangsa Spanyol memanfaatkan kekuasaannya dengan menyebarkan agama Kristen dan Katolik di wilayah yang belum menganut agama Islam.
Walaupun kedatangan Spanyol ini dianggap relatif cukup singkat dibanding dengan negara-negara lainnya, ada beberapa peninggalan budaya Bangsa Spanyol di Indonesia.
Peninggalan Budaya Spanyol
Merangkum buku Sejarah Nasional Indonesia: Ketika Nusantara Berbicara karangan Joko Darmawan (2017: 15), peninggalan budaya Bangsa Spanyol di Indonesia di antaranya yaitu:
Sayir ajaran Kristen-Katolik (1563), melalui jalur perdagangan oleh misionaris Spanyol dan terjadinya perkawinan campur dengan penduduk setempat.
Malaga, suatu merek minuman beralkohol. Konon nama Malaga diambil dari nama suatu tempat di Kota Spanyol dengan pesona wisata dan kebudayaannya.
Nama marga di Minahasa, yaitu apabila seorang perempuan menikah, nama keluarga suami disisipkan. Misalnya pria bermarga Assa, menikah dengan marga Damongilala, keluarga itu disebut keluarga Assa-Damongilala.
Kuliner Panada, makanan ringan khas Manado. Konon kue pastel berisi ikan cakalang ini merupakan modifikasi makanan khas Amerika Selatan “Empanada” yang dipopulerkan orang Spanyol di tanah Minahasa.
(VIO)
