Konten dari Pengguna

Mengenal Apa Itu Hoarding Disorder, Gejala, dan Pengobatannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi apa itu hoarding disorder. Foto: unsplash.com.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi apa itu hoarding disorder. Foto: unsplash.com.

Daftar isi

Apa itu hoarding disorder? Secara umum, hoarding disorder adalah perilaku suka menimbun barang dalam jumlah besar, sehingga menyebabkan kekacauan pada ruangan atau tempat tinggal.

Hoading disorder termasuk dalam kategori gangguan kesehatan mental yang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, hubungan sosial, pekerjaan, maupun bidang lainnya.

Untuk memahami apa itu hoarding disorder lebih jelas, simaklah pengertian, penyebab, gejala, dan beberapa perawatan yang bisa dilakukan untuk penderita pada artikel ini.

Apa itu Hoarding Disorder?

ilustrasi apa itu hoarding disorder. Foto: unsplash.com.

Menyadur laman American Psyciatric Asociation, hoarding disorder didefinisikan sebagai gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya gemar mengumpulkan atau menimbun barang dalam jumlah besar, bahkan barang yang tidak berguna sekali pun.

Contoh barang yang dikumpulkan adalah benda-benda yang tidak diperlukan seperti koran atau majalah, sampah, bahkan pakaian yang sudah kotor dan rusak.

Akibatnya, barang-barang tersebut akan menumpuk di tempat tinggal atau ruangan sehingga menyebabkan masalah kesehatan bagi penderitanya atau orang lain yang tinggal bersamanya.

Perilaku hoarding disorder sangat berbeda dengan perilaku mengoleksi barang normal. Pengidap gangguan ini memiliki gejala-gejala yang mengakibatkan kekacauan pada tempat tinggal hingga kegiatan sehari-hari seperti memasak, tidur, hingga kebersihan diri.

Selain itu, gangguan ini dapat memicu sanitasi yang buruk dan menyebabkan konflik serius pada lingkungan sekitar. Pengidap gangguan ini terkadang bisa sulit diobati karena banyak yang tidak menyadari perilaku tersebut.

Penyebab Hoarding Disorder

ilustrasi penyebab hoarding disorder. Foto: pexels.com.

Mengutip laman yankes.kemkes.go.id, penyebab hoarding disorder belum diketahui secara pasti. Namun, sejauh ini beberapa peneliti mengidentifikasi faktor yang dapat meningkatkan seseorang mengalami kondisi psikologi tersebut, yaitu:

  • Memiliki gangguan mental seperti depresi, sikzofrenia, dan gangguan obsesif kompulsif atau OCD, dan ADHD.

  • Memiliki kerabat atau orang tua yang juga menderita gangguan hoarding disorder.

  • Mengalami peristiwa traumatis seperti ditinggal orang yang dicintai, kematian, perceraian, atau peristiwa lainnya.

  • Adanya kebiasaan memberi barang impulsif.

  • Pernah mengalami cedera otak sehingga memiliki gangguan kognitif.

  • Pernah mengalami kesulitan ekonomi.

  • Pernah mengalami kehilangan harta benda akibat bencana alam.

  • Adanya gangguan penggunaan zat atau gangguan alkohol.

Baca Juga: Pengertian Strategi Coping Stress dalam Psikologi

Gejala Hoarding Disorder

ilustrasi gejala hoarding disorder. Foto: unsplash.com.

Gejala gangguan mental hoarding disorder umumnya diawali dengan kesulitan untuk membuang atau menjauhkan benda-benda yang dimiliki.

Hal ini disebabkan oleh keinginan kuat untuk menyimpan barang tersebut. Penderita akan merasa stres ketika harus membuang barang-barang tersebut.

Menyadur laman Health Direct Government Australia, tingkat gejala hoarding disorder diklasifikasikan menjadi lima tingkat keseriusan. Tingkatan ini diurutkan berdasar gejala yang dialami oleh penderita. Berikut tingkatannya.

1. Tingkatan Pertama

Ini merupakan tingkatan paling rendah dari gejala hoarding disorder. Pada tingkatan ini, tempat tinggal dari penderita terdapat:

  • Sedikit kekacauan atau berantakan namun masih terbilang rendah serta tidak ada bau yang terdeteksi.

  • Seluruh pintu atau akses jalan serta tangga masih dapat diakses.

  • Kotoran tidak memenuhi lebih dari tiga ruangan.

2. Tingkatan Kedua

Seseorang yang mengidap hoarding disorder pada level ini memiliki tempat tinggal yang akses jalannya sudah terhalangi oleh barang-barang yang tak memiliki nilai atau fungsi.

Pada tingkat ini, kamar yang berantakan tidak hanya satu, tapi dua atau lebih. Gejala lainnya, yaitu:

  • Adanya bau dari hewan peliharaan atau binatang lainnya yang mulai muncul.

  • Adanya limbah atau kotoran hewan yang berceceran di lantai.

  • Tempat sampah yang meluap.

  • Permukaan wadah makanan yang kotor dan tidak dibersihkan.

Umumnya, penderita dengan gejala tingkat ini akan malu apabila mengundang teman atau kerabat ke rumah karena kondisi tempat tinggal.

Lambat laun, kondisi tersebut bisa menjadi penyebab anxiety atau kecemasan hingga depresi yang menyebabkan penderita menarik diri dari lingkungan.

3. Tingkatan Ketiga

Pada level ini, kondisi rumah yang berantakan dapat terlihat dari luar rumah. Selain itu, ada perabotan rumah tangga yang sudah rusak selama enam bulan lebih serta satu area dalam rumah yang memiliki kerusakan ringan. Karakteristik lainnya, yaitu:

  • Terdapat jejak atau kotoran dari binatang hewan pengerat seperti tikus atau hama lain seperti kecoak, kutu kasur, laba-laba beserta sarangnya.

  • Ada kamar tidur atau kamar mandi yang tidak dapat digunakan.

  • Ada cairan atau zat berbahaya yang berceceran di lantai.

  • Ada penumpukan debu yang berlebih, tumpukan baju, handuk, sprei atau kain sejenis yang kotor.

  • Adanya kabel-kabel yang kusut dalam jumlah yang banyak.

  • Tempat sampah penuh dan berceceran keluar.

  • Bau tidak sedap yang memenuhi rumah.

Pada tingkat ini, penderita akan tersinggung dan marah apabila ada orang baik teman atau keluarga yang menyinggung mengenai gaya hidup atau barang-barangnya.

4. Tingkat Keempat

Pada level ini, tempat tinggal penderita dipenuhi jamur yang terlihat di seluruh ruangan. Selain itu, kamar tidur tidak bisa digunakan, adanya bekas makanan atau makanan busuk yang bercecer di lantai. Gejala lainnya, yaitu:

  • Tidak ada peralatan makan seperti piring, gelas, atau sendok yang bersih.

  • Tempat tidur dipenuhi kutu atau tungau dan serangga lainnya.

  • Banyak sarang laba-laba di sudut rumah.

  • Ada hewan pengerat seperti kelelawar yang tinggal di atap dan tikus bebas berkeliaran.

5. Tingkat Kelima

Ini merupakan tingkatan paling parah, sehingga tempat tinggal penderita rawan kebakaran dan terdapat hewan-hewan yang bukan hewan peliharaan berkeliaran secara bebas. Karakteristik lainnya, yaitu:

  • Kamar mandi dan dapur sangat berantakan

  • Kotoran manusia terlihat sangat jelas dan berceceran di mana-mana

  • Terdapat makanan busuk yang memenuhi lantai serta di dalam kulkas yang tidak berfungsi

Pengidap hoarding disorder dengan tingkatan ini biasanya tidak tinggal di rumahnya, melainkan menumpang di rumah teman atau kerabat. Penderita dengan tingkatan ini biasanya memiliki gejala depresi yang sangat jelas.

Pengobatan Hoarding Disorder

ilustrasi pengobatan hoarding disorder. Foto; shutterstock.com.

Penderita hoarding disorder umumnya jarang memeriksakan diri karena merasa tidak ada yang salah atu janggal dengan perilakunya. Jika keluarga atau orang terdekat Anda menunjukkan gejala di atas, ajaklah mereka untuk berkonsultasi ke psikiater atau psikolog.

Mengutip laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, untuk mendiagnosis gangguan mental ini, para ahli menggunakan metode Diagnostic and Statictical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Jika positif mengidap gangguan ini, penderita hoarding disorder dapat diatasi dengan psikoterapi dan pemberian obat-obatan. Psikoterapi adalah pelatihan pada pasien untuk menahan keinginan menimbun barang dan membuang barang-barang yang ditumpuk.

Terapi ini dapat melibatkan anggota keluarga atau orang yang tinggal serumah dengan penderita. Sementara obat-obatan yang biasanya diresepkan adalah jenis anti-depresan, seperti Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI).

Selain menjalani pengobatan, penderita dapat melakukan langkah-langkah di bawah ini untuk membantu proses pemulihan:

  • Mengelompokkan barang-barang yang disimpan, dibuang, daur ulang, dan disumbangkan.

  • Buang benda yang menumpuk secara perlahan tiap hari, misalnya 5 benda sehari.

  • Bersihkan maksimal satu ruangan tiap hari atau minggu.

  • Menyumbangkan barang yang layak pakai pada orang yang membutuhkan.

  • Letakkan tempat sampah di setiap ruangan seperti kamar, ruang tamu, dan dapur.

  • Tarik napas dalam ketika merasa tidak nyaman dan tegang.

(IPT)