Konten dari Pengguna

Mengenal Apa Itu Rebo Wekasan, Tradisi Islam Khas Nusantara

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi apa itu rebo wekasan. Foto: pexels.com.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi apa itu rebo wekasan. Foto: pexels.com.

Daftar isi

Rebo Wekasan menjadi salah satu tradisi khas Islam Nusantara yang masih Lestari hingga sekarang. Lalu sebenarnya apa itu Rebo Wekasan?

Artikel ini akan mengungkap apa itu Rebo Wekasan sebagai tradisi Islam khas nusantara, dan bagaimana asal-usulnya. Simaklah penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Apa Itu Rebo Wekasan?

Among-among Budaya Memaknai Bencana Melalui Perspektif Budaya: Pengetan Rebo Wekasan dari sisi tradisi, sejarah, dan upaya pengurangan risiko bencana di Balairung UGM, Selasa (20/9/2022). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Di pulau Jawa, ritual Rebo Wekasan adalah sebuah tradisi ritual tolak bala. Penyebutan Rebo Wekasan berbeda-beda di tiap daerah. Ada yang menyebut Rebo Kasan, Rebo Pungkasan, hingga Arba Mustakmir.

Di daerah Pati dan Kudus, tradisi ini sangat dinanti karena diyakini menjadi hari Rabu akhir atau pungkasan di bulan Safar pada kalender Jawa. Selain di wilayah Pantura Timur, tradisi Rebo Wekasan juga dilakukan di luar Jawa, seperti Aceh, Kalimantan, dan Maluku.

Tradisi Rebo Wekasan adalah hari yang tidak tergantung pada hari pasaran dan neptu untuk melakukan suatu upacara adat di Jawa. Menyadur buku Warisan Ulama Nusantara karya Ainun Lathifah, Rebo Wekasan biasanya diisi dengan berbagai ritual keagamaan.

Mulai dari puasa sunnah, sholat sunnah, pembacaan doa, pembacaan ayat Al Quran, pembacaan Barzaji, serta pembacaan tahlil dan dzikir. Mengenai tradisi ini, banyak mitos atau keyakinan yang beredar di masyarakat bahwa pada hari tersebut dihubungkan dengan malapetaka dan bencana.

Oleh karena itu, pada hari tersebut masyarakat yang percaya tentang mitos itu melakukan ritual keagamaan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Ritual ini banyak menuai pro-kontra dari berbagai kalangan karena dianggap tidak ada dalil khususnya. Lalu bagaimana asal-asul ritual Rebo Wekasan tersebut? Berikut penjelasan lengkapnya.

Baca Juga: Tata Cara Sholat dan Puasa Rebo Wekasan dalam Tradisi Jawa

Asal Usul Rebo Wekasan

Ilustrasi asal-usul rebo wekasan. Foto: unsplash.com.

Dijelaskan dalam buku Amalan Sholat Rebo Wekasan terbitan Ulin Nuha Mahali, asal-usul tradisi Rebo Wekasan dilatarbelakangi pendapat Abdul Hamids Quds dalam kitab Kanzun najah wa Surur fi Fadhail asl Azminah wa Shhuhur.

Dalam kitab itu dijelaskan bahwa Allah menurunkan 320.000 macam bala’ atau bencana ke bumi. Pada hari tersebut dianggap sebagai hari yang terberat sepanjang tahun.

Jadi, siapa saja yang melakukan sholat 4 rakaat, dimana setiap rakaat setelah surat Al Fatihah membaca surat Al Kautsar 17 kali, lalu surat Al Ikhlas 5 kali.

Kemudian dilanjutkan membaca surat Al Falaq dan surat An-Naas masing-masing sekali. Setelah salam membaca doa, maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjaga orang tersebut dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun.

Selain mitos tersebut, tradisi Rebo Wekasan konon diawali pada tahun 1602. Pada tahun tersebut beredar kabar rencana penjajahan Belanda di Jawa.

Setelah itu, masyarakat yang masih mempercayai animisme dan dinamisme melaksanakan serangkaian ritual untuk menolak kedatangan penjajah.

Ritual tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi Rebo Wekasan. Sejak saat itu, tradisi Rebo Wekasan menjadi salah satu perantara untuk mendekatkan diri pada Allah untuk menolak musibah dengan dan tujuan bukan untuk menyekutukan Allah.

Tradisi ini menjadi wujud sebagai alkulturasi Budaya Jawa. Wali Songo berperan dalam mengembangkan tradisi tersebut.

Umumnya, daerah yang mengenal dan melakukan tradisi ini adalah daerah pesisiran yang dikenal lebih dulu, kuat, dan kosmpolit keislamannya dibanding daerah pedalaman Jawa.

Tradisi Rebo Wekasan di berbagai daerah

Tradisi Rebo Wekasan di Gresik, Jawa Timur. Sumber: https://disparbud.gresikkab.go.id/

Amalan tradisi Rebo Wekasan dilakukan dengan cara yang berbeda-beda di berbagai daerah Indonesia. Berikut ini beberapa daerah yang masih menjalankan tradisi Rebo Wekasan setiap tahun.

1. Pati, Kudus, dan Sekitarnya

Sebagai salah satu wujud tolak bala pada segala musibah, masyarakat Pati, Kudus, dan sekitarnya melakukan sholat sunnah, doa, dan tahlilan bersama di mushola dan masjid.

Tujuannya untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa dan menolak musibah.

2. Temanggung

Masyarakat daerah Temanggung melakukan tradisi Rebo Wekasan dengan mujahadah dan tahlil bersama usai sholat Maghrib di mushola atau masjid. Beberapa masyarakat ada yang sholat sendiri dan melakukan ritualnya sendiri di rumah masing-masing.

3. Jember

Masyarakat Jember melakukan tradisi Rebo Wekasan dengan melakukan sholat sunnah bersama di rumah masing-masing atau beberapa masyarakat memutuskan untuk melakukan pengobatan dengan datang ke kiai sebagai wasilah dengan perantara ayat Alquran.

4. Wonokromo, Yogyakarta

Masyarakat Wonokromo, Bantul Yogyakarta melakukan tradisi Rebo Wekasan dengan melakukan upacara adat. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan yang Maha Kuasa. Namun, tradisi Rebo Wekasan di daerah ini memiliki mitos tersendiri.

Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, mitosnya hari Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari pertemuan antara Sri Sultan Hambengkubuwono (HB) I dengan Mbah Kiai Faqih Usman.

Mbah Kiai Faqih Usman dikenal bisa menyembuhkan segala penyakit dan dapat memberikan berkah untuk kesuksesan usaha atau untuk tujuan-tujuan tertentu. Dahulu, upacara Rebo Pungkasan berada di tempuran Kali Opak dan Gajahwong.

Namun, kemudian dipindahkan ke Lapangan Wonokromo yang terletak di depan Balai Desa Wonokromo. Puncak acara Rebo Wekasan di Wonokromo dilakukan pada malam Rabu dengan mengarak lemper raksasa yang selanjutnya dibagi-bagikan kepada para pengunjung.

5. Aceh

Masyarakat Aceh Barat dan Aceh Selatan mengenal tradisi Rebo Wekasan dengan nama Rabu Abeh. Tradisi ini dilakukan dengan memotong kerbau dan kepalanya ke laut.

Tradisi ini bertujuan untuk menolak atau bencana. Namun, saat ini tradisi tersebut diganti dengan pembacaan sholawat, zikir, dan doa.

6. Banten

Di Banten, tradisi Rebo Wekasan dinamakan Dudus atau mandi kembang tujuh rupa yang sudah ada sejak masa Kesultanan Banten. Tradisi tersebut diikuti dengan sedekah Bumi pada Rabu terakhir di bulan Safar.

Sebelum tradisi Dudus dilakukan, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan sholat dan riungan dengan tujuan memohon panjang umur, sehat, banyak rezeki, terhindar dari bahaya, dekat jodoh, dan lain sebagainya kepada Allah SWT.

7. Banyuwangi

Masyarakat Banyuwangi merayakan tradisi Rebo Wekasan dengan tradisi Petik Laut. Tradisi ini dilaksanakan dengan cara menggelar doa bersama yang diikuti dengan ritual larung sesaji yang diletakkan dalam sebuah kapal kecil ke tengah laut. Tradisi ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai cara untuk menolak musibah.

8. Gresik

Masyarakat Gresik khususnya Desa Suci, Kecamatan Manyar masih mempertahankan tradisi Rebo Wekasan hingga saat ini. Tradisi ini dilakukan dengan melakukan sedekah bumi berupa kegiatan doa bersama dan selamatan. Tradisi ini dilakukan di sekitar Telaga Suci atau sedang dekat Masjid Mambaul Thoat.

9. Kalimantan Selatan

Masyarakat Kalimat Selatan mengenal tradisi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar sebagai Arba Mustamir. Ini merupakan kalimat bahasa Arab yang artinya Rabu berkelanjutan.

Tradisi ini dilaksanakan dengan berbagai cara, mulai dari pelaksanaan sholat sunaah hingga membaca ayat suci Alquran dan doa-doa secara berjamaah.

10. Maluku Tengah

Masyarakat Maluku Tengah khususnya warga di Negeri Hitu Lama merayakan tradisi Rebo Wekasan dengan ritual Mandi Safar. Ritual tersebut dipercaya mendatangkan keselamatan dan menghindarkan dari marabahaya atau musibah.

Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun silam. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa rangkaian acara, seperti doa bersama, membuat panganan berupa lamet, dan ditutup dengan pelaksanaan mandi di pantai.

(IPT)