Musyafahah Artinya Apa? Simak Penjelasan, Keunggulan, dan Kelemahannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Musyafahah artinya metode belajar Al-Quran yang mensyaratkan perjumpaan langsung antara murid dengan guru. Hal ini karena murid harus mengikuti gerak mulut yang dicontohkan guru secara langsung.
Metode ini dilakukan dengan cara guru membacakan ayat dari Al-Quran kemudian murid menirukan bacaan tersebut. Selain itu, musyafahah juga dapat dilakukan dengan murid menyetorkan bacaan Al-Quran di hadapan guru langsung.
Metode pengajaran Al-Quran ini mengikuti tradisi Rasulullah SAW dan para sahabat. Simak artikel ini untuk mengetahui musyafahah artinya apa.
Musyafahah Artinya Apa?
Mengutip karya ilmiah berjudul Penerapan Metode Musyafahah dalam Meningkatkan Kefasihan Membaca Al-Qur’an di MA NU 3 Ittihad Bahari Bonang Demak Tahun Pelajaran 2020/2021 oleh Ainun Najib, IAIN KUDUS, menurut kamus bahasa Arab, musyafahah artinya berbicara dari mulut ke mulut atau dialog.
Sementara itu, menurut istilah, musyafahah artinya peserta didik menerima pengajaran melalui pengucapan guru dengan melihat gerak bibir guru dan meniru yang diucapkan guru tersebut.
Sehingga musyafahah dapat disebut dengan pertemuan antara guru dan peserta didik secara langsung atau tatap muka pada suatu tempat dan waktu yang tertentu. Selama pertemuan tersebut, peserta didik belajar bagaimana cara membaca Al-Quran dari melihat gerak bibir guru dan mengikutinya.
Kemudian, guru dapat mendengar atau menyimak bacaan dari peserta didik apakah sudah benar atau masih terdapat kesalahan. Nantinya, apabila terdapat kesalahan, guru dapat segera memberi contoh bacaan yang benar.
Musyafahah juga disebut dengan talaqqi. Metode pembelajaran ini dilakukan dalam posisi duduk dengan tenang dan nyaman. Guru juga akan mengajarkan peserta didik sampai benar, beberapa bahkan sampai mengulang-ulang.
Tujuan dari metode pembelajaran Al-Quran ini tentunya agar peserta didik dapat melafalkan bacaan Al-Quran dengan benar dan tepat.
Baca Juga: Bacaan Gharib dalam Al-Qur'an dan Jenisnya
Dalil Musyafahah
Setiap umat Islam dianjurkan untuk belajar Al-Quran. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW berikut:
"Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Quran." (HR Al-Bukhari)
Ada beberapa metode belajar Al-Quran, salah satunya musyafahah. Menyadur situs fai.unissula.ac.id, metode pembelajaran musyafafah berlandaskan dari Al-Quran surat Al-Qiyamah ayat 16, berikut isinya.
لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ ١٦
Artinya: "Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya." (QS Al-Qiyamah: 16)
Ayat tersebut mengajarkan Nabi Muhammad SAW tentang cara mengikuti wahyu dalam membaca Al-Quran. Allah SWT menyerukan agar Nabi Muhammad SAW untuk tak membaca Al-Quran sebelum Jibril selesai membacakannya terlebih dahulu hingga selesai.
Dengan demikian, ayat tersebut menunjukkan bahwa musyafahah sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW menerima wahyu. Bahkan, musyafahah langsung diperintahkan oleh Allah SWT. Ayat tersebut juga menegaskan keistimewaan tradisi Islam dalam mempelajari Al-Quran.
Ciri-ciri Musyafahah
Merangkum karya ilmiah berjudul Penerapan Metode Musyafahah dalam Meningkatkan Kefasihan Membaca Al-Qur’an di MA NU 3 Ittihad Bahari Bonang Demak Tahun Pelajaran 2020/2021 oleh Ainun Najib, IAIN KUDUS, berikut ciri-ciri pelaksanaan metode musyafahah:
Peninggalan langsung dari Rasulullah SAW kepada para sahabat, kemudian para sahabat kepada tabi'in, dan seterusnya hingga para ulama kepada murid-muridnya.
Dilaksanakan oleh guru yang ahli di bidang Al-Quran.
Dilaksanakan dalam sebuah kelas atau ruang belajar secara langsung dan bertatap muka antara guru dan murid.
Tanpa ada perantara apapun antara guru dan murid saat membaca Al-Quran, artinya guru dan murid dalam posisi berhadapan selama pembelajaran.
Metode yang paling mudah diterima semua kalangan dan paling lengkap dalam mengajarkan cara membaca Al-Quran yang benar.
Metode dilakukan dengan membaca gerak bibir guru untuk mengetahui bagaimana cara mengucapkan huruf-huruf Al-Quran dengan benar.
Saat menyetor bacaan apakah sudah betul atau belum, murid maju ke depan satu persatu di hadapan guru.
Unsur-unsur Musyafahah
Berdasarkan karya ilmiah bertajuk Penerapan Metode Musyafahah dalam Meningkatkan Kefasihan Membaca Al-Qur’an di MA NU 3 Ittihad Bahari Bonang Demak Tahun Pelajaran 2020/2021 oleh Ainun Najib, IAIN KUDUS, berikut unsur-unsur musyafahah:
Metode musyafahah harus ada guru dan murid. Guru di sini adalah orang yang ahli di bidang Al-Quran.
Murid atau peserta didik yang ikut dalam pengajaran musyafahah harus benar-benar serius ingin belajar membaca dan menghafal Al-Quran.
Peserta didik dan guru harus berhadapan selama proses pembelajaran.
Saat memberikan hafalan baru, guru akan membaca ayat Al-Quran di depan peserta didik secara langsung.
Apabila murid melakukan kesalahan saat menirukan bacaan Al-Quran dari guru, seperti pelafalan huruf-huruf, makharijul al-huruf, waqaf, dan lainnya, guru akan membacakan ulang di depan murid dan membetulkan langsung.
Langkah-langkah Mempelajari Al-Quran dengan Metode Musyafahah
Terdapat sederet langkah-langkah dalam mempelajari Al-Quran menggunakan metode musyafahah. Dikutip dari artikel ilmiah Metode Musyafahah Sebagai Solusi Mempermudah Anak Usia Dini Menghafal Surat Pendek oleh Nikmatus Sholihah dan Nia Indah Purnamasari, STAI YPBWI Surabaya, berikut langkah-langkahnya:
Guru memanggil siswa yang akan menghafal atau belajar Al-Quran.
Siswa duduk di hadapan guru.
Guru membacakan surat pendek per ayat di hadapan siswa dengan benar dan jelas.
Siswa mendengarkan bacaan ayat pendek yang dilafalkan guru.
Guru meminta membacakan kembali ayat yang sudah dilafalkan.
Siswa menirukan bacaan tersebut di depan guru.
Guru mengoreksi bacaan siswa, apabila ada kesalahan langsung segera diperbaiki.
Keunggulan Metode Musyafahah
Masih dikutip dari artikel ilmiah Metode Musyafahah Sebagai Solusi Mempermudah Anak Usia Dini Menghafal Surat Pendek oleh Nikmatus Sholihah dan Nia Indah Purnamasari, STAI YPBWI Surabaya, di bawah ini adalah beberapa keunggulan metode musyafahah:
Menumbuhkan kedekatan antara guru dan murid, sehingga secara emosional akan menciptakan hubungan yang harmonis.
Guru dapat membimbing murid yang ingin belajar Al-Quran secara berkesinambungan. Selain itu, guru juga bisa memahami dengan baik masing-masing karakter anak muridnya.
Guru bisa langsung mengoreksi bacaan anak agar tak salah dalam membunyikan huruf-huruf Al-Quran.
Murid dapat melihat langsung gerakan bibir dari guru dalam mengucapkan huruf Al-Quran secara tepat.
Kelemahan Metode Musyafahah
Selain memiliki keunggulan, metode musyafahah juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
Metode musyafahah dinilai kurang efektif saat diterapkan pada kelas yang jumlah muridnya sangat banyak.
Murid akan merasa bosan saat menunggu giliran. Sebab, guru menguji bacaan atau hafalan murid satu per satu.
Waktu yang dibutuhkan cukup banyak, terutama jika jumlah murid sangat banyak dan guru sedikit.
Tingkatan Pembelajaran Al-Quran dengan Metode Musyafahah
Menurut karya ilmiah berjudul Penerapan Metode Musyafahah dalam Meningkatkan Kefasihan Membaca Al-Qur’an di MA NU 3 Ittihad Bahari Bonang Demak Tahun Pelajaran 2020/2021 oleh Ainun Najib, IAIN KUDUS, ada tiga tingkatan musyafahah. Berikut penjelasannya:
1. Pemula (Mubtadiin)
Tingkatan pertama adalah untuk peserta didik yang belum mengenal dan belum pernah mempelajari huruf Arab (hijaiyah). Tingkatan pemula ini disebut dengan mubtadiin dan tidak terikat usia.
Pada tingkatan ini, murid akan diajarkan membaca (qiraah) huruf dan kata bahasa Arab. Selain itu, murid juga belajar menulis (kitabah). Kedua kemampuan tersebut adalah bagian dari maharah lughah atau kemampuan bahasa yang tak dapat dipisahkan dalam pembelajaran Al-Quran.
2. Menengah (Mutawassithin)
Setelah murid mengenal huruf-huruf Arab dengan baik, serta bisa membacanya meskipun belum lancar, murid akan masuk ke tingkatan musyafahah menengah atau disebut juga mutawassithin.
Pada tingkatan ini, murid dilatih artikulasi atau pengucapan dengan benar, terutama makharijul al-huruf dan sifat-sifatnya. Murid juga dikenalkan beberapa hukum dasar tajwid.
Selain itu, di tingkat menengah, murid akan disuruh untuk membaca pelan-pelan dan bersungguh-sungguh. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan tiap hurufnya agar pelafalannya menjadi jelas dan benar. Bacaan tartil di tahapan ini bertujuan agar dapat melatih lisan murid, meluruskan pelafalan, dan bacaan menjadi lebih fasih.
Tahap menengah adalah yang paling penting dalam pembelajaran Al-Quran. Tahap ini sebaiknya diterapkan sejak dini untuk menghindari kesalahan.
3. Lanjutan (Mutaqaddimin)
Tingkat terakhir adalah tingkat lanjutan atau mutaqaddimin. Ini adalah tingkatan untuk murid yang sudah fasih membaca Al-Quran serta bacaannya tak miring. Murid juga telah mampu mempraktikkan dengan baik bacaan Al-Quran.
Meskipun murid sudah fasih membaca Al-Quran, tingkatan ini tetap penting diberikan. Tujuan dari tingkat lanjutan adalah untuk memperbaiki bacaan Al-Quran dan mempraktikkan teori dari hukum-hukum tajwid di depan guru langsung.
(NSF)
