Konten dari Pengguna

Novel Terakhir Keigo Higashino, Karya Terbaru Sang Penulis Misteri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi novel terakhir Keigo Higashino. Foto: Unsplash.com/Nathan Aguirre
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi novel terakhir Keigo Higashino. Foto: Unsplash.com/Nathan Aguirre

Novel terakhir Keigo Higashino menjadi penutup perjalanan panjang seorang penulis misteri Jepang yang telah menghasilkan karya berpengaruh selama empat dekade.

Kepergiannya meninggalkan jejak mendalam melalui puluhan novel yang memadukan misteri, logika, dan sisi emosional manusia dalam satu cerita utuh.

Riwayat kariernya juga memperlihatkan perkembangan luar biasa sejak masa awal sebagai insinyur hingga menjadi salah satu novelis Jepang dengan pembaca lintas negara.

Novel Terakhir Keigo Higashino Sebelum Wafat

Ilustrasi novel terakhir Keigo Higashino. Foto: Unsplash.com/Jose Pablo Garcia

Dikutip dari asiae.co.kr, novel terakhir Keigo Higashino adalah Eternal Memory, novel panjang ke-11 dalam seri Galileo yang dijadwalkan terbit pada 5 Agustus bertepatan dengan peringatan 30 tahun seri tersebut.

Karya ini menjadi buku ke-106 yang diterbitkan sepanjang kariernya sekaligus karya baru terakhir dengan jadwal penerbitan yang telah dipastikan semasa hidupnya.

Keigo Higashino meninggal dunia pada usia 68 tahun akibat kanker usus besar. Penerbit Kodansha mengumumkan bahwa ia wafat pada dini hari tanggal 23 Juli 2026, sedangkan kabar tersebut disampaikan kepada publik beberapa hari kemudian.

Prosesi pemakaman berlangsung secara tertutup bersama keluarga, sementara keluarga juga memutuskan untuk tidak menerima uang belasungkawa, karangan bunga, maupun telegram duka.

Lahir di Osaka pada tahun 1958, Higashino menempuh pendidikan di Jurusan Teknik Elektro Universitas Prefektur Osaka. Setelah lulus, ia bekerja sebagai insinyur pada perusahaan suku cadang otomotif.

Minatnya terhadap dunia sastra terus berkembang di sela pekerjaan hingga akhirnya berhasil meraih Penghargaan Edogawa Rampo pada tahun 1985 lewat novel After School, yang menjadi awal karier profesionalnya sebagai penulis.

Sejak debut tersebut, gaya penulisannya berkembang dengan ciri khas yang memadukan teka-teki ilmiah, psikologi tokoh, konflik keluarga, rasa bersalah, hingga pencarian penebusan.

Perpaduan itu membuat cerita misterinya tidak hanya berfokus pada pelaku kejahatan, tetapi juga mengupas alasan, emosi, dan hubungan antarmanusia secara mendalam.

Perjalanan kariernya dipenuhi berbagai penghargaan bergengsi. Novel Secret membawanya meraih Mystery Writers of Japan Award pada 1999.

Kesuksesan berikutnya datang melalui The Devotion of Suspect X, yang memenangkan Naoki Prize dan Honkaku Mystery Award pada 2006.

Karya The Curtain of Prayer Falls kemudian memperoleh Yoshikawa Eiji Prize for Literature, sedangkan pemerintah Jepang menganugerahinya Medal with Purple Ribbon pada 2023 sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya di bidang sastra.

Dua seri paling terkenal ciptaannya ialah Galileo, yang mengikuti kisah fisikawan jenius Manabu Yukawa, serta Detective Kaga, yang berpusat pada penyelidikan Detektif Kyoichiro Kaga.

Kedua seri tersebut dikenal karena penyelesaian kasus yang logis, tokoh yang kuat, dan konflik emosional yang tetap terasa hingga akhir cerita.

Sejumlah novel lain juga memperoleh adaptasi ke film maupun drama televisi. Judul seperti Journey Under the Midnight Sun, Shinzanmono, The Connections of Shooting Stars, dan Masquerade Hotel ikut memperluas jangkauan pembaca sekaligus memperkenalkan karya Higashino kepada penonton dari berbagai kalangan.

Popularitasnya tidak hanya besar di Jepang. Buku-bukunya telah diterbitkan di 41 negara dan wilayah dengan total penjualan di Jepang melampaui 100 juta eksemplar.

Di Korea Selatan, The Miracles of the Namiya General Store menjadi fenomena tersendiri setelah terbit pada 2012.

Penjualannya menembus satu juta eksemplar pada 2018 dan bertahan sebagai buku terlaris dalam daftar keseluruhan Kyobo Book Centre selama lima tahun berturut-turut.

Selama sekitar 40 tahun berkarya, Higashino menerbitkan 106 buku di luar karya kolaborasi. Jumlah tersebut menunjukkan produktivitas yang luar biasa sekaligus konsistensinya dalam menjaga kualitas cerita.

Setiap novel memiliki karakter, konflik, dan pendekatan berbeda meski tetap mempertahankan identitas khas yang membuat namanya dikenal luas oleh pembaca misteri di berbagai belahan dunia.

Eternal Memory memiliki arti khusus karena bukan sekadar lanjutan seri Galileo. Novel itu menjadi penutup perjalanan kreatif seorang penulis yang berhasil mengubah cara pembaca menikmati kisah misteri melalui perpaduan logika, ilmu pengetahuan, dan pergulatan batin tokoh-tokohnya.

Posisi tersebut menjadikannya salah satu karya yang memiliki nilai emosional tinggi bagi pembaca setia maupun pencinta sastra Jepang.

Warisan sastra yang ditinggalkan terus hidup melalui ratusan tokoh, puluhan cerita, serta berbagai adaptasi yang masih dinikmati hingga kini.

Novel terakhir Keigo Higashino menjadi penanda akhir perjalanan seorang penulis besar yang meninggalkan pengaruh panjang dalam dunia sastra misteri modern. (Khoirul)

Baca Juga: Phoenix Anime Store, Surga untuk Pencinta Komik dan Novel