Nyadran Gunung Silurah: Sejarah dan Rangkaian Upacara Adatnya

Kabar Harian
Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
Konten dari Pengguna
10 Oktober 2023 9:36 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi tradisi Nyadran Gunung Silurah. Foto: Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tradisi Nyadran Gunung Silurah. Foto: Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI
ADVERTISEMENT
Nyadran Gunung Silurah adalah sebuah tradisi keagamaan di Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, yang telah dilaksanakan selama berabad-abad. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati roh leluhur dan menghindari malapetaka.
ADVERTISEMENT
Nyadran Gunung Silurah bukan hanya sekadar ritual adat, tetapi merupakan warisan budaya yang sangat dihargai dan dilestarikan oleh warga setempat. Lantas, seperti apa tradisi yang dilakukan warga Silurah ini?

Sejarah Tradisi Nyadran Gunung Silurah

Ilustrasi tradisi Nyadran Gunung Silurah. Foto: Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI
Sejarah tradisi Nyadran Gunung Silurah diyakini berawal dari musibah yang terjadi di Desa Silurah, Kabupaten Batang sekitar 500 tahun lalu. Tradisi ini lahir sebagai upaya untuk mengatasi musibah tersebut.
Pemimpin adat saat itu mendapat petunjuk dalam mimpi untuk melakukan serangkaian ritual agar penyakit dan malapetaka yang melanda Desa Silurah segera sirna.
Sejak itu, Nyadran Gunung Silurah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Silurah. Upacara ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan yang diberikan oleh Tuhan, dan sebagai bentuk tawakal kepada-Nya dalam menjalani kehidupan.
ADVERTISEMENT
Mengutip laman Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, tradisi Nyadran Gunung Silurah dilaksanakan mengikuti kalender Hijriyah, tepatnya pada malam Jumat Kliwon di bulan Jumadil Awal.
Rangkaian upacara adat ini digelar selama beberapa hari sebagai upaya agar kehidupan masyarat desa tetap sejahtera dan terhindar dari malapetaka.

Rangkaian Upacara Nyadran Gunung Silurah

Ilustrasi warga Desa Silurah yang berkumpul untuk mengikuti Nyadran Gunung Silurah. Foto: Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI
Tradisi Nyadran Gunung Silurah memiliki rangkaian upacara yang terdiri atas beberapa tahapan. Berikut rangkaian upacara Nyadran Gunung Silurah seperti yang dikutip dari berbagai sumber.

1. Tasyakuran Malam Jumat

Pada malam Jumat Kliwon di bulan Jumadil Awal, seluruh warga desa berkumpul dengan menggunakan pakaian adat setempat. Mereka melakukan ider-ider desa atau mengelilingi desa sambil memanjatkan doa.

2. Pemotongan Kambing Kendit

Keesokan harinya, tokoh adat Desa Silurah memotong kambing kendit. Kambing ini memiliki ciri khas berbulu hitam dengan beberapa bagian tubuh yang berwarna putih. Pemotongan ini biasanya dilakukan di lereng Gunung Rogo Kusumo.
ADVERTISEMENT
Dalam tradisi ini, pemotongan kambing kendit dilakukan setiap tahun dan setiap tujuh tahun sekali dilakukan pemotongan kebo bule.

3. Sesaji dan Doa

Daging kambing yang telah dipotong sebagian dijadikan sesaji yang diletakkan di lima titik, termasuk di Watu Larangan (batu larangan). Daging yang lain dimasak dan dimakan bersama dengan tujuan mengumpulkan warga ini.
Selama prosesi ini, terdapat ritual khusus berupa memanjatkan doa bersama-sama dan menggunakan sesaji, seperti air enam rupa, panggang emas, degan hijau, kembang tujuh rupa, dan tumpeng yang serba hitam.

4. Ritual di Gunung

Setelah memotong kambing, sesepuh adat naik ke Gunung Rogo Kusumo diiringi dengan gending Jawa untuk mendoakan leluhur dan memohon keselamatan. Ada tempat-tempat tertentu di gunung ini yang disinggahi untuk berdoa.
ADVERTISEMENT

5. Kegiatan Kesenian

Selama perayaan Nyadran Gunung Silurah, terdapat beberapa pertunjukan kesenian yang ditampilkan, seperti ronggeng dan wayang kulit. Kegiatan ini bertujuan untuk menghibur dan melestarikan budaya setempat.
Itulah penjelasan mengenai tradisi Nyadran Gunung Silurah yang dilaksanakan oleh warga Desa Silurah. Warga desa percaya apabila upacara adat ini tidak dilakukan maka akan terjadi musibah pada desa mereka.
(SFR)