Konten dari Pengguna

Pengertian Kalbu Sesuai dengan Al-Quran sebagai Aspek Pertama Keimanan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pengertian Kalbu Sesuai dengan Al-Quran sebagai Aspek Pertama Keimanan. Unsplash.com/svklimkin
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pengertian Kalbu Sesuai dengan Al-Quran sebagai Aspek Pertama Keimanan. Unsplash.com/svklimkin

Aspek pertama dalam iman menurut hadits Nabi adalah kalbu. Pengertian kalbu yang sesuai dengan Al-Quran adalah dituangkan dalam beberapa firman Allah Swt. Dalam memahami aspek kalbu, hal ini berkaitan dengan aspek jiwa dan spiritual dalam diri seorang Muslim.

Dalam proses penciptaan manusia, Allah Swt membekali tubuh manusia dengan hal yang tampak secara lahir seperti indra manusia. Allah juga membekali dengan sesuatu yang tidak tampak seperti batin (kalbu).

Ilustrasi Pengertian Kalbu Sesuai dengan Al-Quran sebagai Aspek Pertama Keimanan. Unsplash.com/Ashkan Forouzani

Aspek pertama dalam iman menurut hadits Nabi adalah kalbu. Pengertian kalbu yang sesuai dengan Al-Quran, sebagai kitab suci umat Islam berikut ini:

Penyucian kalbu dalam Islam disebut dengan istilah tazkiyatun nafs. Di dalam Al-Quran, kata kalbu dan ruh digunakan untuk arti sukma atau jiwa. Allah Swt. berfirman:

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Artinya: Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun. (QS Al-Ma‘aarij/70: 4)

Apa yang dimaksud dengan ruh dalam ayat di atas adalah Malaikat Jibril yang disebutkan secara khusus karena keistimewaannya dibanding dengan malaikat-malaikat yang lain. Hal ini berkaitan dengan firman Allah dalam ayat berikut ini:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ۝٧ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ ۝٨ ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ ۝٩

Artinya: Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam tubuhnya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur. (QS As-Sajdah/32: 7-9)

Rūḥ Ilāhiah (min rūḥi) dalam ayat tersebut merupakan karunia Ilahi dan rancangan Allah bagi manusia. Dalam ayat tersebut dijelaskan adanya tingkat-tingkat perkembangan produksi dan reproduksi manusia

Pertama, manusia diciptakan dari tanah. Kedua, keturunannya diciptakan dari sari-pati cairan sperma dan ovum. Ketiga, bentuknya disempurnakan.

Keempat, di dalam diri manusia itu ditiupkan sesuatu dari Ruh Tuhan. Kelima, manusia dilengkapi dengan berbagai indra, baik yang lahir seperti pendengaran dan penglihatan, serta yang batin (kalbu).

Isyarat yang menyinggung unsur spiritual-ruhaniah manusia adalah qalb (kalbu), nafs, rūḥ, lubb, ‘aql (akal), fu’ād dan ṣadr.

Masing-masing unsur tersebut merupakan aspek-aspek dari substansi yang sama yang mungkin disebut jiwa manusia, sebagai antitesis dari raga dan tubuh.

Mengutip penjelasan Tafsir Al-Quran Tematik, Spiritualitas dan Akhlak, pustakalajnah.kemenag.go.id, Al-Ḥakim At-Tirmizī (w. 255 H.) menjelaskan pengertian kalbu (al-qalb) adalah suatu entitas batin yang sempurna dalam jiwa manusia.

Kalbu berfungsi untuk mencapai ma‘rifatullāh. Kalbu (qalb) mencakup segala macam daya batin yang dimiliki manusia untuk mencapai derajat muqarrabīn, yaitu orang-orang yang dekat dan menghayati secara sempurna makna keesaan Allah.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian kalbu sesuai dengan Al-Quran adalah entitas batin yang sempurna dalam jiwa manusia. Di dalam kalbu ada beberapa daya batin yang berfungsi untuk mencapai level ma‘rifatullāh. (Win)

Baca juga: Bagaimana Seorang Akuntan Manajemen Dapat Menjaga Moral dan Perilaku Etik?