Konten dari Pengguna

Pengertian Teks Anekdot, Struktur, hingga Contohnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pengertian teks anekdot. Foto: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengertian teks anekdot. Foto: unsplash

Daftar isi

Pengertian teks anekdot secara umum adalah karangan dalam bentuk teks yang digunakan untuk mengkritik atau menyindir dengan cara lucu. Tak hanya lucu, teks anekdot juga mengandung pesan moral dan ungkapan tentang suatu kebenaran secara umum.

Umumnya, anekdot diangkat dari kisah seorang tokoh masyarakat atau orang-orang terkenal. Kemudian, pelaku cerita, tempat, dan waktu kejadian peristiwa dalam teks anekdot adalah hasil rekaan.

Simak artikel ini untuk penjelasan tentang pengertian teks anekdot dan informasi lainnya.

Pengertian Teks Anekdot

Ilustrasi pengertian teks anekdot. Foto: pexels

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan. Umumnya, anekdot merupakan kisah dari orang penting atau terkenal serta berdasarkan kejadian yang sebenarnya.

Sementara itu, disadur dari Teks Anekdot, Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Teks Anekdot oleh Kabul Prasetya dan Dedi Wijayanti, beberapa ahli mendefinisikan teks anekdot dengan pengertian yang berbeda-beda.

Menurut Danandjaja (1997) anekdot adalah kisah fiktif lucu tentang kepribadian seorang tokoh atau beberapa tokoh yang benar-benar ada.

Lalu, Graham (2013), menyebutkan bahwa anekdot adalah teks yang digunakan untuk memaknai joke atau lelucon. Teks ini memiliki suatu makna narasi atau percakapan yang lucu atau humoris.

Sementara Wijana (1995), berpendapat bahwa teks anekdot adalah teks atau wacana yang bermuatan humor untuk menyindir, mengkritik secara tak langsung, atau bersenda gurau dalam segala macam kepincangan dan ketidakberesan yang terjadi di kalangan masyarakat.

Tujuan dari teks anekdot semata-mata bukan untuk lelucon saja, tetapi juga untuk mengungkapkan kebenaran da menggambarkan suatu tokoh. Terkadang, anekdot berisi sindiran dan kritikan untuk membuka pikiran pembaca.

Baca Juga: Teks Diskusi: Struktur, Jenis-Jenis, dan Contohnya

Struktur Teks Anekdot

Ilustrasi teks anekdot. Foto: Unsplash/Mel Poole

Teks anekdot memiliki struktur tersendiri. Disadur dari e-Modul Bahasa dan Sastra Indonesia terbitan Kemendikbud, struktur teks anekdot terdiri dari abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Berikut uraiannya:

1. Abstraksi

Teks anekdot diawali dengan abstraksi yang berisi uraian ringkas tentang objek yang akan diceritakan dalam teks tersebut.

2. Orientasi

Bagian orientasi dalam teks anekdot berisi pengenalan terhadap pelaku dan peristiwa yang akan dibahas.

3. Krisis

Kemudian, bagian krisis berisi tahapan peristiwa dan cerita yang mulai memuncak. Bagian ini hampir masuk ke penyelesaian.

4. Reaksi

Reaksi adalah jawaban dari permasalahan yang dijabarkan dalam bagian krisis. Bagian ini adalah inti kritik yang berisi unsur lucu dan mengesankan.

5. Koda

Koda merupakan penutup dari teks anekdot. Di bagian ini berisi penegasan tentang hal yang dikritik atau disindir.

Unsur Kebahasaan Teks Anekdot

Ilustrasi teks anekdot. Foto: pexels

Masih dikutip dari buku e-Modul Bahasa dan Sastra Indonesia terbitan Kemendikbud, berikut ini unsur kebahasaan yang khas pada teks anekdot.

  • Menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu.

  • Menggunakan kalimat retoris, yakni kalimat pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban.

  • Menggunakan konjungsi yang menyatakan hubungan waktu, seperti kemudian, lalu, dan lainnya.

  • Menggunakan kata kerja aksi, seperti menulis, membaca, dan berjalan.

  • Menggunakan kalimat perintah.

  • Menggunakan kalimat seru, terutama dalam kalimat langsung.

Ciri-Ciri Teks Anekdot

Ilustrasi teks anekdot. Foto: unsplash.com/Dariusz Sankowski

Teks anekdot memiliki ciri-ciri yang membedakan dengan jenis teks lainnya. Menyadur Teks Anekdot, Bahan Ajar Bahasa Indonesia Materi Teks Anekdot oleh Kabul Prasetya dan Dedi Wijayanti, berikut ciri-ciri dari teks anekdot.

  • Bersifat humor atau lelucon, artinya teks anekdot berisi bualan atau kisah-kisah lucu.

  • Bersifat menggelitik, artinya akan membuat pembaca merasa terhibur dengan kelucuan dalam teks anekdot.

  • Bersifat menyindir.

  • Biasanya mengisahkan orang penting atau terkenal.

  • Memiliki tujuan tertentu.

  • Disajikan hampir menyerupai dongeng.

  • Menceritakan manusia pada umumnya secara realistis.

Unsur-Unsur Teks Anekdot

Ilustrasi teks anekdot. Foto: pexels

Mengutip buku Bahasa Indonesia kelas X oleh Suherli, dkk., teks anekdot memiliki unsur ekstrinsik dan intrinsik. Berikut uraiannya:

1. Unsur intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun cerpen dari dalam, meliputi alur, tema, penokohan, sudut pandang, dan lainnya.

  • Tema: berisi gagasan umum yang menjadi dasar pengembangan seluruh cerita.

  • Alur atau plot: berisi urutan peristiwa yang disajikan dalam teks. Alur dalam teks anekdot disajikan dalam tiga jenis, yaitu maju, mundur, dan campuran.

  • Latar: keterangan tentang peristiwa yang terjadi dalam teks anekdot, mulai dari waktu, tempat, dan suasana.

  • Tokoh: pemain yang terlibat dalam teks anekdot. Dalam teks ini ada tokoh utama dan pendukung.

  • Watak: sifat tokoh dalam teks anekdot yang terdiri dari dua jenis, yaitu protagonis dan antagonis.

  • Sudut pandang: cara penulis menyampaikan cerita, dapat berupa sudut pandang orang pertama atau orang ketiga.

  • Amanat: pesan moral yang dapat dipelajari dalam teks anekdot.

2. Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang diambil dari luar cerita atau karya tulis, tetapi tetap mempengaruhi bentuk atau isi karya tersebut.

  • Latar belakang masyarakat: teks anekdot terinspirasi dari peristiwa yang ada di masyarakat, misalnya persoalan ekonomi, politik, dan lainnya.

  • Latar belakang pengarang: teks anekdot terinspirasi dari diri pengarang sendiri dan melibatkan emosi.

  • Nilai yang terkandung dalam teks: dapat berupa nilai moral, sosial, budaya, agama, dan lainnya.

Contoh Teks Anekdot

Ilustrasi teks anekdot. Foto: Pexels / Pixabay

Agar lebih mudah memahami teks anekdot, di bawah ini dibagikan beberapa contoh teks anekdot yang disadur dari buku Elemen-Elemen Multimedia untuk Pembelajaran oleh Yayasan Kita Menulis dan CCM: Cara Cepat Menguasai Bahasa Indonesia SMA/MA Kelas X, XI, XII oleh Tomi Rianto.

Contoh 1

Rokok

Di pagi hari, Andi berjalan menuju halte, di mana orang-orang ingin menunggu bus untuk pergi ke tempat kerjanya. Setelah sampai di halte, dia bertanya kepada seorang buruh pabrik yang sedang menunggu bus Kopaja sambil merokok.

Lalu Andi memulai percakapan, "haduh, tebal dan jorok sekali asap bus mayasari bakti." Lalu buruh pabrik itu merespons pernyataan Andi, "Iya nih... Asap kopaja juga tebal."

Lalu Andi membalas. "Bagaimana tanggapan anda jika melihat orang yang menyebabkan polusi lebih dari asap bus itu?" Buruh pabrik itu menjawab, "hajar aja tuh orang."

Lalu Andi menghajar Buruh pabrik itu. Setelah menghajar orang tersebut, Andi memberikan brosur kepada buruh itu. Lalu Andi berjalan tidak jauh dari halte itu, dan menemukan seorang karyawan swasta yang sedang merokok dan sedang menunggu bus juga.

Maka Andi memulai percakapan dengan orang tersebut, "haduh, tebal sekali asap kendaraan di Jakarta ini, padahal kendaraan di Jakarta sudah diwajibkan melakukan uji emisi.

Lalu karyawan swasta tersebut merespons, "Iya nih.. Pantas saja terjadi Global Warming" Andi pun bertanya kembali pada orang tersebut, "Bagaimana respons anda terhadap orang yang menyebabkan polusi lebih dari asap kendaraan?"

Sang karyawan swasta pun menjawab, "Kalo penyebabnya itu pabrik, bakar aja. Kalau penyebabnya manusia, tampar aja biar dia sadar." Lalu Andi menampari orang tersebut, dan memberi brosur kepada orang tersebut.

Contoh 2

Mencuri Sandal

Pada suatu pagi, Arya sedang asik makan soto di warung makan kesukaannya. Setelah kenyang, Arya bergegas untuk pulang.

Di tengah perjalanan pulang, Arya terserempet sepeda motor yang ugal-ugalan. Kecelakaan tersebut mengakibatkan sandalnya putus.

Dengan terpaksa, Arya berjalan kaki tanpa menggunakan sandal. Karena rumahnya jauh, ia memutuskan untuk pergi ke toko terdekat untuk membeli sandal. Akan tetapi, uangnya tidak mencukupi.

Karena uangnya tidak mencukupi, Arya pun mempunyai niat untuk mencuri sandal di masjid yang letaknya hanya beberapa meter dari toko tersebut. Arya hendak mengambil sandal terbaik yang ada di masjid itu.

Sambil duduk di teras masjid, ia memperhatikan setiap orang yang akan masuk ke masjid. Jadi, ketika targetnya sibuk beribadah, ia segera mengambil sandal tersebut.

Aksinya berjalan lancar, Arya berhasil mendapatkan sandal berwarna hitam yang merupakan sandal terbagus di masjid tersebut. Tidak diduga, sang pemilik sandal menyadari bahwa Arya telah mencuri sandalnya.

Pemilik sandal langsung teriak dan mengejar Arya. Perutnya yang buncit, membuat ia tidak bisa berlari kencang. Arya pun tertangkap dan dibawa ke kantor polisi.

Setelah dilakukan penyelidikan, Arya divonis dengan pasal pencurian. Kasusnya pun akan disidangkan satu minggu lagi. Sial sekali Arya, hal sepele ini membuatnya harus terseret ke meja hijau.

Hari persidangan telah tiba, Arya duduk di kursi tersangka dengan wajah tertunduk.

Hakim : "Baiklah, Arya, usia 24 tahun, telah terbukti mencuri sandal seharga Rp30.000,00. Dengan ini, pengadilan memutuskan bahwa Anda bersalah dan Anda dihukum selama 5 tahun penjara."

Arya : "Loh?! Pak, ini tidak adil, mengapa hukuman saya jauh lebih berat dibandingkan dengan para koruptor?"

Kemudian hakim memberikan penjelasan kepada Arya bahwa ia mencuri sandal sehingga merugikan seseorang 30.000 rupiah. Adapun para koruptor mencuri uang 2 miliar sehingga merugikan 200 juta rakyat Indonesia.

Nah, kalau dihitung dengan saksama, koruptor hanya merugikan 10 rupiah saja setiap orang. Jadi, kerugian akibat tindakan yang dilakukan oleh Arya lebih besar daripada tindakan yang dilakukan oleh para koruptor.

(NSF)