Penomoran Bangunan yang Tidak Ada di Prelist, Begini Caranya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana penomoran bangunan untuk keluarga/bangunan/usaha yang tidak ada di prelist menjadi bagian penting dalam kegiatan pendataan wilayah agar seluruh bangunan tercatat sistematis dan akurat.
Kegiatan pencacahan memerlukan ketelitian tinggi supaya bangunan baru, rumah tangga tambahan, maupun lokasi usaha tetap masuk dalam administrasi wilayah resmi.
Pendataan bangunan yang tersusun rapi membantu proses identifikasi lokasi, pencatatan keluarga, serta pengelompokan usaha sesuai ketentuan sensus lapangan.
Bagaimana Penomoran Bangunan yang Tidak Ada di Prelist dalam Pendataan Wilayah?
Bagaimana penomoran bangunan untuk keluarga/bangunan/usaha yang tidak ada di prelist? Jawabannya adalah dilakukan dengan sistem penyisipan nomor memakai tambahan huruf abjad pada nomor bangunan terdekat sesuai urutan wilayah pencacahan.
Dikutip dari pppm.stis.ac.id, metode ini digunakan ketika terdapat bangunan baru yang belum tercantum dalam daftar prelist BPS atau daftar bangunan sensus sebelumnya.
Penomoran tersebut bertujuan menjaga keteraturan urutan bangunan tanpa mengubah keseluruhan nomor yang telah ada dalam wilayah kerja pencacahan.
Petugas lapangan terlebih dahulu menentukan posisi bangunan baru berdasarkan letaknya terhadap bangunan lain yang sudah terdaftar.
Tahapan ini penting karena nomor bangunan harus mengikuti alur urutan bangunan dalam satu blok sensus. Sistem penomoran tidak dilakukan secara acak agar data administrasi tetap sinkron dengan peta wilayah dan daftar keluarga.
Contohnya, terdapat bangunan bernomor 073 dan 074 dalam daftar prelist.
Apabila muncul satu bangunan baru tepat berada di antara kedua bangunan tersebut, maka bangunan tambahan diberikan nomor 073A. Huruf A dipakai sebagai penanda bangunan sisipan pertama dalam urutan tersebut.
Apabila muncul bangunan tambahan lain di lokasi yang sama sebelum nomor 074, maka penomoran dapat dilanjutkan menjadi 073B, 073C, dan seterusnya.
Sistem huruf ini menjaga nomor bangunan utama tetap konsisten tanpa perlu mengganti nomor seluruh wilayah pendataan.
Penomoran serupa berlaku pada bangunan rumah tangga, bangunan usaha, maupun bangunan campuran. Dalam istilah sensus, bangunan campuran merupakan bangunan yang dipakai sebagai tempat tinggal sekaligus tempat usaha.
Contohnya rumah yang bagian depannya digunakan sebagai toko kelontong atau bengkel kecil.
Bangunan usaha juga tetap wajib dicatat meskipun bentuknya sederhana atau tidak permanen. Tempat usaha tanpa dinding permanen masih dapat dikategorikan sebagai bangunan fisik apabila dipakai secara tetap untuk kegiatan ekonomi.
Pendataan seperti ini membantu pengelompokan usaha dalam klasifikasi sensus ekonomi dan sensus penduduk.
Kondisi berbeda terjadi apabila bangunan baru berada di bagian paling awal atau paling akhir wilayah pencacahan.
Jika bangunan berada sebelum nomor terkecil, maka nomor bangunan terdekat tetap digunakan dengan tambahan huruf abjad. Begitu pula apabila bangunan berada setelah nomor terakhir dalam daftar.
Setelah nomor ditentukan, rincian bangunan baru dimasukkan ke dalam dokumen pendataan seperti Blok VA atau VB sesuai petunjuk survei.
Pencatatan tersebut meliputi identitas bangunan, jenis bangunan, jumlah keluarga, serta fungsi penggunaannya apakah sebagai tempat tinggal, usaha, atau bangunan kosong.
Peta wilayah juga wajib diperbarui setelah proses penomoran selesai. Titik bangunan baru perlu ditambahkan pada peta kerja petugas supaya posisi lokasi sesuai dengan kondisi lapangan sebenarnya.
Pembaruan peta membantu proses verifikasi data serta memudahkan pencacahan lanjutan pada survei berikutnya.
Pendataan bangunan secara rinci memiliki peranan besar dalam penyusunan statistik kependudukan, ekonomi, dan wilayah.
Ketelitian penomoran membuat proses identifikasi rumah tangga lebih mudah serta mengurangi risiko bangunan terlewat saat pencacahan berlangsung.
Bagaimana penomoran bangunan untuk keluarga/bangunan/usaha yang tidak ada di prelist dapat dilakukan memakai nomor bangunan terdekat yang disertai tambahan huruf abjad sesuai posisi bangunan baru.
Penerapan sistem tersebut membantu menjaga urutan bangunan tetap rapi, memudahkan pencatatan lapangan, serta mendukung ketepatan data sensus wilayah. (Khoirul)
Baca Juga: Konsep Effectuation dalam Kewirausahaan, Strategi Cerdas Membangun Usaha
