Konten dari Pengguna

Penyebab Cuaca Ekstrem Menurut BMKG yang Perlu Diwaspadai

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Penyebab Cuaca Ekstrem Menurut BMKG, Foto:Unsplash/Alex Dukhanov
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Penyebab Cuaca Ekstrem Menurut BMKG, Foto:Unsplash/Alex Dukhanov

Penyebab cuaca ekstrem menurut BMKG menjadi topik penting untuk dipahami masyarakat di tengah kondisi iklim yang semakin tidak menentu dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Dalam beberapa tahun terakhir BMKG kerap mengeluarkan peringatan dini terkait hujan lebat, angin kencang, gelombang tinggi, hingga suhu ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.

Fenomena cuaca ekstrem ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor atmosfer yang saling berkaitan dan terus berkembang secara dinamis.

Penyebab Cuaca Ekstrem Menurut BMKG

Ilustrasi Penyebab Cuaca Ekstrem Menurut BMKG, Foto:Unsplash/A A

Penyebab cuaca ekstrem menurut BMKG menjadi perhatian serius seiring meningkatnya potensi hujan dengan intensitas tinggi di berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa waktu ke depan.

Dikutip dari laman bmkg.co.id, mengungkapkan bahwa BMKG mengimbau agar kewaspadaan terus ditingkatkan karena kondisi atmosfer saat ini dinilai cukup dinamis dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, serta angin kencang.

Peringatan ini disampaikan sebagai langkah antisipatif agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan yang lebih baik.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa peningkatan curah hujan dipengaruhi oleh aktifnya berbagai faktor dinamika atmosfer yang saling berkaitan, baik dalam skala global, regional, maupun lokal.

Interaksi dari sejumlah sistem tersebut menciptakan kondisi atmosfer yang labil, sehingga meningkatkan peluang terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia.

Situasi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pertengahan November 2025.

Beberapa faktor utama yang berperan dalam dinamika cuaca saat ini antara lain Siklon Tropis FUNG-WONG, aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), serta gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby Ekuator.

Siklon Tropis FUNG-WONG yang terpantau berada di timur Laut Filipina dan bergerak ke arah barat laut menuju Luzon memberikan dampak tidak langsung terhadap wilayah Indonesia.

Dampak tersebut terlihat dari meningkatnya pertumbuhan awan hujan dan kecepatan angin yang dapat melampaui 25 knot, khususnya di wilayah Kalimantan Utara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua bagian utara.

Selain itu, kombinasi aktivitas MJO fase 5 yang melintas di wilayah Maritime Continent dengan gelombang Rossby Ekuator dan Kelvin turut memperkuat pembentukan awan konvektif.

Kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya potensi hujan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan timur dalam sepekan ke depan.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, memaparkan bahwa pada periode 10–16 November 2025, potensi cuaca ekstrem diperkirakan cukup signifikan.

Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpeluang terjadi di sebagian besar wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, serta sejumlah daerah lain seperti DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, dan Nusa Tenggara.

Sementara itu, hujan lebat hingga sangat lebat dengan kategori siaga diprediksi berpotensi terjadi di berbagai provinsi, termasuk Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, hingga wilayah Papua.

Pada periode selanjutnya, potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih akan berlanjut di beberapa wilayah, disertai kemungkinan terjadinya angin kencang.

Oleh sebab itu, BMKG mengimbau agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang berlangsung cepat, menghindari aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai petir, serta menjaga lingkungan agar saluran drainase tetap berfungsi dengan baik.

Seluruh imbauan tersebut disampaikan sebagai bentuk mitigasi dini agar masyarakat lebih siap menghadapi dampak yang mungkin timbul akibat penyebab cuaca ekstrem menurut BMKG. (KIKI)

Baca juga: Apa Itu Perusahaan Pialang? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya