Konten dari Pengguna

Penyebab Hilangnya Permainan Tradisional yang Sering Diabaikan

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Penyebab Hilangnya Permainan Tradisional, Foto:Unsplash/jauzax
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Penyebab Hilangnya Permainan Tradisional, Foto:Unsplash/jauzax

Menurut pendapatmu, apakah hilangnya permainan tradisional lebih disebabkan oleh perubahan zaman atau kurangnya upaya pelestarian?

Pertanyaan ini kerap muncul ketika kita melihat anak-anak lebih akrab dengan gawai dibandingkan dengan permainan seperti congklak, gobak sodor, atau engklek.

Permainan tradisional yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari perlahan menghilang, bahkan sering kali tanpa disadari oleh masyarakat.

Penyebab Hilangnya Permainan Tradisional

Ilustrasi Penyebab Hilangnya Permainan Tradisional, Foto:Unsplash/jauzax

Menurut pendapatmu, apakah hilangnya permainan tradisional lebih disebabkan oleh perubahan zaman atau kurangnya upaya pelestarian?

Dikutip dari laman rri.co.id, mengungkapkan bahwa hilangnya permainan tradisional lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan zaman yang berjalan sangat cepat, meskipun lemahnya upaya pelestarian turut memperkuat kondisi tersebut.

Di tengah laju perkembangan teknologi dan dominasi permainan digital, ruang bermain anak-anak mengalami pergeseran yang signifikan.

Permainan seperti congklak, egrang, gasing, kelereng, hingga gobak sodor kini semakin jarang ditemui, meskipun dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari anak-anak di berbagai daerah.

Permainan tradisional sejatinya memiliki nilai yang kaya dan berlapis. Selain berfungsi sebagai sarana hiburan, permainan ini mengandung unsur pendidikan, sosial, dan budaya yang kuat.

Melalui aktivitas bermain, nilai kerja sama, sportivitas, kreativitas, serta keterampilan motorik berkembang secara alami.

Proses tersebut berlangsung tanpa tekanan, namun memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi pembentukan karakter.

Perubahan zaman menghadirkan permainan digital yang serba instan, mudah diakses, dan menawarkan visual menarik. Kondisi ini secara perlahan menggeser minat anak-anak, sehingga permainan tradisional kehilangan daya tariknya.

Padahal, permainan tradisional bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, melainkan cerminan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan sarat dengan makna kehidupan.

Setiap permainan tradisional menyimpan cerita dan filosofi yang mengajarkan nilai gotong royong, ketekunan, kesabaran, serta kemampuan menyusun strategi.

Namun, kurangnya dukungan nyata dalam pelestarian membuat warisan ini semakin terpinggirkan.

Urbanisasi, perubahan gaya hidup, serta kemudahan akses terhadap perangkat digital turut mempercepat proses hilangnya permainan tradisional dari keseharian.

Meski demikian, sejumlah upaya mulai dilakukan untuk menghidupkan kembali permainan tradisional. Beberapa sekolah dan komunitas memperkenalkan kembali permainan seperti bentengan atau galah asin melalui kegiatan muatan lokal.

Selain itu, festival permainan tradisional juga digelar di berbagai daerah sebagai sarana mengenalkan kembali budaya bermain kepada generasi muda.

Permainan tradisional memiliki keunggulan yang tidak dimiliki permainan digital. Aktivitas fisik dan interaksi langsung di dalamnya mampu membangun hubungan sosial yang lebih erat.

Oleh karena itu, pelestarian permainan tradisional bukan hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga menyediakan alternatif kegiatan yang sehat dan edukatif.

Dengan mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam lingkungan sekolah, komunitas, dan kegiatan budaya, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap dapat bertahan di tengah arus perubahan zaman. (KIKI)

Baca juga: Jadwal Timnas Indonesia 2026 yang Sayang untuk Dilewatkan