Konten dari Pengguna

Peran Mahasiswa yang Paling Sulit Diwujudkan di Era Digital dan Penjelasannya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Peran Mahasiswa yang Paling Sulit Diwujudkan di Era Digital, Foto:Unsplash/Marvin Meyer
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Peran Mahasiswa yang Paling Sulit Diwujudkan di Era Digital, Foto:Unsplash/Marvin Meyer

Mahasiswa sering disebut sebagai agent of change, social control, dan iron stock. Menurut Anda, dari ketiga peran tersebut, mana yang paling sulit diwujudkan di era digital? Jelaskan dengan argumentasi yang logis disertai contoh.

Pertanyaan ini sering dijumpai dalam materi perkuliahan maupun pembahasan mengenai peran mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Setiap peran memiliki tanggung jawab dan tantangan yang berbeda.

Di era digital yang ditandai dengan derasnya arus informasi serta tingginya penggunaan media sosial, mahasiswa dituntut tidak hanya aktif mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu menjalankan perannya secara kritis, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Peran Mahasiswa yang Paling Sulit Diwujudkan di Era Digital

Ilustrasi Peran Mahasiswa yang Paling Sulit Diwujudkan di Era Digital, Foto:Unsplash/Rodion Kutsaiev

Mahasiswa sering disebut sebagai agent of change, social control, dan iron stock. Menurut Anda, dari ketiga peran tersebut, mana yang paling sulit diwujudkan di era digital? Jelaskan dengan argumentasi yang logis disertai contoh. Salah satu jawaban yang dapat dikemukakan adalah bahwa peran social control menjadi tantangan terbesar.

Berdasarkan penjelasan artikel yang diunggah kota-blitar.kpu.go.id, mahasiswa selama ini dikenal sebagai agent of change atau agen perubahan karena memiliki kemampuan berpikir kritis, semangat idealisme, dan akses yang luas terhadap berbagai sumber informasi.

Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat, misalnya melalui peningkatan literasi politik, mengajak masyarakat menggunakan hak pilih secara bijaksana, memahami visi dan misi calon pemimpin, serta menolak praktik politik uang maupun penyebaran informasi palsu.

Sebagai kontrol sosial, mahasiswa dituntut mampu mengawasi kebijakan publik, menyampaikan kritik yang membangun, sekaligus memastikan informasi yang beredar di masyarakat berdasarkan fakta.

Tantangan tersebut semakin berat karena informasi di media digital bergerak sangat cepat. Tidak semua informasi yang beredar telah melalui proses verifikasi sehingga hoaks dan disinformasi mudah mempengaruhi opini publik.

Contohnya, ketika muncul isu mengenai kebijakan pemerintah, informasi yang belum tentu benar dapat menyebar luas dalam waktu singkat melalui media sosial. Apabila mahasiswa ikut menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya, fungsi sebagai kontrol sosial justru tidak berjalan dengan baik.

Mahasiswa perlu melakukan pengecekan fakta, memahami sumber informasi, kemudian menyampaikan kritik berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Pentingnya peran mahasiswa di era digital juga tercermin dalam berbagai kegiatan edukasi mengenai keterbukaan informasi publik.

Mahasiswa diharapkan mampu berpartisipasi dalam mengawasi pelayanan publik serta menyebarkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Generasi Z memiliki posisi strategis karena sangat dekat dengan teknologi dan media digital. Akses informasi yang luas menjadi keunggulan, tetapi juga membawa tantangan berupa maraknya hoaks, disinformasi, dan banjir informasi.

Penguatan literasi digital, pemahaman mengenai keterbukaan informasi publik, serta kemampuan menggunakan media digital secara bijaksana menjadi bekal penting agar mahasiswa mampu menjalankan perannya secara bertanggung jawab.

Sementara itu, peran sebagai agent of change tetap dapat diwujudkan melalui edukasi kepada masyarakat dan berbagai kegiatan sosial. Adapun iron stock berarti mahasiswa dipersiapkan sebagai generasi penerus yang memiliki kompetensi, integritas, dan kepemimpinan untuk masa depan.

Mahasiswa sering disebut sebagai agent of change, social control, dan iron stock. Menurut Anda, dari ketiga peran tersebut, mana yang paling sulit diwujudkan di era digital? Jelaskan dengan argumentasi yang logis disertai contoh.

Jawaban yang paling logis adalah social control, karena mahasiswa harus mampu bersikap kritis, memverifikasi informasi, serta menyampaikan pengawasan yang objektif di tengah derasnya arus informasi digital.

Dengan memperkuat literasi digital dan memanfaatkan keterbukaan informasi publik secara bijaksana, peran tersebut dapat dijalankan secara lebih efektif demi kepentingan masyarakat. (Rahma)

Baca juga: Makalah Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Indonesia Maju dengan Ide-Ide Kreatif