Konten dari Pengguna

Peran Pendidikan Demokrasi di Indonesia dalam Membentuk Karakter Warga Negara

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peran pendidikan demokrasi di Indonesia. Foto: Unsplash.com/Maxwell Ridgeway
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peran pendidikan demokrasi di Indonesia. Foto: Unsplash.com/Maxwell Ridgeway

Diskusikan bagaimana Anda menilai peran pendidikan demokrasi dalam membentuk karakter warga negara yang aktif dan bertanggung jawab di Indonesia berdasarkan prinsip learning democracy, in democracy, and for democracy menjadi persoalan penting dalam penguatan kehidupan berbangsa di era modern.

Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap sosial, moral, serta kemampuan hidup bersama secara adil.

Ruang sekolah memiliki posisi besar dalam membentuk kebiasaan berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan membangun tanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat luas.

Diskusikan Bagaimana Anda Menilai Peran Pendidikan Demokrasi dalam Membentuk Karakter Warga Negara yang Aktif dan Bertanggung Jawab di Indonesia

Ilustrasi peran pendidikan demokrasi di Indonesia. Foto: Unsplash.com/Etienne Boulanger

Diskusikan bagaimana Anda menilai peran pendidikan demokrasi dalam membentuk karakter warga negara yang aktif dan bertanggung jawab di Indonesia berdasarkan prinsip learning democracy, in democracy, and for democracy. Berikut adalah penjelasan lengkapnya, dikutip dari bpmpntt.kemendikdasmen.go.id dan kab-serang.kpu.go.id.

Pendidikan demokrasi mempunyai peran penting dalam membangun warga negara yang mampu berpikir terbuka, menghargai hak orang lain, serta terlibat dalam kehidupan sosial secara bertanggung jawab.

Proses tersebut tidak cukup dilakukan melalui teori semata, melainkan harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Prinsip learning democracy menekankan proses mempelajari nilai serta konsep demokrasi. Peserta didik perlu memahami arti kebebasan berpendapat, persamaan hak, toleransi, penegakan hukum, dan tanggung jawab sosial.

Pemahaman tersebut penting karena demokrasi bukan hanya berkaitan dengan pemilu atau pergantian kekuasaan, melainkan juga menyangkut perilaku menghormati sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Pusat Penelitian dan Kebijakan pernah menegaskan pentingnya pendidikan demokrasi dalam membentuk generasi muda yang mampu berpartisipasi secara sehat di ruang publik.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Anindito Aditomo, menyampaikan bahwa kemampuan berdiskusi, berargumentasi objektif, dan bermusyawarah tidak muncul secara alami, melainkan harus dilatih secara sistematis di sekolah.

Prinsip learning democracy terlihat ketika peserta didik mempelajari materi Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Pembelajaran tersebut membantu membentuk kesadaran mengenai hak serta kewajiban sebagai warga negara.

Pemahaman mengenai demokrasi juga mendorong kemampuan menyaring informasi, membedakan fakta dan opini, serta menghindari penyebaran ujaran kebencian di ruang digital.

Prinsip kedua, yaitu learning in democracy, berkaitan dengan proses belajar dalam suasana demokratis. Lingkungan pendidikan perlu memberi ruang dialog terbuka antara guru dan peserta didik.

Hubungan belajar tidak seharusnya dibangun melalui tekanan sepihak karena pola tersebut justru menghambat keberanian berpikir kritis.

Sekolah yang demokratis memberi kesempatan bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, serta terlibat dalam pengambilan keputusan sederhana di lingkungan pendidikan.

Kegiatan organisasi siswa, diskusi kelas, pemilihan ketua organisasi, dan kerja kelompok menjadi sarana latihan demokrasi secara langsung.

Konsep tersebut penting karena demokrasi tidak dapat dipahami hanya melalui hafalan teori.

Pengalaman menjalani proses demokratis akan membentuk kebiasaan mendengar pendapat berbeda, menyelesaikan konflik secara musyawarah, dan menerima keputusan bersama secara dewasa.

Masih banyak persoalan yang menunjukkan pendidikan demokrasi belum berjalan optimal di Indonesia.

Kasus perundungan di sekolah, diskriminasi sosial, intoleransi, serta budaya mencontek menunjukkan nilai demokrasi belum sepenuhnya tertanam kuat dalam kehidupan peserta didik.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter demokratis harus dibangun melalui kebiasaan nyata, bukan hanya slogan formal.

Prinsip learning for democracy berhubungan dengan tujuan akhir pendidikan demokrasi, yaitu membentuk warga negara aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat.

Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan individu cerdas secara akademik, tetapi juga manusia yang mampu menjaga keadilan sosial dan menghargai keberagaman.

Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI, Firman Noor, pernah menjelaskan bahwa pendidikan demokratis berfungsi meningkatkan kesadaran terhadap nilai demokrasi sekaligus memperkuat posisi masyarakat agar mampu berpartisipasi secara mandiri dalam kehidupan bernegara.

Warga negara yang memiliki literasi kewargaan baik cenderung lebih aktif menyampaikan pendapat secara rasional dan memahami dampak keputusan politik terhadap kehidupan sosial.

Pendidikan demokrasi juga berkaitan erat dengan pembentukan karakter tanggung jawab. Peserta didik diajarkan bahwa kebebasan harus berjalan bersama penghormatan terhadap hak orang lain.

Sikap tersebut penting dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia yang memiliki perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan sosial.

Sekolah berfungsi sebagai miniatur kehidupan masyarakat. Interaksi di ruang kelas menjadi tempat awal pembelajaran menghargai perbedaan.

Diskusi kelompok, kegiatan organisasi, hingga penyelesaian konflik kecil di sekolah dapat membentuk kemampuan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan demokratis.

Namun, pendidikan demokrasi memerlukan dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat agar nilai yang dipelajari di sekolah tidak berhenti sebagai teori.

Anak yang terbiasa melihat kekerasan verbal, diskriminasi, atau penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan sekitar akan sulit memahami demokrasi secara sehat.

Pendidikan demokrasi yang diterapkan sejak dini mampu membentuk karakter mandiri, kritis, toleran, serta memiliki kesadaran sosial tinggi.

Nilai tersebut penting untuk menjaga kehidupan demokrasi Indonesia agar tidak berkembang menjadi kebebasan tanpa tanggung jawab atau konflik berkepanjangan akibat intoleransi.

Sebagai penutup, peran pendidikan demokrasi di Indonesia memperlihatkan bahwa sekolah memiliki fungsi strategis dalam membangun budaya demokratis sejak usia dini.

Pembelajaran yang dialogis, terbuka, serta menghargai keberagaman dapat membantu membentuk masyarakat yang kritis, adil, dan mampu menjaga kehidupan demokrasi secara sehat. (Suci)

Baca Juga: Pentingnya Pendidikan Pancasila untuk Dipelajari oleh Mahasiswa Saat Ini