Konten dari Pengguna

Predator Alami Ikan Sapu Sapu yang Belum Banyak Orang Tahu

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi predator alami ikan sapu sapu, foto: unsplash/Daniel Lloyd Blunk-Fernández
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi predator alami ikan sapu sapu, foto: unsplash/Daniel Lloyd Blunk-Fernández

Predator alami ikan sapu sapu sebenarnya sudah ada di habitat aslinya di Amerika Selatan, khususnya di wilayah Sungai Amazon.

Namun ketika ikan ini masuk ke Indonesia sebagai ikan introduksi, keseimbangan ekosistem berubah karena hampir tidak ada predator spesifik yang mampu menekan populasinya secara alami.

Selain itu, ikan jantan memiliki peran menjaga telur di dalam liang hingga menetas. Tingkat kelangsungan hidupnya pun sangat tinggi, sehingga jumlah populasinya terus meningkat dari waktu ke waktu.

Predator Alami Ikan Sapu-Sapu di Habitat Aslinya

Ilustrasi predator alami ikan sapu sapu, foto: unsplash/Eric R.

Mengutip dari situs ipb.ac.id, predator alami ikan sapu sapu di habitat asalnya terdiri dari beberapa hewan pemangsa besar yang hidup di Sungai Amazon.

Beberapa di antaranya adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), serta burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).

Keberadaan predator tersebut membantu menjaga keseimbangan populasi ikan sapu sapu agar tidak terlalu mendominasi ekosistem. Di alam liar, rantai makanan berjalan secara alami sehingga spesies ini tetap terkendali.

Berbeda dengan kondisi di Indonesia, terutama di sungai-sungai perkotaan seperti Ciliwung, ikan sapu sapu hampir tidak memiliki predator alami yang setara. Inilah yang membuat pertumbuhannya sangat agresif dan sulit dibatasi secara alami.

Ikan sapu sapu atau Pterygoplichthys pardalis dikenal sebagai spesies invasif dengan daya tahan tinggi.

Kemampuannya berkembang biak sangat cepat membuat ikan ini menjadi ancaman serius bagi ekosistem sungai, termasuk di Jakarta seperti Sungai Ciliwung. Dalam satu siklus reproduksi, seekor betina bahkan mampu menghasilkan ribuan telur.

Kontrol biologis dapat menjadi salah satu solusi. Beberapa ikan lokal seperti ikan baung dan ikan betutu dinilai dapat membantu memangsa ikan sapu sapu, terutama pada fase juvenil atau saat masih berukuran sangat kecil.

Namun efektivitasnya masih terbatas dan tidak cukup untuk mengatasi ledakan populasi secara menyeluruh.

Karena itu, pengendalian tidak bisa hanya mengandalkan predator alami saja. Diperlukan kombinasi strategi seperti penangkapan massal, pengawasan perdagangan ikan hias, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak melepas ikan sapu sapu ke perairan umum.

Pemanfaatan teknologi seperti environmental DNA (eDNA) juga mulai dipertimbangkan untuk mendeteksi keberadaan ikan ini sejak awal sebelum populasinya meledak.

Predator alami ikan sapu sapu memang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Namun karena Indonesia tidak memiliki predator alami ikan sapu sapu yang cukup efektif, pengendalian harus dilakukan secara terpadu agar spesies invasif ini tidak semakin merusak lingkungan perairan. (Echi)

Baca juga: Cara Validasi Data Bansos untuk Masyarakat Penerima