Konten dari Pengguna

Ringkasan Cerita Rawa Pening dan Pesan Moralnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Ilustrasi Ringkasan Cerita Rawa Pening. Unsplash/Aaron Burden
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ringkasan Cerita Rawa Pening. Unsplash/Aaron Burden

Rawa Pening adalah sebuah danau yang mempunyai luas 2.670 hektare. Dibalik keindahannya terdapat ringkasan cerita Rawa Pening yang cukup populer di kalangan masyarakat.

Danau tersebut berada di empat wilayah kecamatan di Kabupaten Semarang. Adapun wilayahnya adalah Kecamatan Bawen, Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Tuntang, dan Kecamatan Banyubiru.

Indonesia mempunyai banyak cerita atau legenda yang populer di setiap daerah. Berbagai cerita rakyat, mitos, ataupun legenda pernah ditayangkan di televisi dan mempunyai pesan moral tersendiri.

Daftar isi

Ringkasan Cerita Rawa Pening

Ilustrasi Ringkasan Cerita Rawa Pening. Unsplash/Pietro De Grandi

Berdasarkan buku yang berjudul Be Smart Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Ismail Kusmayadi (2008:56), legenda merupakan dongeng yang berkaitan dengan asal mula terjadinya suatu benda atau tempat.

Salah satu legenda yang cukup populer yakni legenda Rawa Pening yang berada di Semarang.

Setiap legenda atau dongeng pada umumnya mempunyai pesan moral tersendiri. Pesan moral tersebut bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi para pembaca.

Ringkasan cerita Rawa Pening menjadi salah satu cerita rakyat yang dapat dijadikan sebagai bahan ajar dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Guru dapat mengisahkan ringkasan cerita Rawa Pening serta mengintegrasikannya dengan kurikulum pendidikan yang dibuat.

Cerita Rawa Pening berasal dari daerah Jawa Tengah. Cerita tersebut menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat setempat.

Keberadaan cerita tersebut menunjukkan bahwa cerita rakyat tidak hanya mempunyai nilai sastra, tetapi juga mempunyai peran dalam membentuk identitas serta kebudayaan suatu daerah.

Oleh sebab itu, ringkasan cerita legenda di suatu tempat bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran siswa, terutama dalam kajian sastra yang berhubungan dengan budaya lokal.

Cerita Rawa Pening mengisahkan tentang legenda asal usul terbentuknya Rawa Pening. Berikut adalah ringkasan cerita Rawa Pening.

Legenda mengatakan, pada suatu ketika, di lembah antara Gunung Merbabu dan Gunung Telomoyo, ada sebuah desa bernama Ngasem. Desa ini merupakan rumah bagi sepasang suami istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta.

Meskipun pasangan itu tidak memiliki anak, mereka dikenal karena kemurahan hati dan kebaikan mereka dan sangat dihormati oleh penduduk setempat. Suatu hari, Nyai Selakanta berharap ia dapat segera menggendong seorang anak dalam gendongannya.

Untuk memenuhi keinginan istrinya, Ki Hajar bersemedi selama berbulan-bulan di lereng Gunung Telomoyo. Nyai Selakanta juga khawatir terhadap suaminya yang sedang bermeditasi dan belum pulang ke rumah.

Ajaibnya, Nyai Selakanta hamil di rumah, sendirian. Namun, dia terkejut ketika saat melahirkan, seekor naga muncul dari rahimnya. Anak itu diberi nama Baru Klinting sesuai dengan nama tombak milik suaminya.

Kata “Baru” berasal dari kata “Bra” yang berarti keturunan seorang Brahmana, yakni seorang pertapa yang tingkatannya lebih tinggi dari seorang pendeta. Kata "Klinting" berarti lonceng. Meski berwujud naga, Baru Klinting dapat berbicara seperti manusia.

Nyai Selakanta malu karena telah melahirkan seekor naga dan diam-diam merawat Baru Klinting. Ia juga berencana membawa Baru Klinting ke Bukit Tugur untuk menjauh dari penduduk setempat.

Ketika Baru Klinting tumbuh dewasa, dia bertanya tentang ayahnya. Nyai Selakanta juga mengutus Baru Klinting untuk menyusul ayahnya yang sedang bersemedi di lereng Gunung Telomoyo. Baru Klinting juga dipercaya membawa tombak, pusaka yang diwarisi dari ayahnya.

Ketika Baru Klinting sampai di lereng Gunung Telomoyo, ia segera bersujud di hadapan ayahnya yang tengah duduk bermeditasi. Awalnya Ki Hajar tidak percaya bahwa naga itu adalah putranya. Baru Klinting kemudian menunjukkan pusaka Ki Hajar yang dibawanya.

"Baiklah, aku yakin pusaka Baru Klinting itu milikku. Namun, bukti ini belum cukup bagiku. "Jika kau benar-benar anakku, cobalah untuk melingkari Gunung Telomoyo ini!" kata Ki Hajar.

Baru Klinting berhasil menggunakan kesaktiannya untuk mengelilingi Gunung Telomoyo. Ki-Hajar akhirnya mengakui bahwa naga itu adalah putranya. Ia kemudian memerintahkan Baru Klinting untuk bermeditasi di Bukit Tugur agar tubuhnya berubah menjadi manusia.

Sementara itu ada sebuah desa bernama Patok yang sangat makmur. Namun penduduk desa itu dianggap sangat arogan. Alkisah, warga Desa Patok ingin menggelar pesta amal untuk lahannya setelah berhasil panen. Warga desa tersebut juga berburu binatang di Bukit Tugur.

Singkat cerita, warga desa beramai-ramai menangkap Baru Klinting dan memotong dagingnya untuk dijadikan makanan pesta.

Sementara penduduk desa sibuk merayakan, seorang anak laki-laki tiba, penuh luka dan berbau seperti ikan. Anak itu adalah perwujudan dari Baru Klinting. Dia meminta makanan, namun penduduk desa mengutuk dan mengusirnya.

Anak itu telah meninggalkan desa. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Latung. Nyi Latung mengundang Baru Klinting ke rumahnya dan memberinya sesuatu untuk dimakan.

Selama diskusi, Baru Klinting menyarankan untuk memberi pelajaran kepada penduduk desa. Ia menyuruh Nyi Langtung untuk menyiapkan lesung kayu, alat yang digunakan untuk menumbuk padi, segera setelah ia mendengar suara guntur.

Baru Klinting kembali ke kelompok desa, dengan lidi di tangan. Di tengah-tengah kerumunan, dia menusukkan sebatang lidi ke tanah. Warga diimbau untuk mencabut sebatang lidi yang tertancap di tanah. Tidak seorang pun dapat mengambilnya.

Tak ada satu pun yang bisa mencabut lidi ini dari tanah, hanya aku yang bisa melakukannya!” Orang-orang meragukan ucapan anak tersebut. Mereka pun mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, tak seorangpun dapat melakukannya.

Dalam beberapa hari, lidi itu tak bisa tercabut. Suatu hari, secara diam-diam, anak itu datang dan mencabut lidi itu. Tanpa sepengetahuannya, ada seorang warga yang melihatnya dan melaporkannya kepada warga yang lain. Baru Klinting menggunakan kekuatan gaibnya untuk mencabut lidi itu dengan mudah. Saat lidi itu dicabut, suara gemuruh mengguncang seluruh desa.

Air menyembur keluar dari tempat lidi itu berada. Semakin lama air mengalir, semakin kuat jadinya dan menyebabkan banjir besar. Semua penduduk desa tenggelam. Desa itu berubah menjadi rawa atau danau yang sekarang dikenal sebagai Rawa Pening.

Kemudian, Baru Klinting mendapati Nyi Latung sudah menunggu di lesung padi yang berfungsi sebagai perahu. Dia aman bersama dengan nenek tersebut. Kemudian, Baru Klinting kembali menjadi naga lagi untuk menjaga Rawa Pening.

Pesan Moral Cerita Rawa Pening

Ilustrasi Ringkasan Cerita Rawa Pening, Unsplash/Luca Bravo

Dalam cerita Rawa Pening, terdapat beberapa pesan moral yang dapat diambil untuk pelajaran hidup. Adapun pesan moral yang ada dalam cerita Rawa Pening adalah sebagai berikut.

1. Akibat Keserakahan dan Sikap Sombong

Cerita tersebut memperlihatkan akibat buruk dari sikap keserakahan dan sombong.

Sikap sombong dari masyarakat desa yang tidak mau atau tidak berempati memberikan perhatian kepada anak yang sakit tersebut justru mengakibatkan terjadinya bencana.

Dalam cerita tersebut, musibahnya yakni berupa banjir. Hal tersebut dapat mengajarkan kepada para pembaca akan pentingnya bersikap rendah hati, empati, serta perhatian terhadap sesama.

Sifat angkuh atau sifat sombong merupakan sifat yang tidak terpuji. Saling membantu serta menolong merupakan sifat yang harus dicontoh tanpa memandang terlebih dahulu latar belakang dan status sosialnya.

Oleh sebab itu, penting untuk tidak bersikap sombong atau angkuh terhadap apa yang telah dimiliki. Selain itu, sebagai seorang manusia juga tidak diperbolehkan membeda-bedakan seseorang dari penampilan fisik yang tidak sempurna.

2. Arti Kehidupan dan Kesejahteraan Bersama

Pesan moral yang dapat diambil dari kisah anak yang sakti yaitu arti pentingnya kehidupan serta kesejahteraan bersama.

Anak tersebut memberikan pesan supaya masyarakat lebih memperhatikan orang-orang yang kurang mampu dan jangan pernah merendahkannya. Hal tersebut mencerminkan nilai solidaritas serta kepedulian terhadap kehidupan bersama.

3. Sikap Pantang Menyerah

Cerita tersebut mengisahkan betapa berusahanya Baru Klinting si ular naga yang membuktikan bahwa ia adalah anak dari Ki Hajar dengan melingkarkan tubuhnya ke Gunung Telomoyo.

Dengan semua kekuatan yang dimilikinya, akhirnya bisa membuktikan bahwa ia benar anak dari Ki Hajar.

4. Menghargai Orang Lain

Cerita tersebut mengajarkan kepada para pembaca tentang pentingnya menghargai orang lain serta tidak membeda-bedakan yang satu dengan yang lainnya berdasarkan dari penampilan fisik yang jauh dari kata sempurna.

Baca juga: 14 Contoh Cerita Fabel yang Penuh Pesan Moral

Demikian ringkasan cerita Rawa Pening yang berada di Semarang lengkap dengan pesan moralnya. Banyaknya cerita rakyat atau legenda yang ada di Indonesia dapat menambah keunikan menjadi semakin beragam. (Adm)