Konten dari Pengguna

Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Apakah Pahala Ibadah Tetap Ada? Ini Dalilnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Foto:Unsplash/Olga Kononenko
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Foto:Unsplash/Olga Kononenko

Sakit di 10 hari terakhir Ramadhan sering kali menimbulkan kegelisahan di hati seorang Muslim.

Ketika tubuh tiba-tiba melemah, sementara hari-hari terakhir bulan suci yang penuh keutamaan sedang berlangsung, muncul pertanyaan yang wajar yaitu apakah pahala ibadah tetap mengalir meskipun kita tidak mampu menjalankan amalan seperti biasanya?

Sepuluh hari terakhir Ramadhan dikenal sebagai waktu yang sangat istimewa, karena di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Ilustrasi Sakit di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Foto:Unsplash/Towfiqu barbhuiya

Sakit di 10 hari terakhir Ramadhan sering kali menjadi keadaan yang tidak diharapkan, terlebih ketika bulan suci sedang memasuki masa yang paling penuh keutamaan.

Pada dasarnya, sakit merupakan kondisi ketika tubuh tidak berada dalam keadaan normal akibat adanya gangguan atau penyimpangan fungsi pada organ tubuh.

Keadaan tersebut membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih berat dari biasanya. Ketika kondisi seperti ini terjadi di bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh hari terakhir, menjalani ibadah puasa dan berbagai amalan tentu terasa lebih menantang.

Dikutip dari laman rri.co.id, mengungkapkan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan dikenal sebagai waktu yang sangat istimewa karena pada masa ini banyak orang berusaha meningkatkan kualitas ibadah.

Berbagai amalan seperti memperbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, serta melakukan kebaikan lainnya biasanya lebih diutamakan.

Ketika sakit datang pada waktu tersebut, sebagian orang merasa sedih karena tidak dapat menjalankan ibadah dengan maksimal seperti yang diharapkan.

Namun demikian, terdapat berbagai hikmah yang dapat dipetik dari keadaan sakit yang dialami pada masa tersebut. Salah satunya adalah bahwa sakit dapat menjadi sebab gugurnya dosa apabila dijalani dengan kesabaran.

Keadaan ini mengingatkan bahwa setiap ujian yang datang dapat membawa kebaikan, terutama ketika dihadapi dengan sikap sabar dan penuh keikhlasan.

Selain itu, sakit juga dapat menjadi pengingat akan besarnya nikmat sehat yang sering kali tidak disadari ketika tubuh berada dalam kondisi baik.

Ketika kesehatan terganggu, seseorang biasanya lebih menyadari betapa berharganya kemampuan untuk beraktivitas dan beribadah dengan lancar.

Dari pengalaman tersebut, rasa syukur terhadap nikmat kesehatan dapat tumbuh dengan lebih kuat.

Di sisi lain, kondisi sakit juga dapat menjadi pelajaran berharga agar setelah sembuh seseorang lebih menjaga kesehatan.

Dengan demikian, perhatian terhadap kondisi tubuh dapat meningkat sehingga upaya menjaga diri dari penyakit menjadi lebih baik di masa mendatang.

Dalam keadaan sakit, seseorang juga cenderung lebih banyak beristighfar, berdoa, dan memohon pertolongan kepada Allah.

Amalan-amalan tersebut merupakan bagian dari ibadah yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan yang memiliki banyak keutamaan.

Bahkan, berbagai halangan yang muncul dalam menjalankan ibadah tidak selalu berarti berkurangnya pahala. Sebaliknya, rintangan yang dihadapi dengan kesabaran dapat menjadi jalan bertambahnya pahala.

Kondisi tubuh yang menurun di akhir Ramadhan juga bisa terjadi karena padatnya aktivitas selama bulan suci.

Dengan memahami berbagai hikmah tersebut, hati dapat tetap tenang dan penuh harapan meskipun sedang mengalami sakit di 10 hari terakhir Ramadhan.(KIKI)

Baca juga: Jadwal WFA Lebaran 2026 Kapan Dimulai? Ini Penjelasan Pemerintah