Konten dari Pengguna

Sejarah dan Makna Kirab Kebo Bule, Tradisi Keraton Surakarta di Malam Satu Suro

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kirab kebo bule. Foto: Pariwisatasolo.surakarta.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kirab kebo bule. Foto: Pariwisatasolo.surakarta.go.id

Kirab Kebo Bule merupakan salah satu tradisi Malam Satu Suro yang terkenal di Solo. Tradisi ini dihelat untuk menyambut momen pergantian tahun dalam Kalender Jawa.

Acara kirab kebo bule selalu disambut antusias oleh masyarakat, terutama bagi yang ingin melihat kerbau istana. Pada malam tersebut, mereka berkumpul di sepanjang jalan yang akan dilintasi rombongan kirab.

Beberapa orang percaya bahwa kebo bule dapat membawa berkah. Karena kepercayaan ini, orang-orang rela berdesakan untuk mengambil kotoran kebo bule sebagai jimat tolak bala.

Sejarah Kirab Kebo Bule

Ilustrasi kirab kebo bule. Foto: ANTARA/Kumparan

Tak sebatas perayaan, kirab kebo bule sarat akan sejarah. Kirab kebo bule di Kasunanan Surakarta dimulai pada masa pemerintahan Presiden Soeharto untuk memeriahkan Tahun Baru Jawa dan Tahun Baru Islam.

Pada malam satu suro, para abdi dalem dan keluarga keraton berjalan keliling komplek istana dengan memakai kebaya dan beskap serba hitam. Iring-iringan kirab itu dipimpin oleh berapa kerbau albino atau yang dikenal dengan kebo bule.

Kebo putih yang dijadikan cucuk lumpah atau pengawal kirab bukanlah hewan sembarangan. Kerbau ini adalah keturunan klangenan Kyai Slamet (hewan peliharaan) Sultan Pakubuwono II.

Mengutip situs Pemerintah Surakarta, Kebo Bule merupakan persembahan Bupati Ponorogo, Kyai Hasan Besari Tegalsari. untuk untuk Pakubuwono II. Hewan itu diberikan sebagai hadiah karena sang sultan berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari tangan pemberontak Pecinan.

Kerbau itu diberikan kepada Sultan Pakubuwono II bersama sebuah pusaka bernama Kyai Slamet. Dari situlah nama Kebo bule Kyai Slamet berasal. Kebo bule yang sekarang ada di kawasan keraton adalah keturunan kebo Kyai Slamet ratusan tahun lalu.

Baca Juga: Mitos Malam 1 Suro dan Tradisinya Menurut Kejawen

Makna Kirab Kebo Bule

Ilustrasi kirab kebo bule. Foto: ANTARA/Kumparan.

Kebo bule di Keraton Surakarta merupakan hewan istimewa yang dijadikan pengawal atau cucuk lampah pada kirab malam Satu Suro. Sebagian masyarakat Solo percaya bahwa kebo bule memiliki kekuatan magis dan dapat mendatangkan keberkahan. Itu mengapa orang-orang rela berdesakan untuk mengambil kotoran hewan itu sebagai jimat tolak bala.

Dalam jurnal Sejarah Kebo Bule ‘Kyai Slamet’ di Keraton Surakarta dan Kelahiran Kesenian Kebo Bule Sebagai Media Dakwah Islam oleh Rudianto dan Ida Widaningrum, pihak keraton menyatakan adanya pemahaman yang keliru dalam memaknai kirab kebo bule. Pasalnya, kebo bule tidak memiliki kekuatan mistis sebagaimana yang diyakini beberapa orang.

Kebo bule dipakai sebagai simbol kekuatan masyarakat Jawa yang mayoritas bekerja sebagai petani. Tak hanya kerbau putih, makna simbolis ini juga berlaku untuk kerbau pada umumnya.

Tradisi kirab kebo bule juga menjadi simbol harapan agar masyarakat mendapat kemakmuran, keselamatan, dan kesejahteraan di tahun berikutnya.

Frequently Asked Question Section

Apa itu kebo bule Kyai Slamet?

chevron-down

Kerbau putih peliharaan Sultan Pakubuwono II.

Apa makna kebo bule dalam kirab malam satu suro?

chevron-down

Kebo bule menjadi simbol kemakmuran, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat Jawa.

Apa arti cucuk lampah?

chevron-down

Cucuk lampah adalah sebutan untuk pengawal kirab di malam Satu Suro.

(GLW)