Sejarah Hari Radio Nasional yang Menandakan Kelahiran RRI

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, Senin (11/9), segenap masyarakat Indonesia memperingati Hari Radio Nasional. Momen istimewa ini bertepatan dengan HUT RRI (Radio Republik Indonesia) yang didirikan pada 11 September 1945 silam.
Mengutip laman resminya, RRI adalah Lembaga Penyiaran Publik yang bersifat independen, netral, dan tidak komersial. Tugas utamanya adalah memberikan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk seluruh lapisan masyarakat lewat penyelenggaraan penyiaran radio.
Lalu, bagaimana latar belakang berdirinya RRI yang ditetapkan sebagai Hari Radio Nasional? Simak sejarah singkatnya berikut ini.
Sejarah Hari Radio Nasional
Dijelaskan dalam situs Komisi Penyiaran Indonesia, RRI didirikan sebulan setelah siaran radio Hoso Kyoku dihentikan pada tanggal 19 Agustus 1945. Saat itu, masyarakat Indonesia jadi buta informasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Indonesia merdeka.
Di saat yang sama, radio-radio luar negeri menginformasikan bahwa tentara Inggris yang mengatasnamakan sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera. Tentara Inggris dikabarkan akan melucuti tentara Jepang dan memelihara keamanan sampai pemerintahan Belanda kembali menguasai Indonesia.
Dari berita itu pula diketahui bahwa sekutu masih mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia dan Belanda dikabarkan akan mendirikan pemerintahan Netherlands Indie Civil Administration (NICA).
Menanggapi hal itu, orang-orang radio yang aktif di masa penjajahan Jepang menyadari bahwa radio adalah media komunikasi yang dibutuhkan pemerintah Indonesia untuk menuntun rakyat mengenai apa yang harus dilakukan.
Untuk membahas hal tersebut, delapan orang perwakilan radio Hoso Kyoku mengadakan pertemuan dengan pemerintah pada 11 September 1945 di bekas Gedung Raad Van Indje Pejambon, Jakarta. Mereka adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soetarji Hardjolukita, Sudomomarto, Soemarmadi, Soehardi, Harto, dan Maladi.
Baca juga: Sejarah Dunia Penyiaran di Dunia dan Indonesia
Abdulrachman Saleh sebagai ketua delegasi mengutarakan permintaannya kepada pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi dengan rakyat, terlebih ketika tentara sekutu mendarat di Jakarta nanti. Radio dianggap sebagai media komunikasi yang lebih cepat dan tidak mudah terputus saat pertempuran.
Meski diwarnai dengan sejumlah perdebatan, pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan, di antaranya:
Dibentuknya Persatuan Radio Republik Indonesia yang meneruskan penyiaran dari delapan stasiun di Jawa dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya.
Mempersembahkan RRI kepada presiden dan pemerintah RI sebagai alat komunikasi dengan rakyat.
Mengimbau agar hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui Abdulrachman Saleh.
Pada pukul 24.00, delegasi dari delapan stasiun radio di Jawa mengadakan rapat di rumah Adang Kadarusman. Hasil akhir dari rapat tersebut adalah didirikannya RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya. Sejak saat itu, tanggal 11 September diperingati sebagai Hari Radio Nasional.
Hingga saat ini, Radio Republik Indonesia masih aktif mengudara di seluruh wilayah Indonesia. Nama “Indonesia” yang disandangnya mengandung arti bahwa siaran RRI ditujukan untuk kepentingan negara.
(ADS)
Baca juga: Sejarah Hari Radio Republik Indonesia yang Jadi Alat Perjuangan Bangsa
