Siapa Itu Yai Mim? Ini Sosoknya yang Sedang Viral

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Siapa itu Yai Mim?" Pertanyaan tersebut akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di dunia maya setelah berbagai unggahan tentang sosok ulama ini menarik perhatian publik.
Banyak yang penasaran dengan sosok ulama yang disebut-sebut memiliki pengaruh besar di lingkungannya tersebut.
Figur ini dikenal sebagai pendidik agama yang memiliki kharisma kuat, serta kehidupan yang sederhana dan penuh pengabdian terhadap masyarakat.
Siapa Itu Yai Mim?
Siapa itu Yai Mim? Dikutip dari blog.amikom.ac.id, sosok bernama lengkap Muhammad Imam Muslimin Mardi ini lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 11 Maret 1966.
Ia dikenal luas sebagai seorang hafidz Al-Qur’an, pendidik, serta pembimbing spiritual yang menekankan ajaran Islam penuh kasih dan kedamaian.
Dalam kesehariannya, ia lebih banyak mengabdikan diri untuk mengajar sebagai dosen dan juga mengajar di pesantren serta membina santri dalam bidang ilmu agama dan akhlak.
Ketenaran Yai Mim meningkat tajam setelah muncul kabar sengketa tanah yang melibatkan pihaknya dengan sejumlah orang.
Kasus tersebut mulai mencuat setelah beredar video dan unggahan di media sosial yang memperlihatkan perdebatan di lokasi lahan yang dipermasalahkan. Isu ini kemudian menyebar luas hingga menimbulkan beragam tanggapan dari publik.
Di balik perhatian publik terhadap persoalan itu, sosok Yai Mim sebenarnya memiliki perjalanan hidup yang panjang dan penuh dedikasi dalam dunia pendidikan agama.
Sejak kecil, kehidupannya diwarnai nilai-nilai keagamaan yang kuat dari kedua orang tuanya.
Ayahnya, H. Achmad Mochammad Mardi Hasan Karyantono, merupakan pengusaha,sedangkan ibunya, Hj. Siti Katmiyati, seorang ibu rumah tangga yang dengan sabar menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada anak-anaknya.
Lingkungan religius tempat ia tumbuh membentuk karakter Yai Mim menjadi pribadi yang tekun dan haus akan pengetahuan. Sejak usia muda, ia gemar menghadiri majelis taklim dan mendengarkan kisah para sufi dari kakeknya.
Cerita-cerita tentang Rumi dan Al-Ghazali menjadi sumber inspirasi yang menumbuhkan minatnya terhadap filsafat Islam dan tasawuf.
Meski hidup sederhana, semangat belajarnya tidak pernah surut bahkan ketika menghadapi keterbatasan dalam hal fasilitas pendidikan.
Pendidikan dasar ia tempuh di MI Al Qodiriyah Blitar, tempat ia mulai mempelajari bacaan Al-Qur’an dan kitab klasik. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke MTs Ma’arif Bakung, di mana ia mulai serius mendalami tafsir dan fiqih.
Masa remajanya banyak dihabiskan di Pesantren Terpadu Al Kamal Kunir Wonodadi, Blitar, di bawah asuhan KH. A. Thohir Wijaya.
Di lingkungan pesantren tersebut, ia dikenal sebagai santri yang aktif berdiskusi dan memiliki minat besar terhadap ilmu tasawuf dan bahasa Arab.
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Yai Mim menempuh studi di IAIN Sunan Ampel Surabaya (kini UIN Sunan Ampel) jurusan Bahasa Arab dan berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 1991.
Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Malang pada tahun 2000 dengan fokus studi Islam dan tasawuf, lalu menuntaskan program doktor di UIN Sunan Ampel dan UIN Malang pada tahun 2012.
Disertasinya yang berjudul Tasawuf dan Filsafat dalam Pemikiran Al-Ghazali menegaskan kedalaman pemahamannya terhadap ilmu spiritual dan pemikiran Islam klasik. Berikut adalah biodata ringkasnya:
Nama Lengkap: Muhammad Imam Muslimin Mardi
Tempat, Tanggal Lahir: Blitar, 11 Maret 1966
Ayah: H. Achmad Mochammad Mardi Hasan Karyantono
Ibu: Hj. Siti Katmiyati
Profesi: Dosen, Ulama, Hafidz Qur’an
Bidang Keahlian: Tasawuf, Filsafat Islam, Bahasa Arab
Lembaga Pendidikan: UIN Malang, Pesantren Al Adzkiya’ Nurus Shafa, BaiQu NUsa
Selain aktif di dunia akademik sebagai dosen di UIN Malang, Yai Mim juga mendirikan dua lembaga pendidikan Islam.
Adapun dua lembaga tersebut adalah Pondok Pesantren Al Adzkiya’ Nurus Shafa (Anshofa) pada tahun 2007 dan Pesantren Bayt Al Qur’an Nurus Shafa (BaiQu NUsa) pada tahun 2021.
Keduanya berdiri sebagai tempat pengajaran Al-Qur’an dan filsafat Islam yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan spiritual dan logika berpikir.
Sebagai pengajar, Yai Mim dikenal memiliki gaya penyampaian yang hidup dan reflektif. Ia sering mengaitkan ajaran tasawuf dengan persoalan kehidupan modern seperti tekanan sosial, krisis makna hidup, dan pentingnya keseimbangan batin.
Beberapa karya tulisnya seperti Hati yang Menari: Tasawuf untuk Pemula dan Tasawuf Jawa: Jalan Menuju Hati yang Tenang menjadi rujukan populer bagi mahasiswa, santri, dan pemerhati spiritualitas Islam.
Dalam kehidupan pribadinya, Yai Mim dikenal rendah hati dan menyukai kegiatan alam seperti bercocok tanam di pekarangan rumahnya di Blitar.
Secara keseluruhan, memahami siapa itu Yai Mim berarti mengenali figur yang memadukan intelektualitas dan spiritualitas dengan harmoni.
Sosoknya menjadi teladan tentang bagaimana ilmu, keikhlasan, dan keteguhan hati dapat berjalan seiring dalam menebarkan nilai-nilai Islam yang penuh kedamaian. (Khoirul)
Baca Juga: Profil Zaskia Sungkar Lengkap dengan Perjalanan Kariernya
