Konten dari Pengguna

Stasiun Comal Sejarah Berdirinya dan Perkembangannya dari Masa Kolonial

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Stasiun Comal,Foto:Unsplash/Falaq Lazuardi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Stasiun Comal,Foto:Unsplash/Falaq Lazuardi

Stasiun Comal menyimpan cerita panjang yang tidak hanya berkaitan dengan perjalanan kereta api, tetapi juga dinamika kehidupan masyarakat di sekitarnya dari masa ke masa.

Stasiun Comal menjadi saksi bagaimana perubahan zaman, mulai dari era kolonial hingga modern, membentuk perannya yang terus berkembang

PT Kereta Api Indonesia Aktifkan Kembali Stasiun Comal

Ilustrasi Stasiun Comal,Foto:Unsplash/Ant Rozetsky

Stasiun Comal menyimpan jejak panjang perjalanan perkeretaapian di Indonesia yang erat kaitannya dengan masa kolonial hingga perkembangan modern saat ini.

Dikutip dari jurnal Peran dan Perkembangan Perkeretaapian Cirebon Barat pada Masa Hindia Belanda oleh Yana dkk. (2020), stasiun ini pertama kali dibangun pada tahun 1899.

Pembangunannya dilakukan oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij atau SCS.

Kehadirannya kala itu tidak hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi, khususnya industri gula. Terdapat jalur khusus yang langsung terhubung ke pabrik gula untuk mengangkut hasil produksi.

Pada masa awal berdirinya, stasiun generasi pertama tidak berada di lokasi yang sekarang. Letaknya berada di sebelah utara, tepat di depan Pasar Comal.

Uniknya, stasiun ini tidak berada di jalur utama, melainkan di jalur percabangan, sehingga lebih berfungsi sebagai titik langsir. Dari sinilah hasil produksi gula dari Pabrik Gula Comal Lama dikumpulkan dan didistribusikan ke berbagai wilayah.

Seiring waktu, menyadari bahwa lokasi tersebut kurang efisien untuk mendukung arus kereta di jalur utama. Akhirnya, stasiun dipindahkan ke lokasi yang sekarang dan dibangun ulang menjadi stasiun generasi kedua.

Bangunan baru ini dirancang lebih besar dan modern untuk ukuran zamannya, lengkap dengan kanopi di area peron serta fasilitas penampungan air (water torrent) yang digunakan untuk mengisi kebutuhan lokomotif uap.

Bahkan, di sisi barat stasiun masih tersimpan jejak sejarah berupa perpotongan jalur antara rel utama kereta api dengan jalur lori milik pabrik gula yang memiliki ukuran lebih kecil.

Hal ini menunjukkan betapa vitalnya fungsi stasiun ini dalam mendukung distribusi hasil industri pada masa itu.

Memasuki era modern, perubahan besar mulai terlihat. Jalur kereta yang sebelumnya hanya berupa jalur tunggal akhirnya ditingkatkan menjadi jalur ganda, yang selesai dibangun sekitar akhir tahun 2012.

Namun, aktivitas penumpang sempat dihentikan pada tahun 2015 setelah layanan terakhir oleh kereta api Kandaka. Sejak saat itu, stasiun ini hanya difungsikan untuk keperluan teknis seperti penyusulan kereta.

Kini mulai 27 April 2026, KAI Daop 4 Semarang berencana mengaktifkan kembali layanan naik turun penumpang di Stasiun Comal.

Langkah ini menjadi angin segar sekaligus menandai kebangkitan kembali peran stasiun sebagai sarana transportasi publik yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai daerah.

Itulah sejarah Stasiun Comal yang memperlihatkan bagaimana sebuah simpul transportasi kecil dapat memiliki peran besar dalam perjalanan waktu.

Stasiun Comal bukan sekadar tempat persinggahan kereta, tetapi juga bagian dari cerita panjang perkembangan ekonomi, industri, dan mobilitas masyarakat. (shr)

Baca juga: Mengapa dalam Berbisnis Perlu Melibatkan Filsafat? Ini Tujuannya