Teks Anekdot: Ciri-Ciri, Unsur, Struktur, dan Kaidah Kebahasaan

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teks anekdot adalah karangan teks yang digunakan untuk menyampaikan suatu kritikan atau sindiran dengan cara lucu dan mengesankan. Biasanya, anekdot diangkat dari kisah tentang tokoh masyarakat atau orang-orang terkenal.
Tak hanya berisi kisah lucu semata, teks anekdot juga mengandung amanat, pesan moral, serta ungkapan tentang suatu kebenaran secara umum. Selain itu, sering kali partisipan atau pelaku cerita, tempat kejadian, dan waktu peristiwa dalam anekdot merupakan hasil rekaan.
Penjelasan tentang ciri-ciri, struktur teks anekdot, kaidah kebahasaan, dan informasi lainnya dapat disimak pada uraian berikut ini.
Tujuan dan Ciri-Ciri Teks Anekdot
Setiap teks anekdot memiliki tujuan masing-masing tergantung dari motivasi pengarang. Tujuan teks anekdot, yaitu sebagai sarana untuk membangkitkan tawa, sebagai sarana hiburan, dan sarana memberi kritik.
Teks anekdot memiliki ciri-ciri khusus yang berfungsi sebagai pembeda dari teks lainnya. Mengutip buku CCM Cara Cepat Menguasai Bahasa Indonesia SMA dan MA oleh Tomi Rianto, berikut ciri-ciri teks anekdot yang dapat disimak:
Bersifat lelucon karena berisi kisah-kisah lucu atau bualan.
Bersifat menggelitik, artinya teks ini membuat pembacanya merasa terhibur dengan kelucuan yang ada dalam teks tersebut.
Bersifat menyindir, teks ini digunakan untuk menyindir orang penting atau lembaga maupun organisasi.
Memiliki tujuan tertentu.
Kisah cerita yang disajikan hampir menyerupai dongeng.
Menceritakan tentang karakter hewan dan manusia yang sering terhubung secara umum dan realistis.
Selain bentuk teks, konsep anekdot ini juga dimodifikasi menjadi stand up comedy. Itu merupakan lawakan tunggal yang membawakan lawakannya dengan cara bermonolog mengenai suatu topik.
Unsur-Unsur Teks Anekdot
Menyadur dari buku Bahasa Indonesia Kelas X yang disusun oleh Suherli, dkk., teks anekdot memiliki unsur ekstrinsik dan instrinsik. Unsur-unsur tersebut tak jauh berbeda dengan teks fiksi lainnya. Berikut daftarnya.
a. Unsur Intrinsik Anekdot
Tema: gagasan umum yang menjadi dasar pengembangan seluruh cerita.
Alur atau plot: urutan peristiwa yang disajikan dalam teks. Alur anekdot terdiri atas tiga jenis yaitu, alur maju, alur mundur, dan alur campuran.
Latar: keterangan mengenai peristiwa yang terjadi dalam teks, seperti tempat, waktu, dan suasana.
Tokoh: pemain atau peraga yang terlibat di dalam teks anekdot. Tokoh dalam anekdot dibagi menjadi tokoh utama dan tokoh pendukung.
Watak: Watak adalah sifat tokoh dalam teks anekdot. Terdiri dari dua jenis yakni protagonis dan antagonis.
Sudut Pandang: cara penulis menyampaikan isi cerita, bisa melalui orang pertama maupun orang ketiga.
Amanat: Pesan moral yang dapat dipelajari dari kisah anekdot yang disajikan.
b. Unsur Ekstrinsik Anekdot
Latar belakang masyarakat: karangan tersebut terinspirasi dari berbagai peristiwa yang ada di masyarakat, seperti persoalan agama, ekonomi, politik, dan sebagainya.
Latar belakang pengarang: karangan anekdot yang terinspirasi dari dalam diri pengarang dan lebih melibatkan emosi.
Nilai yang terkandung dalam teks: Nilai sebuah teks anekdot bisa berupa nilai moral, nilai sosial, nilai budaya, nilai agama, atau sesuai dengan tema yang diambil.
Baca Juga: 3 Contoh Teks Anekdot Lucu, Singkat, dan Menghibur
Struktur Teks Anekdot
Setiap teks anekdot harus ditulis menggunakan struktur teks yang tepat. Mengutip jurnal berjudul Struktur dan Diksi Teks Anekdot Siswa Kelas X SMKN 1 Kelayang oleh Cindy Nurmalenia, berikut struktur teks anekdot yang bisa disimak.
1. Abstrak
Bagian awal anekdot yang memberikan gambaran umum tentang isi teks. Bagian ini menunjukkan hal unik yang akan terjadi pada cerita tersebut. Karakteristik abstrak adalah berisi ringkasan isi tentang objek atau hal yang hendak disindir atau dikritik.
2. Orientasi
Orientasi adalah bagian yang menunjukkan latar belakang isi teks. Pada bagian ini, penulis bercerita secara detail berupa pengenalan tokoh, waktu, dan tempat. Orientasi juga menjadi awal kejadian suatu teks anekdot.
3. Krisis
Krisis adalah bagian teks anekdot yang menampilkan suatu masalah yang tak biasa, sehingga tokoh atau pelaku dalam cerita tersebut harus mengambil keputusan.
4. Reaksi
Reaksi merupakan tanggapan atau respons dari krisis yang dinyatakan sebelumnya. Reaksi ini dapat berupa sikap mencela atau menertawakan.
5. Koda
Koda adalah bagian akhir dari sebuah teks anekdot. Bagian ini berisi kesimpulan, persetujuan, komentar, atau penjelasan atas maksud yang tertuang dalam teks anekdot tersebut.
Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot
Menyadur dari jurnal berjudul Penggunaan Kaidah Kebahasaan dan Struktur Teks Anekdot karya Siswa SMA Negeri Madiun oleh Femy Arahmadhani dan Trinil Dwi Turistiani, kaidah kebahasaan teks anekdot, yaitu:
1. Menggunakan Kalimat Retoris
Kalimat retoris adalah kalimat pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Kalimat ini berfungsi sebagai introspeksi diri, kritik yang membangun, serta memberikan dukungan dan pesan terhadap pembaca.
2. Menggunakan Kata Kerja Material
Adanya kata kerja material dalam teks anekdot berfungsi untuk menunjukkan suatu aktivitas atau perbuatan yang nyata. Kata kerja ini berfungsi untuk membantu menjelaskan kronologi sebuah peristiwa.
3. Menggunakan Majas Sindiran
Majas sindiran adalah kata-kata kias yang menyatakan sindiran untuk meningkatkan kesan atau pengaruhnya ada pembaca. Majas sindiran terdiri atas tiga jenis seperti majas ironi, majas sinisme, dan majas sarkasme.
4. Menggunakan Kata Kiasan
Selain menggunakan majas, teks anekdot sering menggunakan kata kiasan. Itu merupakan jenis ungkapan yang bermakna lain dengan makna sesungguhnya. Kata kiasan dalam teks anekdot bisa berupa kata, frase, maupun sintaksis yang lebih luas.
5. Menggunakan Konjungsi Sebab-Akibat
Konjungsi sebab-akibat adalah kata penghubung yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi karena sebab akibat. Jenis konjungsi ini banyak digunakan pada teks anekdot yang menceritakan sebuah peristiwa atau kejadian.
Kata hubung yang digunakan pada jenis konjungsi ini adalah karena, oleh karena itu, maka, sehingga, dan oleh sebab itu.
6. Menggunakan Konjungsi Temporal
Konjungsi temporal adalah konjungsi yang berkaitan dengan waktu. Jenis konjungsi ini berfungsi untuk menghubungkan dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.
Kata yang digunakan, yaitu lalu, selanjutnya, sampai, sesudah, sejak, setelah itu, sampai, kemudian, awalnya, akhirnya, dan sebagainya.
7. Menggunakan Kalimat Imperatif
Kalimat imperatif adalah bentuk kalimat atau verba untuk mengungkapkan perintah atau larangan untuk melaksanakan suatu perbuatan.
(IPT)
