Konten dari Pengguna

Teks Khutbah 19 Juni 2026 untuk Referensi Khatib

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi teks khutbah 19 Juni 202. Foto: Unsplash.com/Muhammad Adil
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teks khutbah 19 Juni 202. Foto: Unsplash.com/Muhammad Adil

Teks khutbah 19 Juni 2026 menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu ditentukan banyaknya kepemilikan, melainkan keberkahan yang menyertai setiap nikmat.

Kesibukan mengejar urusan dunia sering membuat manusia lebih fokus pada hasil yang terlihat daripada karunia yang telah diterima.

Rasa syukur yang tumbuh bersama ketakwaan mampu menghadirkan ketenangan hati meskipun keadaan hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Teks Khutbah 19 Juni 2026 Tentang Bersyukur

Ilustrasi teks khutbah 19 Juni 202. Foto: Unsplash.com/Annas Arfnahri

Dikutip dari kemenag.go.id, berikut adalah teks khutbah 19 Juni 2026 yang mengangkat tema syukur atas nikmat Allah Swt., keberkahan rezeki, serta pentingnya hidup dalam ketakwaan.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Amma ba'du.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan bukan sekadar ucapan yang terucap dari lisan, melainkan sikap hidup yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Allah Swt. telah melimpahkan nikmat yang tidak dapat dihitung satu per satu. Sebagian nikmat tampak dalam bentuk harta benda, pekerjaan, rumah, kendaraan, dan kedudukan.

Sebagian lainnya hadir dalam bentuk kesehatan, keamanan, keluarga yang harmonis, waktu yang bermanfaat, serta iman yang menetap dalam hati.

Tidak sedikit manusia yang mengukur kebahagiaan hanya berdasarkan jumlah harta yang dimiliki.

Pandangan seperti ini sering mendorong seseorang untuk terus mengejar dunia tanpa mengenal batas. Segala tenaga dicurahkan demi menambah kepemilikan, sementara rasa syukur semakin memudar.

Padahal kenyataan kehidupan menunjukkan bahwa ketenangan tidak selalu berjalan seiring dengan banyaknya kekayaan. Ada orang yang hidup berkecukupan namun hatinya gelisah.

Ada pula yang hidup sederhana tetapi mampu menikmati hari-harinya dengan penuh rasa damai.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Perlu disadari bahwa rezeki merupakan hak prerogatif Allah Swt. Manusia diwajibkan berusaha dengan sungguh-sungguh, namun hasil akhirnya berada dalam ketetapan-Nya.

Besarnya modal tidak selalu menentukan besarnya keuntungan. Banyak usaha kecil yang terus berkembang, sementara usaha besar terkadang mengalami berbagai hambatan.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa batas."

Ayat tersebut mengajarkan bahwa rezeki tidak dapat dipahami hanya melalui hitungan matematis.

Oleh sebab itu, tidak pantas seseorang menghalalkan segala cara demi memperoleh tambahan harta. Kejujuran, amanah, dan kepatuhan terhadap syariat harus tetap menjadi landasan dalam mencari nafkah.

Segala nikmat yang telah diterima hendaknya disambut dengan rasa syukur. Syukur akan melahirkan rasa cukup dalam hati. Syukur juga menjaga manusia dari sifat tamak yang tidak pernah merasa puas terhadap apa yang dimiliki.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya, apabila manusia bersyukur maka Allah Swt. akan menambah nikmat yang telah diberikan.

Tambahan tersebut tidak hanya berupa harta benda, tetapi juga kesehatan, ketenteraman, keberkahan keluarga, dan kemudahan menjalani kehidupan.

Kesadaran bahwa harta hanyalah titipan akan melahirkan kebiasaan berbagi. Sedekah, infak, dan zakat menjadi jalan untuk membersihkan harta sekaligus membantu sesama. Harta yang digunakan di jalan kebaikan tidak akan sia-sia di sisi Allah Swt.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah merenungkan firman Allah Swt. dalam Surat Ath-Thalaq ayat 2 dan 3:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۝ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketakwaan akan membuka jalan keluar dari berbagai kesulitan. Ketakwaan juga menjadi sebab datangnya rezeki dari arah yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Tawakal kepada Allah Swt. merupakan sikap menyerahkan hasil terbaik setelah melakukan ikhtiar yang maksimal.

Semoga Allah Swt. menjadikan hati senantiasa bersyukur, memudahkan rezeki yang halal, serta meneguhkan langkah dalam ketaatan.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kembali memperkuat ketakwaan kepada Allah Swt. dalam seluruh aspek kehidupan.

Ketakwaan menjadi cahaya yang membimbing manusia ketika menghadapi berbagai ujian dan godaan dunia.

Perbanyak rasa syukur atas setiap nikmat yang diberikan. Syukur akan menjadikan hati lebih tenang, sementara ketakwaan akan menjaga langkah agar tetap berada di jalan yang benar.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَفِتْنَةٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

Teks khutbah 19 Juni 2026 ini mengingatkan bahwa keberkahan hidup tidak hanya terletak pada banyaknya harta, tetapi pada kedekatan kepada Allah Swt. dan kesungguhan dalam menaati-Nya.

Marilah menjadikan syukur, ketakwaan, dan tawakal sebagai bekal utama dalam menjalani kehidupan yang terus berubah dari waktu ke waktu. (Shofia)

Baca Juga: Khutbah Tahun Baru Islam 1447 H Tentang Resolusi Baru