Tembang Dhandhanggula Sastra Jawa: Pengertian, Makna, dan Contohnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tembang Dhandhanggula adalah salah satu jenis tembang macapat dalam sastra Jawa. Tembang ini memiliki ciri khas tertentu dalam hal jumlah baris, suku kata, dan rima.
Dikutip dari artikel jbbudaya.jogjabelajar.org berjudul Tembang Dhandhanggula, tembang ini terdiri dari 10 baris (gatra). Kemudian masing-masing baris memiliki jumlah suku kata tertentu dan berakhir dengan vokal tertentu, yaitu: 10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a.
Tembang ini juga sering digunakan untuk mengungkapkan perasaan yang mendalam, nasihat, dan ajaran-ajaran moral.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Tembang Dhandhanggula
Tembang Dhandhanggula adalah salah satu dari sebelas tembang macapat dalam tradisi sastra Jawa. Macapat adalah bentuk puisi tradisional yang memiliki aturan metrum atau pola tertentu yang mengatur jumlah baris (gatra), jumlah suku kata dalam setiap baris (guru wilangan), dan bunyi akhir suku kata (guru lagu).
Tembang ini memiliki struktur yang tersedia pada umumnya sebagai berikut:
Jumlah gatra (baris): 10
Guru wilangan (jumlah suku kata dalam setiap baris): 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7
Guru lagu (bunyi akhir suku kata): i, a, e, u, i, a, u, a, i, a
Berikut adalah contoh pola tembang Dhandhanggula:
Gatra 1: 10 suku kata, berakhir dengan bunyi 'i'
Gatra 2: 10 suku kata, berakhir dengan bunyi 'a'
Gatra 3: 8 suku kata, berakhir dengan bunyi 'e'
Gatra 4: 7 suku kata, berakhir dengan bunyi 'u'
Gatra 5: 9 suku kata, berakhir dengan bunyi 'i'
Gatra 6: 7 suku kata, berakhir dengan bunyi 'a'
Gatra 7: 6 suku kata, berakhir dengan bunyi 'u'
Gatra 8: 8 suku kata, berakhir dengan bunyi 'a'
Gatra 9: 12 suku kata, berakhir dengan bunyi 'i'
Gatra 10: 7 suku kata, berakhir dengan bunyi 'a'
Fungsi, Makna, dan Contoh Tembang Dhandhanggula
Tembang ini sering digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang bersifat filosofis, nasihat moral, dan ajaran kehidupan. Tembang ini menggambarkan suasana hati yang penuh kebahagiaan dan kedamaian, seperti namanya yang berarti "gula-gula" atau sesuatu yang manis dan menyenangkan.
Berikut ini adalah contoh bait dari Tembang ini:
1. Tembang I
Dhandhanggula kang sumyung janma, (10i)
ing nguni sepi datan ana, (10a)
swargi marma pinandhita, (8e)
samya ginandhul wahyu, (7u)
ri agung asmara jati, (9i)
sinurung ing tyas raharja, (7a)
kang poma tumetes ing luh, (6u)
lir sang bagas pamrihira, (8a)
ngesthi kayun anenggih, (12i)
mring sangkan paranipun wong lega. (7a)
Dalam tembang ini terkandung ajaran-ajaran tentang kehidupan yang penuh dengan kebijaksanaan. Penggunaan tembang ini dalam berbagai kesempatan seperti upacara adat, tembang dolanan, hingga pengajaran moral di masyarakat Jawa.
2. Tembang II
Manis tumrap ing ati, (10i)
sinareng sasmitaning jaman, (10a)
kadya bulan nemben purnama, (8e)
sumebar ing sakti bumi, (7u)
padhang tanpa petengi, (9i)
mrih kang padha manembah, (7a)
ing Hyang Kang Maha Luhur, (6u)
lila ing reh manggalih, (8a)
narima ing pandumane, (12i)
ing urip kanthi sabar. (7a)
Berikut ini penjelasan kandungan makna yang ada di dalam tembang diatas,
Manis tumrap ing ati, (10i) (Manis terasa di hati): Baris ini menggambarkan perasaan bahagia dan kedamaian yang ada dalam hati seseorang.
Sinareng sasmitaning jaman, (10a) (Bersamaan dengan isyarat zaman): Mengisyaratkan bahwa perasaan bahagia dan damai tersebut selaras dengan tanda-tanda zaman atau kondisi waktu tertentu.
Kadya bulan nemben purnama, (8e) (Seperti bulan yang baru purnama): Menggambarkan keadaan yang cerah dan indah seperti bulan purnama yang bersinar terang.
Sumebar ing sakti bumi, (7u) (Menyebar di seluruh bumi): Menggambarkan bahwa kebahagiaan dan kedamaian tersebut dirasakan secara luas.
Padhang tanpa petengi, (9i) (Terang tanpa kegelapan): Melambangkan kondisi yang penuh dengan kebaikan tanpa ada kesulitan atau kesedihan.
Mrih kang padha manembah, (7a) (Agar semua menyembah): Mengajak orang-orang untuk selalu beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ing Hyang Kang Maha Luhur, (6u) (Kepada Tuhan Yang Maha Luhur): Menekankan pentingnya pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Lila ing reh manggalih, (8a) (Ikhlas dalam hati): Mengajarkan sikap ikhlas dalam menghadapi segala keadaan.
Narima ing pandumane, (12i) (Menerima apa yang diberikan): Mengajarkan sikap sabar dan menerima segala rezeki yang diberikan Tuhan.
Ing urip kanthi sabar. (7a) (Dalam hidup dengan sabar): Menekankan pentingnya kesabaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Tembang di atas juga mengandung beberapa filosofi utama yang relevan dengan kehidupan dan ajaran moral dalam tradisi Jawa. Berikut adalah beberapa filosofi yang dapat diambil dari tembang tersebut:
Filosofi Kebahagiaan dan Kedamaian Kebahagiaan sejati (Manis tumrap ing ati). Filosofi ini menekankan bahwa kebahagiaan sejati datang dari hati yang tulus dan ikhlas. Kebahagiaan yang berasal dari dalam diri adalah yang paling berharga dan tidak bergantung pada hal-hal eksternal.
Filosofi Keselarasan dengan Alam dan Zaman Keselarasan dengan zaman (Sinareng sasmitaning jaman). Mengajarkan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang selaras dengan tanda-tanda zaman dan kondisi lingkungan sekitar. Ini menekankan pentingnya kepekaan dan adaptasi terhadap perubahan yang terjadi di dunia.
Filosofi Keindahan dan Kebaikan Keindahan dan Terang (Kadya bulan nemben purnama, Padhang tanpa petengi). Hal ini Menggambarkan bahwa kehidupan yang diisi dengan kebahagiaan dan kebaikan akan memancarkan keindahan dan terang, seperti bulan purnama yang menerangi malam. Filosofi ini mengajarkan pentingnya menjaga hati dan pikiran agar selalu dipenuhi dengan hal-hal baik dan positif.
Filosofi Ketuhanan dan Pengabdian Pengabdian kepada Tuhan (Mrih kang padha manembah, Ing Hyang Kang Maha Luhur). Menekankan pentingnya menjalani hidup dengan selalu beribadah dan menyembah Tuhan. Filosofi ini mengajarkan bahwa kedamaian dan kebahagiaan sejati dapat dicapai dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Filosofi Ikhlas dan Penerimaan Keikhlasan (Lila ing reh manggalih). Mengajarkan pentingnya memiliki hati yang ikhlas dalam menjalani kehidupan. Keikhlasan membantu seseorang untuk menerima segala keadaan dengan lapang dada dan tenang. Penerimaan (Narima ing pandumane). Mengajarkan sikap menerima segala rezeki dan ujian yang diberikan Tuhan dengan rasa syukur. Penerimaan ini penting untuk mencapai ketenangan dan kepuasan dalam hidup.
Filosofi Kesabaran Kesabaran (Ing urip kanthi sabar). Menekankan bahwa kesabaran adalah kunci dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Dengan kesabaran, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan bijaksana.
3. Tembang III
Urip sakjroning sepi, (10i)
kanthi hati kang mulya, (10a)
tanpa hawa nepsu, (8e)
nalikaning rahayu, (7u)
reksa lila nalar kanti, (9i)
mugi tansah mulya, (7a)
tanpa ana cubo, (6u)
ing mangsa kang ayom, (8a)
marang sak kabeh kang eling, (12i)
kang ngambah tentreming ati. (7a)
Tembang ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam kesederhanaan dan ketenangan hati. Dengan menjalani hidup tanpa ambisi yang berlebihan dan menerima segala sesuatu dengan ikhlas, seseorang dapat mencapai kedamaian dan kebahagiaan.
Ajaran ini menekankan pentingnya menjaga hati yang tulus dan pikiran yang tenang dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Secara keseluruhan, tembang ini mengajarkan nilai-nilai moral yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, seperti kebahagiaan sejati, keselarasan dengan alam, keindahan dan kebaikan, pengabdian kepada Tuhan, keikhlasan, penerimaan, dan kesabaran.
Nilai-nilai ini menjadi dasar filosofi hidup yang dapat membawa kedamaian, kebahagiaan, dan ketenangan dalam kehidupan seseorang.
Sehingga, untuk membuat Tembang ini memerlukan pemahaman tentang aturan-aturan yang mengatur jumlah baris (gatra), jumlah suku kata dalam setiap baris (guru wilangan), dan bunyi akhir suku kata (guru lagu).
Tembang ini mengandung ajaran tentang pentingnya kebahagiaan yang sejati, yang berasal dari hati yang ikhlas dan penuh rasa syukur. Kebahagiaan sejati digambarkan seperti terang bulan purnama yang menyebar di seluruh bumi, membawa kedamaian dan ketenteraman.
Tembang ini juga mengajarkan agar selalu beribadah kepada Tuhan, bersikap ikhlas, menerima segala pemberian Tuhan dengan rasa syukur, dan menjalani hidup dengan sabar. Ajaran-ajaran ini sangat relevan untuk mencapai kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan sejati.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya Tembang Dhandhanggula ini dalam menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi. Selain itu, tembang ini juga tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan penyampaian pesan-pesan luhur kepada masyarakat.(Win)
Baca juga: Majas Perbandingan: Pengertian, Ciri, Jenis, dan Contohnya
