Teori-teori dalam Pendekatan Konsistensi Beserta Contohnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebutkan dan jelaskan teori-teori dalam pendekatan konsistensi? serta berikan contohnya dalam kehidupan Anda menjadi pembahasan yang menarik dalam ilmu komunikasi dan psikologi sosial.
Pendekatan konsistensi menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya selalu berusaha menjaga keselarasan antara pikiran, keyakinan, sikap, dan perilaku yang dimiliki.
Teori-teori dalam Pendekatan Konsistensi Beserta Contohnya dalam Kehidupan Sosial
Sebutkan dan jelaskan teori-teori dalam pendekatan konsistensi? serta berikan contohnya dalam kehidupan Anda.
Berikut penjelasannya yang dikutip dari jurnal Disonansi Kognitif pada Perilaku Seks Pranikah oleh Inge Hutagalung (2016).
1. Teori Disonansi Kognitif
Teori disonansi kognitif diperkenalkan oleh Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang akan merasa tidak nyaman ketika tindakan yang dilakukan bertentangan dengan keyakinan atau sikap yang dimilikinya.
Untuk mengurangi rasa tidak nyaman itu, seseorang biasanya akan mengubah sikap, mencari pembenaran, atau menyesuaikan perilakunya agar kembali selaras.
Contohnya, seseorang mengetahui bahwa begadang tidak baik bagi kesehatan, tetapi ia tetap tidur larut malam setiap hari. Akibatnya muncul perasaan bersalah atau tidak nyaman karena perilaku yang dilakukan tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
2. Teori Lapangan
Teori lapangan dikembangkan oleh Kurt Lewin yang menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh kondisi diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Lingkungan sosial memiliki peran besar dalam membentuk persepsi dan tindakan seseorang.
Perilaku tidak hanya berasal dari faktor pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh situasi yang dihadapi.
Sebagai contoh, seorang siswa sebenarnya rajin belajar, tetapi ketika berada di lingkungan pertemanan yang kurang mendukung pendidikan, ia bisa ikut menjadi malas belajar agar diterima dalam kelompok tersebut.
3. Konsep Konsistensi Kognitif
Konsep konsistensi kognitif berasal dari pemikiran Jean Piaget yang menjelaskan bahwa manusia selalu berusaha menyesuaikan pengalaman dan pengetahuan agar tercipta keseimbangan dalam pikirannya.
Individu akan merasa nyaman ketika tindakan dan keyakinannya berjalan selaras. Misalnya, seseorang yang percaya bahwa olahraga penting untuk kesehatan akan berusaha rutin berolahraga setiap minggu. Hal tersebut dilakukan agar perilaku yang dijalani sesuai dengan keyakinan yang dimiliki.
4. Teori Penilaian Sosial
Teori penilaian sosial dikembangkan oleh Muzafer Sherif. Teori ini menjelaskan bahwa setiap orang memiliki acuan atau nilai tertentu dalam menilai sebuah pesan atau informasi.
Penilaian seseorang biasanya dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan keluarga, budaya, dan keyakinan pribadi.
Contohnya, seseorang yang tumbuh di lingkungan keluarga religius cenderung menolak perilaku yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Hal itu terjadi karena nilai keluarga menjadi pedoman utama dalam menentukan sikap terhadap suatu masalah.
Itulah teori-teori dalam pendekatan konsistensi beserta contohnya yang menjelaskan bagaimana manusia berusaha menjaga keselarasan antara pikiran, sikap, dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. (shr)
Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Perspektif Perbandingan Sosial? Ini Penjelasannya
