Tradisi Munggahan Sebelum Puasa yang Masih Dilestarikan hingga Kini

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi Munggahan sebelum puasa menjadi momen yang selalu dinantikan oleh masyarakat menjelang datangnya bulan suci ramadhan.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan juga bentuk persiapan lahir dan batin untuk menyambut bulan penuh berkah.
Tradisi Munggahan Sebelum Puasa
Tradisi Munggahan sebelum puasa masih menjadi salah satu warisan budaya masyarakat yang terus dijaga hingga sekarang, khususnya menjelang datangnya bulan suci ramadhan.
Dikutip dari jurnal Budaya Unik “Munggahan” Menjelang Bulan Ramadhan Di Kabupaten Subang Jawa Barat : Studi Antropologi Al-Qur’an oleh Alam Tarlam,dkk (2024) kata munggahan sendiri berasal dari makna “naik”.
Dimaknai sebagai ajakan untuk meningkatkan diri menuju keadaan yang lebih baik dalam menyambut bulan penuh berkah. Tradisi ini tidak hanya sekadar seremoni tahunan, tetapi juga sarat nilai spiritual dan sosial yang mendalam.
Dalam pelaksanaannya, munggahan mencerminkan ungkapan rasa syukur atas berbagai nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah.
Masyarakat memanfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga, tetangga, maupun kerabat sebagai bentuk refleksi diri sebelum memasuki ramadhan.
Di balik kesederhanaannya, tradisi ini menyimpan pesan penting tentang pentingnya memperbaiki hubungan dengan sesama dan dengan Sang Pencipta.
Nilai gotong royong dan saling tolong-menolong juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari munggahan. Semangat kebersamaan ini menunjukkan adanya perpaduan budaya antara ajaran Islam dengan kearifan lokal.
Akulturasi tersebut membuat tradisi munggahan memiliki karakter unik, religius sekaligus kental dengan nilai budaya lokal.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dan alam sebagai ciptaan Tuhan. Melalui munggahan, masyarakat diajak untuk hidup seimbang tidak hanya fokus pada ibadah ritual, tetapi juga pada hubungan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
Hingga kini, tradisi munggahan tetap bertahan di tengah arus modernisasi. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa kearifan lokal dan nilai keagamaan dapat berjalan beriringan.
Tradisi Munggahan sebelum puasa menjadi pengingat bahwa menyambut ramadhan tidak hanya tentang kesiapan ibadah, tetapi juga tentang memperkuat hubungan sosial dan spiritual.
Dengan terus melestarikannya, masyarakat turut menjaga kekayaan budaya sekaligus meneguhkan semangat kebersamaan menjelang bulan suci. (shr)
Baca juga: Susunan Acara Tarhib Ramadhan 2026 untuk Referensi Panitia
