Bisnis burung berkicau, laba tak pernah galau

KICAU burung di halaman rumah bisa menjadi salah satu obat stres yang mujarab bagi sebagian orang. Untuk mereka yang hidup di pedesaan tentu tidak terlalu susah menikmatinya, namun bagi mereka yang tinggal di kota, tentu jadi hal yang langka.
Memelihara burung berkicau di rumah menjadi alternatif bagi penghobi burung di kota untuk tetap bisa menikmati kicau indah. Kondisi ini menimbulkan peluang bisnis. Harga jual dan margin tinggi menjadikan penangkaran (breeding) burung berkicau peluang bisnis yang mengiurkan.
Seperti yang dituturkan Rishad, pria 45 tahun yang tinggal di Gresik ini sukses menjadi penangkar burung burung berkicau dalam 15 tahun terakhir. Kini, tiap bulan ia bisa mengantongi untung hingga Rp 30 juta dari berjualan burung berkicau khususnya jenis murai.
Harga burung berkicau, khususnya murai batu, di pasaran memang terus melonjak, apalagi jika burung tersebut sudah pernah memenangi kontes burung berkicau skala nasional. Di awal memulai usaha penangkaran burung pada 1999, harga jual murai batu dewasa rata-rata hanya berkisar Rp 900 ribu. "Saat ini harga paling mahal bisa tembus Rp 200 juta, setara mobil Innova," tuturnya.
Awalnya, Rishad memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahnya untuk membuat 2 kandang berukuran 2x1 m2 dengan tinggi 2 meter. Kini, kandangnya sudah bertambah samapi 20 buah.
Ia menuturkan, dalam setahun, setidaknya murai batu bisa bertelur sampai 10 kali dengan tiap jumlah telur rata-rata 3 butir. Telur-telur yang telah menetas tersebut kemudian dibiakkan menjadi anakan. Anakan usia 6 bulan sekarang sudah laku dijual setidaknya Rp 2 juta. Jika dibiakkan sampai dewasa, dengan usia 2-3 tahun, harganya bisa melonjak sampai Rp 5 juta.
"Kalau bibitnya unggul, sering memenangkan lomba burung berkicau, harga dewasa bisa lebih mahal lagi, sampai Rp 10 juta," katanya.
Setiap bulan, Rishad mengaku bisa mengeluarkan biaya pemeliharaan hingga Rp 15 juta, itu termasuk pakan dan gaji 2 orang pegawai yang bertugas mengawasi pakan, membersihkan kandang, hingga melatih suara burung-burung tersebut.
Pembeli pun datang sendiri kerumahnya untuk memilih burung kesukaan mereka. Pemasaranya, kini sudah sampai Kalimantan, Sulawesi, Sumatera selain di Pulau Jawa sendiri.
Meski untungnya sangat menggiurkan, bisnis ini juga memiliki berbagai tantangan. Yang pertama adalah ketersediaan pakan khusus untuk burung berkicau yang sulit didapat. Burung berkicau seperti jenis murai batu gemar memakan kroto atau telur semut selai juga jangkrik dan ulat kandang.
Khusus untuk kroto belum bisa diproduksi secara massal, maka peternak burung berkicau harus menggantungkan pasokan dari para pencari kroto. Lantaran harus mencari di alam, pasokannya dan harganya pun tidak bisa stabil.
Untuk berburu kroto, Rozi harus rajin berkeliling ke pasar-pasar burung di wilayah Surabaya, Gresik, Lamongan hingga Mojokerto. “Itupun pasokannya tidak selalu ada. Kadang sehari saya hanya bisa dapat 3 ons-5 ons, padahal kebutuhannya bisa sampai 1 kilo sehari atau sekitar 30 kilo sebulan,” ujarnya.
Harga kroto pun berfluktuasi mengikuti ketersediaan suplai. Jika pasokan di pasar sedang banyak, harganya berkisar Rp 18 ribu per ons. Tapi jika sedang langka, harga Rp 25 ribu per ons pun harus rela ditebus.
Selain masalah pakan, tantangan lain dalam memelihara burung berkicau adalah ancaman pemangsa seperti kucing yang banyak berkeliaran di sekitar kandang. Pernah, bapak 2 anak ini harus merelakan burung murai batu yang sudah ditawar pembeli seharga Rp 13 juta mati karena dimangsa kucing kampung.
"Jadi di kampung saya ini ada kucing yang harganya Rp 13 juta," ujarnya berkelakar.
Lantaran memelihara puluhan burung itu juga, Rishad mengaku tidak pernah bisa berlebaran bareng istri dan anak-anaknya di desa. “Harus ada yang bergantian menjaga dan memberi makan burung dirumah, kalau tidak, bisa mati semua jka ditinggal beberapa hari saja,” katanya sanbil tertawa.
