Konten Media Partner

Menjadi trendsetter dalam bisnis

Kabarbisnis.com

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menjadi trendsetter dalam bisnis
zoom-in-whitePerbesar

PELUANG wirausaha terbuka lebar asalkan pebisnis jeli mencermati peluang. Hanya saja, pebisnis pemula kerapkali tergiur dengan bisnis yang sudah eksis, populer dan dilihat banyak orang lebih menguntungkan. Akhirnya pemula bersaing dengan pebisnis lama, dan usahanya pun tak berusia panjang.

Akademisi pendiri School for Entrepreneurs, Prof. Rhenald Kasali PhD menegaskan, mindset pebisnis sebagai follower harus diubah. Pebisnis, katanya lagi, perlu memiliki pola pikir menciptakan pasar masa depan.

“Pebisnis perlu memiliki multi perspektif. Meyakini bahwa di mana ada problem pasti ada solusi,” tutur Rhenald, menegaskan, sebuah masalah bisa melahirkan ide peluang bisnis. Artinya, bisnis yang dikelola menjadi solusi dari masalah.

Dengan cara ini, pebisnis bukan lagi menjadi follower. Pebisnis perlu menggali masalah, mencipta trensetter bisnis baru, sebagai solusi dari masalah tersebut.

"Ada tiga kaidah dalam mencuatkan suatu hal menjadi wabah (trendsetter)," kata Malcolm Gladwell dalam bukunya Tipping Point. Ketiga hal tersebut ialah tentang yang sedikit ( the law of the few), faktor kelekatan (the stickiness factor), dan kekuatan konteks (the power of context).

Sebagai bahan acuan, berikut beberapa contoh menjadi trendsetter dengan cara membidik aktor pembuat tipping point:

1. Apple Computer

Apple computer, menyadari betul adanya konsumen yang berkarakter unik tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap pola pembelian kebanyakan orang. Perusahaan ini membidik orang-orang yang berjiwa unik, berbeda, dan kreatif yang memiliki semangat menjadi lebih baik sebagai model iklannya. Bahasa iklan yang mereka gunakan adalah sebagai berikut :

“Mereka adalah para orang-orang gila. Yang tak cocok dengan lingkungan. Para pemberontak. Pembuat keonaran. Orang-orang yang melihat dengan cara yang berbeda. Mereka tidak menyukai aturan. Dan mereka tidak memiliki penghormatan kepada status quo. Anda dapat memuji mereka, tidak setuju dengan pendapat mereka, tidak mempercayai mereka, mengagungkan atau menjelek-jelekkan mereka. Tapi satu hal yang tidak dapat Anda lakukan adalah mengabaikan mereka. Karena mereka telah mengubah banyak hal. Mereka menemukan. Mereka berimajinasi. Mereka mencari. Mereka menciptakan. Mereka menginspirasi. Mereka mendorong perlombaan umat manusia maju ke depan … Kami membuat alat bagi orang-orang seperti mereka. Meskipun beberapa melihat mereka sebagai orang-orang gila, kami melihat mereka sebagai orang genius. Karena orang-orang yang cukup gila untuk berpikir bahwa mereka dapat mengubah dunia, adalah orang-orang yang melakukannya.”

2. Unit Pemasaran P&G (Procter & Gamble)

Procter & Gamble, sebuah perusahaan multinasional, yang berpusat di Amerika, sangat memahami peran sebagian kecil remaja yang mempunyai kedudukan unik, tetapi pengaruhnya luar biasa, terutama mereka ini mempunyai pengaruh terhadap pola merek yang mereka beli. Karena itu P&G mengadakan strategi yang ekstensif menangani masalah tersebut, sebagaimana terlihat pada kutipan berikut:

Unit pemasaran ini mengumpulkan lebih dari 200 ribu remaja yang merupakan pelanggan terbaik dari pesaing P&G. Anak-anak ini dipilih berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh P&G untuk menentukan ciri-ciri remaja yang dapat menentukan opini (vocal minority, trend setter). Para remaja ini diberikan sampel-sampel Cover Girl dan produk-produk Old Spice yang sedang dalam pengembangan; mereka kemudian diminta umpan baliknya agar dapat membantu perusahaan dapat lebih memahami kebutuhan para remaja.

3. Oprah Winfrey

Pengaruh Oprah Winfrey pada gaya hidup, pola pembelian barang-barang tertentu bagi kebanyakan wanita Amerika begitu besar. Satu orang Oprah Winfrey dan tim kreatifnya mampu meningkatkan penjualan produk suatu perusahaan hingga mencapai 75 persen pelanggan baru, seperti pada kutipan berikut:

Kemampuan Oprah untuk berhubungan secara emosional dengan wanita AS telah menghasilkan pengaruh yang tinggi pada perilaku dan pemikiran mereka. Sebuah produk kosmetik yang bernama Origins dan Chico’s, pengecer khusus pakaian dan aksesori wanita dimana jam tangan seharga 38 dolar-nya ditampilkan dalam tayangan yang sama, memberi tahu bahwa pelanggan membanjiri toko dan pusat telepon setelah tayangan Oprah itu – dan 75 persen telepon berasal dari pelanggan baru.

Seorang entrepreneur memang dituntut untuk menciptakan hal-hal baru, tidak hanya menjadi follower, tapi trendsetter. Guna memuluskan visi tersebut seorang entrepreneur harus jeli terhadap kondisi lingkungan yang berkembang, memanfaatkan moment kemudian menyelaraskan ide dengan konteks yang ada. Dalam hal ini influencer dapat kita manfaatkan guna mencapai tujuan tersebut.