Konten dari Pengguna

Gaji Naik, Kenapa Uang Tetap Habis? Masalahnya Bukan Selalu Penghasilan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kahfi Khanahaya R tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gaji Naik, Kenapa Uang Tetap Habis? Masalahnya Bukan Selalu Penghasilan. Gambar dibuat dengan bantuan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gaji Naik, Kenapa Uang Tetap Habis? Masalahnya Bukan Selalu Penghasilan. Gambar dibuat dengan bantuan AI.

Pertanyaan tersebut menarik karena selama ini masalah keuangan pribadi sering disederhanakan menjadi persoalan pendapatan. Seolah-olah seseorang akan otomatis lebih sejahtera ketika mendapatkan kenaikan gaji. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang penghasilannya meningkat dua kali lipat, tetapi tetap tidak memiliki tabungan. Sebaliknya, ada orang dengan penghasilan yang relatif biasa saja tetapi mampu memiliki dana darurat dan investasi.

Mungkin masalahnya bukan hanya berapa banyak uang yang masuk, tetapi berapa banyak gaya hidup yang ikut naik bersamanya.

Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle inflation. Ketika pendapatan meningkat, standar hidup perlahan ikut meningkat. Dulu makan di warteg dianggap cukup, setelah gaji naik mulai terbiasa makan di restoran. Dulu menggunakan transportasi umum, setelah pendapatan meningkat mulai merasa perlu memiliki kendaraan. Dulu membeli barang ketika benar-benar membutuhkan, sekarang membeli karena sedang diskon.

Masalahnya, kenaikan penghasilan bersifat nominal, sementara keinginan manusia memiliki kemampuan untuk berkembang tanpa batas.

Kita juga hidup dalam lingkungan yang semakin memudahkan konsumsi. Hanya dengan beberapa sentuhan, seseorang dapat membeli makanan, pakaian, gadget, tiket perjalanan, bahkan melakukan pembayaran dengan uang yang sebenarnya belum dimiliki melalui fasilitas kredit atau paylater.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks. Masyarakat tidak hanya menghadapi kenaikan harga, tetapi juga menghadapi industri yang semakin pintar membuat kita ingin membeli.

Inflasi memang nyata. Pada Agustus 2026, inflasi Indonesia tercatat 3,19 persen secara tahunan. Beberapa kelompok pengeluaran bahkan mengalami tekanan yang lebih tinggi. Artinya, keluhan masyarakat mengenai meningkatnya biaya hidup bukan sepenuhnya ilusi.

Namun, menjadikan inflasi sebagai satu-satunya alasan mengapa gaji selalu habis juga terlalu sederhana.

Ada perbedaan antara “biaya hidup meningkat” dan “standar hidup meningkat”.

Ketika harga kebutuhan pokok naik, kita memang tidak memiliki banyak pilihan. Tetapi ketika gaji naik lalu kita mengganti ponsel yang sebenarnya masih berfungsi, meningkatkan frekuensi nongkrong, berlangganan lebih banyak layanan digital, atau membeli barang karena takut kehilangan promo, persoalannya sudah bergeser dari inflasi menjadi perilaku konsumsi.

Ironisnya, masyarakat modern sering merasa sedang menghemat ketika sebenarnya sedang berbelanja.

Diskon 30 persen tidak berarti kita menghemat 30 persen jika barang tersebut sebenarnya tidak kita butuhkan. Gratis ongkir bukan berarti gratis. Cashback bukan pendapatan. Dan limit paylater bukan tambahan gaji.

Di sinilah literasi keuangan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan membuat anggaran atau menghitung bunga. Literasi keuangan yang sesungguhnya adalah kemampuan membedakan kebutuhan, keinginan, kemampuan dan gengsi.

Kita perlu berani bertanya sebelum membeli: “Kalau barang ini tidak sedang viral, apakah saya tetap ingin membelinya?”

Pertanyaan sederhana tersebut bisa menjadi rem yang sangat penting.

Namun, ada satu hal yang juga perlu dikritisi: jangan sampai seluruh kesalahan dibebankan kepada individu. Tidak adil mengatakan bahwa seseorang miskin karena tidak mampu mengatur uang, sementara pada saat yang sama biaya perumahan, pendidikan, transportasi, kesehatan dan kebutuhan dasar terus meningkat.

Tidak semua orang memiliki ruang yang sama untuk menabung.

Bagi seseorang dengan penghasilan Rp5 juta dan seseorang dengan penghasilan Rp20 juta, nasihat “sisihkan 20 persen untuk investasi” memiliki konsekuensi yang sangat berbeda. Karena itu, literasi keuangan tidak boleh berubah menjadi budaya menyalahkan korban.

Kita perlu membedakan antara orang yang konsumtif karena pilihan dan orang yang memang penghasilannya belum mampu mengejar kebutuhan hidup.

Pada akhirnya, kenaikan gaji memang penting. Upah yang layak tetap menjadi fondasi kesejahteraan. Tetapi kenaikan pendapatan tanpa pengelolaan keuangan hanya akan membuat seseorang memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mengonsumsi.

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi, “Kapan gaji saya naik?”

Melainkan, “Jika gaji saya naik besok, apakah kondisi keuangan saya benar-benar akan menjadi lebih sehat?”

Sebab uang yang lebih banyak tidak selalu membuat seseorang lebih kaya. Kadang, uang yang lebih banyak hanya membuat seseorang mampu membeli lebih banyak hal yang sebelumnya tidak mampu ia beli.

Kaya bukan sekadar tentang berapa besar pendapatan. Kaya juga tentang seberapa besar kendali kita terhadap pendapatan tersebut.