Konten dari Pengguna

Tren Junk Food pada Remaja: Ancaman Tersembunyi bagi Kesehatan

kamilahzayanti

kamilahzayanti

Mahasiswa Farmasi Semester 2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari kamilahzayanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamilah Zayanti (12410021010019) Prodi Farmasi

contoh gambar Junk Food, sumber foto : Kamilah Zayanti
zoom-in-whitePerbesar
contoh gambar Junk Food, sumber foto : Kamilah Zayanti

Makanan cepat saji atau junk food menjadi lebih umum dan menjadi bagian dari gaya hidup modern, khususnya di kalangan remaja pada era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini. Remaja cenderung mengonsumsi makanan berdasarkan rasa, kemasan menarik, kemudahan akses, dan faktor pergaulan, bukan lagi berdasarkan nilai gizi. Menurut penelitian Laksono et al., (2022:37), mahasiswa yang sering mengonsumsi makanan cepat saji mengalami keluhan kesehatan seperti peningkatan berat badan (64,3%), rasa mengantuk (53,6%), dan gangguan tenggorokan (64,3%). Tren ini sangat memprihatinkan mengingat masa remaja merupakan fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh.

Mengurai Makna Junk Food

Menurut Sari, R. W., & Sapril (2008:9), Junk food merupakan suatu makanan yang tinggi gula, lemak dan garam yang dapat membahayakan kesehatan tubuh bila dikonsumsi secara berlebihan. Junk food secara harfiah dapat didefinisikan sebagai sumber makanan “sampah”, yaitu sebuah makanan yang miskin nutrisi namun tinggi kalori, lemak jenuh, gula, dan garam. Istilah ini mengacu pada jenis makanan yang tidak memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan, tetapi justru dapat menjadi pemicu berbagai penyakit jika dikonsumsi terus-menerus. Saras (2023:2) dalam bukunya yang berjudul Menggali Dampak Junk Food: Membedah Realitas dan Mencari Solusi menjelaskan bahwa junk food bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol dari pola hidup instan yang mengabaikan aspek Kesehatan dan keberlanjutan.

Dalam konteks remaja, junk food identik dengan gaya hidup modern yang cepat dan praktis. Konsumsi makanan ini kerap dikaitkan dengan budaya nongkrong, kebiasaan mengikuti tren, serta minimnya pemahaman akan kandungan nutrisi dalam makanan. Padahal, pemilihan makanan yang sehat sangat penting untuk menunjang pertumbuhan fisik dan perkembangan mental yang optimal.

Karakteristik dan Alasan Para Remaja Mengonsumsi Junk Food

Penelitian oleh Nikmah (2024:60) menunjukkan bahwa sebagian besar remaja usia 19-22 tahun memiliki tingkat pemahaman tinggi mengenai junk food, namun tetap memilihnya karena alasan praktis, murah, enak, dll. Jenis junk food yang popular meliputi mie instan, burger, gorengan, minuman bersoda, dan makanan cepat saji lainnya.

Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku konsumsi ini antara lain:

• Rasa yang enak dan gurih

• Penyajian yang cepat dan praktis

• Tempat makan yang nyaman untuk berkumpul

• Pengaruh teman sebaya dan media sosial

• Kurangnya waktu atau kemampuan untuk menyiapkan makanan sehat

Temuan ini diperkuat oleh Pamelia (2018:147) yang menyatakan bahwa junk food sering dipilih karena kepraktisan dan kenyamanan tempat, serta pengaruh lingkungan sekitar. Tempat makan yang menyediakan layanan cepat dan nyaman menjadi daya Tarik bagi remaja, terlebih jika didukung fasilitas seperti Wi-Fi gratis. Penelitian oleh Suhada et al., (2019:44) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji dan juga pada siswa-siswi SMA (remaja), meskipun korelasinya rendah.

Dampak Kesehatan dari Konsumsi Junk Food Berlebihan

Dampak negatif dari konsumsi junk food secara rutin memiliki variasi yang luas dan telah tervalidasi dalam berbagai penelitian:

• Obesitas: Kebiasaan hidup modern, seperti mengonsumsi makanan cepat saji atau fast food yang mengandung banyak kalori dan lemak tetapi kurang vitamin, serat, dan mineral dapat menyebabkan obesitas pada anak-anak dan remaja (Damapoli et al., 2013).

• Penyakit jantung dan hipertensi: Kandungan garam dan lemak trans yang tinggi meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular (Pamelia, 2018).

• Diabetes melitus tipe 2: Gula tambahan yang tinggi pada junk food menyebabkan lonjakan kadar glukosa darah.

• Gangguan metabolisme dan kolesterol: Junk food mengandung zat aditif yang dapat merusak system metabolisme dan menyebabkan kadar kolesterol tinggi (Alkhair et al., 2023) .

• Kerusakan gigi dan gangguan pencernaan: Makanan manis dan asam berlebih mengganggu keseimbangan pH mulut dan dapat menyebabkan gigi berlubanhg serta gangguan lambung.

• Kanker: Asupan lemak jenuh yang berlebihan dapat memicu obesitas, yang meningkatkan resiko kanker payudara (Dewi, 2024).

• Stroke: Stroke pada usia muda dapat diakibatkan dari kebiasaan pola makan yang tidak sehat, seperti mengkonsumsi makanan cepat saji.

Strategi Edukasi dan Perubahan Sikap Konsumtif

Strategi edukasi tidak hanya mencakup informasi tentang kandungan gizi, tetapi juga pentingnya membentuk sikap dan norma konsumsi yang sehat. Penelitian Tazkiah et al., (2024:109) menunjukkan bahwa norma subjektif dan sikap yang sangat memengaruhi jumlah junk food yang dikonsumsi oleh remaja. Oleh karena itu, pendekatan edukasi harus menyasar aspek psikososial, bukan hanya aspek medis.

Farmasis tetap dapat memainkan peran strategis dalam edukasi public, penyuluhan gizi, dan promosi kesehatan di lingkungan sekolah dan kampus dapat mengubah kebiasaan konsumsi remaja secara perlahan. Kegiatan ini bisa dikemas dalam bentuk seminar kesehatan, kampanye literasi gizi, kolaborasi dengan instansi pendidikan, dan penyuluhan berbasis komunitas.