Konten Media Partner

120 Desa di Bali Tergolong Rawan Bencana

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Akibat gempa bumi sejumlah rumah di Karangasem, Bali mengalami kerusakan - IST
zoom-in-whitePerbesar
Akibat gempa bumi sejumlah rumah di Karangasem, Bali mengalami kerusakan - IST

Dari 716 desa di Bali sekitar 120 desa yang masuk zona merah yang berpotensi rawan bencana. Potensi itu tidak hanya karena cuaca ektrim tetapi juga karena gempa dan juga bisa saja berpotensi tsunami.

"Penyebab masuk zona merah tergantung pada karakteristik daerahnya," kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Bali I Made Rentin, di Denpasar, Bali, Kamis (11/11).

"Saya contohkan, di Jembrana ada Desa Peracak, dia potensi ancaman longsor tidak ada. Tetapi, potensi ancaman gempa yang ikutannya adalah tsunami itu sangat besar terjadi, hingga Desa Peracak di Jembrana masuk dalam zona merah untuk potensi ancaman tsunami," ujar Rentin.

Namun demikian, terkait kondisi peralihan musim, pihaknya meminta masyarakat selalu waspada. Sebab, musim pancaroba berpotensi bencana akibat cuaca ektrim.

"Rilis peringatan dini yang dikeluarkan BMKG Wilayah lll Denpasar. Di sana berisi detail per wilayah dan bahkan kecamatan di seluruh Bali, di 57 kecamatan itu ketika ada indikasi cuaca ektrim akan terjadi di wilayah tertentu dalam kurun waktu satu jam pasti dikeluarkan peringatan dini," katanya.

embed from external kumparan

Ia menerangkan, ketika mempetakan berdasarkan peta rawan bencana yang dikeluarkan terakhir oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diawal tahun 2020, ada enam daerah yang masuk dalam zona merah yaitu potensi rawan bencana akibat cuaca ektrim, seperti tanah longsor, banjir dan lain sebagainya.

Enam daerah tersebut, adalah Kabupaten Karangasem, sebagai wilayah Kabupaten Klungkung, Kabupaten Bangli dan sebagian Kabupaten Badung bagian Utara dan Kabupaten Tabanan bagian utara serta Kabupaten Buleleng.

"Kita, melihat kejadian meninggal dunia di daerah Karangasem sangat ekstrim. Dengan potensi tumbangnya pohon perindang di pinggir jalan yang relatif membahayakan bagi pelaku perjalanan. Hampir 7 dan 8 orang sepanjang 2021 yang sudah meninggal tertimpa pohon tumbang di jalan raya. Itu spesifik di Karangasem dulu," imbuhnya.

Sementara, untuk di seluruh Bali dari catatannya di tahun 2021 total ada 11 korban meninggal dunia karena bencana alam salah satunya adalah korban tanah longsor yang pernah terjadi di Desa Teruyan, Kabupaten Bangli, Bali.

"Korban salah satunya dari 11 itu, ada beberapa kejadian tanah longsor, terakhir dua orang di Teruyan itu dampak dari gempa kemudian terjadi tanah longsor menimpa rumah," jelasnya.

Ia menerangkan, sepanjang tahun 2021 atau hingga akhir Oktober 2021 tercatat ada 376 kejadian bencana, mulai dari angin kencang, pohon tumbang, banjir dan lain sebagainya tetapi didominasi tanah longsor. Karena, dari 376 kejadian itu 267 adalah peristiwa tanah longsor. (kanalbali/KAD)