3 Yang Sudah dan 3 yang Belum di PKB
Kolom : Menyambut Pesta Kesenian Bali ke XXXXI (3)

Pertanyaan besar yang harus dijawab serangakaian Pesta Kesenian Bali adalah, sudahkah semangat Prof Mantra diteruskan, dikembangkan dalam merespon perkembangan dunia dan ditengah kepungan kaum urban yang mendesak kebudayaan Bali?
Seni dan kesenian yang dipahami oleh Prof Mantra adalah merupakan fungsi dalam memperkuat kerekatan, kohesi dan interaksi social masyarakat Bali. Seni dapat dilihat sebagai unsur yang dapat menumbuhkan rasa kemuliaan dalam keagungan dalam hidup dan kehidupan kita sebagai manusia Bali. Sehingga seni tak bisa dipisahkan dari kehidupan, dia dapat meningkatkan harkat hidup manusia, menumbuhkan religiusitas, dapat menghaluskan cipta, rasa dan karsa kita sebagai manusia.
Dalam perjalanan empat puluh tahun PKB sudah diselenggarakan ada 3 SUDAH dihasilkan;
1.Sudah menjadi pesta rakyat secara massal. Banjar-banjar dan kelompok-kelompok dan sekehe-sekehe seni, baik didesa maupun dikota, serta sekolah-sekolah sudah terlibat, baik yang mendapatkan pembinaan maupun berjalan tanpa peran dan bantuan dana dari pemerintah. Lepas dari kualitasnya ini sudah lumayan dibanding propinsi lain yg rakyatnya sendiri masih kurang bermibat lagi kepada budayanya.
2.Sudah menjadi festival seni registered yg berlangsung reguler dan bertahan cukup lama sebagai sebuah festival seni periodik. Lepas dari mutu padahal sepatutnya sudah jauh dari apa yang dapat dibayangkan, kebudayaan bermutu tinggi.
3. Sudah pantas dilanjutkan dengan lebih memperhatikan kualitas dengan pengelolaan yang tidak semata-mata pemerintah tetapi dapat dikelola bersama oleh badan pengelola kreatif yang diisi oleh anak-anak muda, sehingga dapat memberikan kesempatan dan ruang tumbuhnya bagi anak muda berkreasi. Tidak monoton dari tahun ketahun tanpa hasil jelas.
Serta ada 3 BELUM dihasilkan PKB dan perlu menjadi perhatian untuk perbaikan dan peningkatan kwalitas hasil;
1.Belum menghasilkan karya monumental, masih hanya memenuhi pesanan dan thema yang telah ditetapkan pemerintah melalui korator yang dipilih oleh pemerintah Propinsi Bali.
2.Belum menjadi ajang "pertemuan/dialog" antara seniman level maestro (misal : Bape Jimat, Cak Rina, dan lain-lain) dengan generasi muda agar dapat berbagi dan menggali kedalaman ide dan kreasi sang maestro dan pelaku seni yang telah mumpuni sehingga generasi muda dapat menjadi sumber daya manusia Bali baru penerus kebudayaan Bali yang adi luhung.
3. Belum mengangkat harkat seniman individu maupun kelompok maupun desa untuk di kelola menjadi pusat-pusat pengajaran /pewarisan seni budaya (contoh kecil : Gambuh Sesetan yg hilang hanya karena tidak punya lahan tempat berlatih berikut perangkat tabuh yg tidak diteruskan).
Dengan demikian PKB dapat membuka cakrawala baru pemberontakan kreatifnya yang mengasilkan karya seni yang diapresiasi , memberikan vibrasi nilai-nilai estitika, suara, karsa tidak saja bagi seluruh masyarakat di Bali tapi juga dunia. Ini lah salah satu sumbangsih masyarakat Bali bagi Dunia yang Harmonis. Satyam, Sivam, Sundaram. (kanalbali/ARTI Foundation)
