Menakar Ulang PKB dan Makna Berkesenian
Kolom : Menyambut Pesta Kesenian Bali ke XXXXI (2)

Bagaimana pengampu kebudayaan di Bali meneruskan semangat Prof Matra dalam mengimplementasikan pengembangan kesenian di Bali sekarang ini termasuk para seniman dan kelompok-kelompok seni . Prof Mantra telah memberikan pondasi tersebut, artinya kita menjaga lokalitas, juga universalitas. Ini juga tidak diartikan bahwa seni adalah sesuatu yang statis.
Dresta itu pasti berubah,tetapi Rta itu ajeg. Masyarakat Bali mesti mengerti dan memahami falsafah dibalik wadag. Artinya mana dresta yang berubah, mana rta yang immortal. . Seni adalah keindahan. Keindahan dengan antagonisme nya yang ekstrem klasik, tentang manakah yang menentukan dalam pengalaman momen estetis, apakah berasal dari perasaan kita yang mengalami , atau karena obyek pengalaman itu yang estetis, yang indah. Karena satu hal yang pasti; setiap pandangan yang ekstrem selalu gagal.
Ada juga pendapat yang memberikan makna berbeda tentang apa kah setiap insan mengenal keindahan? . Keindahan bukan sekedar dialami, namun dicoba untuk diaktualkan. Dalam menciptakan karya seni, seniman hendak menghadirkan dunia-atau sebagian nya- bukan sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana yang dirasakan dan dipahaminya, dunia yang diinginkannya.
Menjadi seniman menciptakan karya seni, dengan demikian adalah pemberontakan. sebagaimana dikatakan seorang seniman yang filsuf; Albert Camus mengatakan "Pemberontakan adalah kreatif". (Albert Camus dll, 1998)
Seorang seniman adalah pemberontak, dalam menghasilkan sebuah karya seni. syaratnya adalah keberanian untuk keluar dari pakem-pakem tradisional yang membelenggu, tetapi mengambil spirit dari tradisi , mengelaborasi dalam harmoni menjadi hasil karya. tak penting mendapat apresiasi atau tidak. seperti kata Nietzche " siapa kehilangan keberanian, dia telah kehilangan segalanya".
Keberanian adalah penentu akhir aktualisasi kreatifitas. Tanpa keberanian, tak kan pernah hadir sebuah karya yang melintas batas. Rollo Maymenyebut kreatifitas berada dalam tataran irrasional dibawah sadar sebagai “creatifity of the spirit". kreatifitas yang melintas batas-batas, menerobos sekat-sekat yang selama ini ada dan diikuti, karena sebenarnya kreatifitas sama sekali tidak memperdulikam kaidah-kaidah serta hukum-hukum yang berlaku, dan biasanya sangat antikompromitas.Begitu kreatifitas seni yang dapat dihasilkan seniman.
Bagaimana seniman , pengamat, penikmat seni dapat menilai sebuah karya yang dihasilkan dari pemberontakan ? di Jaman modern sekarang ini seorang seniman tidak seharusnya menganggap keindahan sebagai ideal utama seni. Tidak lagi menganggap seni sebagai esensi karya seni tetapi karya itu sendiri.
Immanuel Kant, dalam ajaranya yang banyak diikuti mengatakan, bahwa dalam melihat karya seni, para penikmat atau pengamat dapat, dan bahkan harus, memahami karya seni tersebut sama dengan apa yang dimaksud oleh seniman.
Setiap melihat sebuah karya seni seseorang harus hanya berpijak pada kesadaran supraindrawi, dan melepaskan segala interest itu sendiri dan respon pribadi, serta memisahkan karya seni dari segala kepentingan apapun kecuali keindahan estetis itu sendiri. Estetisitas adalah sebuah nilai obyektif, bukan subyektif dan tidak relatif. Prinsif mana disampaikan oleh seorang ahli estitika Edward Bullough, dengan teorinya tentang "psychic distancing", yaitu bahwa dalam menilai karya seni harus dilakukan secara berjarak (detachment).
Bagaimana dengan kita selama PKB yang sudah berlangsung puluhan tahun? sudah kah ada perubahan secara ekstrem bagi pemberontak-pemberontak baru yang melahirkan karya seni yang mengglobal yang setingkat maestro?
Begitu pentingkah hasil karya dari seorang seniman untuk mendapatkan apresiasi dari pengamat dan kolektor seni. Memang pengamat, penikmat seni mesti berjarak dan mengambil jarak agar dapat menilai karya seni secara obyektif. paling tidak jangan terlalu jauh jaraknya agar penilaian kita terhadap seni tidak bias apalagi kabur. Hasil karya seni tidak diukur dari nilai ekonomi semata, apalagi seni orang bali yang eksotis dan estitis tidak hanya untuk konsumsi pariwisata saja tetapi menjadi sesembahan bagi smesta yang mempunyai nilai-nilai spirit jiwa yang mulia. Itulah yang paling utama bagi orang Bali.
Semoga PKB 2019 yang megambil thema Bayu Premana, bukan hanya menyajikan sentra kuliner, pedagang dan pasar senggol dengan segala pernik-perniknya. Focus pelaksanaan yang terpecah antara pertunjukan seni dengan keinginan belanja karya seni. (kanalbali/ARTI Foundation)
