Konten Media Partner

Aneka Workshop di Festival Tepi Sawah; Foto hingga Jazz ala Indonesia

Kanal Baliverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak-anak pun diajak menari bersama dalam setelah mengikuti workshop musik jazz (kanalbali/RLS)
zoom-in-whitePerbesar
Anak-anak pun diajak menari bersama dalam setelah mengikuti workshop musik jazz (kanalbali/RLS)

DENPASAR, kanalbali.com - Aneka workshop untuk merayakan keberagaman Indonesia kembali dihadirkan di Festival Tepi Sawah 6-7 Juli 2019 di Pejeng, Gianyar.

Workshop foto bercerita dan pojok sketsa oleh dikelola oleh Rumah Kelima. Vifick Bolang, mentor sesi foto bercerita , workshop ini menargetkan anak-anak kecil agar lebih memahami visual storytelling.

Sedangkan Andri, rekannya mengajari mereka menggambar sketsa dan membangun cerita. “Anak-anak sekarang kan dekat dengan visual, apalagi dengan adanya media sosial. Jadi kami mengajari bagaimana agar mereka bisa membangun cerita baik dari gambar maupun foto,” jelas Vifick.

Workshop pun dilanjutkan dengan cara membuat film dalam 45 menit oleh Erick Est, filmmaker yang sudah berkecimpung di dunia film selama 20 tahun.

Made Bandem saat memberi materi dalam workshop tari di Festival Tepi Sawah ( kanalbali/RLS)

Anak-anak diajari cara membuat skenario, mengambil gambar, dan dikenalkan dengan aplikasi editing yang mudah didownload di handphone. Semua diajarkan dengan bahasa yang mudah dan menyenangkan.

“Yang penting tahu apa, siapa, dan masalah apa yang narasinya akan dibangun dalam film,” katanya.

Sore menjelang pembukaan, Made Bandem melanjutkan acara dengan mengenalkan irama dan tari Bali kepada pengunjung yang didominasi oleh wisatawan asing.

Mantan rektor ISI Yogyakarta ini menjelaskan, tari Bali dapat diklasifikasi menjadi 3 genre. Ada Wali atau tarian sakral, Bebali atau tarian upacara, dan Bebalihan atau tarian hiburan untuk tontonan.

Penampilan musisi Jazz Kayu Jati di Festival Tepi Sawah (kanalbali/RLS)

Selain itu, dia juga memberitahu bahwa ada 9 tari yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, salah satunya adalah Tari Rejang. Menariknya, Tari Rejang ini dipraktekkan langsung oleh istrinya, Suasthi Widjaja Bandem, dengan irama gamelan yang dibunyikan dari bibir Made Bandem.

Tak hanya workshop, hari pertama Festival Tepi Sawah juga diselingi oleh penampilan Kayu Jati Band dan Mustiko Woro. Woro adalah seorang sinden muda yang namanya mulai dikenal lewat Di Atas Rata-Rata, kumpulan musisi cilik bentukan Erwin dan Gita Gutawa.

Suara cengkoknya beserta alunan gitar jazz fushion dari Kayu Jati Band pun membentuk remake yang khas dari salah satu lagu Chrisye, Kala Cinta Menggoda. (kanalbali/RLS)