Konten Media Partner

Jenazah Ibu yang Meninggal Setelah Diduga ditolak RS di Bali Dibawa ke Buleleng

Kanal Baliverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dapil Bali, Arya Wedakarna (kanan) bersama Alit , putra dari ibu yang meninggal di RS Sanglah - IST
zoom-in-whitePerbesar
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dapil Bali, Arya Wedakarna (kanan) bersama Alit , putra dari ibu yang meninggal di RS Sanglah - IST

DENPASAR, kanalbali.com - Jenazah seorang ibu yang sebelumnya diduga ditolak oleh Rumah Sakit Wangaya akan segera diaben (dikremasi) Selasa, (26/09) besok.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dapil Bali, Arya Wedakarna atau AWK menyebut saat ini pihak keluarga tengah fokus untuk mempersiapkan upacara pengabenan. "Kami minta keluarga untuk fokus dalam upacara ngaben besok," ungkapnya saat dihubungi, Senin (26/09).

Minggu kemarin (25/09) terang AWK, pihaknya telah melakukan penjemputan terhadap jenazah korban di RSUD Sanglah, dibawa ke kampung halaman korban di Sulasada Buleleng. Pihak keluarga terangnya langsung bersiap untuk melakukan proses upacara ngaben.

AWK mengungkapkan ia telah menggelar rapat dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar membahas permasalahan ini. Pihak Pemkot Denpasar, terang dia juga telah sepakat untuk mencegah adanya kasus serupa di kemudian hari.

embed from external kumparan

"Saya sudah bertemu dengan pak Walikota, beliau juga menyayangkan adanya peristiwa ini, sehingga kami sepakat supaya tidak terjadi masalah serupa," ungkapnya.

AWK menegaskan akan melakukan tindak lanjut baik secara politik maupun proses hukum. Pertama, yakni mencopot pihak oknum rumah sakit yang diduga tidak ramah melakukan pelayanan kepada masyarakat.

Sebelumnya pihak RS Wangaya telah memberikan klarifikasi. Diungkap oleh Humas Pemkot Denpasar Dewa Rai, saat kejadian kondisi kapasitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) di rumah sakit milik Pemkot Denpasar itu penuh.

Dalam kondisi tersebut apabila dipaksakan menerima pasien, tentu membuat pelayanan tidak optimal dan juga berisiko bagi pasien.

Awal kejadian, Sabtu, (24/9) sekitar pukul 20.30 Wita, pasien diantar oleh pengantar pasien menggunakan sepeda motor. Satpam melaporkan kepada petugas IGD ada pasien baru. Pada saat kejadian tersebut IGD dalam kondisi penuh. Terdata bahwa ada 13 pasien yang sedang menjalani perawatan darurat. Bahkan di ruang tunggu ada beberapa pasien yang sedang mengantri untuk mendapatkan pelayanan.

Melihat kondisi tersebut, Dokter jaga menemui pengantar pasien dan menyarankan untuk kerumah sakit terdekat dalam hal ini RS Manuaba. Hal ini dilakukan supaya pasien dapat pelayanan yang lebih cepat. Pengambilan dasar keputusan tersebut, karena jarak rumah sakit Manuaba dirasa paling dekat dengan RSUD Wangaya dengan estimasi waktu 5 menit.

Ketika disarankan untuk ke rumah sakit terdekat, pengantar pasien meminta untuk diantar Ambulance. Namun demikian berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO) RSUD Wangaya mengenai Merujuk Pasien Kerumah Sakit Lain No. 040/018/IGD/RSUDW/2018 penggunaan Ambulance Wajib didampingi Dokter dan Perawat.

Mengingat kondisi IGD yang sedang penuh maka penggunaan Ambulance tidak dapat dilakukan oleh karena perawat dan dokter sedang melakukan penanganan pasien.

Saat ini, pihak RSUD Wangaya sedang berproses menambah kapasitas bed di ruang IGD untuk mengantisipasi lonjakan pasien. Diharapkan ke depan bisa menambah kapasitas bed. (Kanalbali/WIB)