Konten Media Partner

Pakar Sebut Perlu 'Pengamanan' Pura Besakih Bali di Era Metaverse

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pura Besakih di Karangasem, Bali - IST
zoom-in-whitePerbesar
Pura Besakih di Karangasem, Bali - IST

DENPASAR, kanalbali.com – Belajar dari kasus penjualan Alun-alun Kidul milik Kraton Yogyakarta di metaverse, pakar digital Dedy Panji Agustino dari ITB Stikom Bali menilai, perlunya langkah antisipasi dari warga Bali dan Lembaga pemerintahan. Yakni, untuk mengamankan aset-aset adat dan budaya Bali, termasuk Pura Besakih di Karangasem.

“Idealnya, lembaga yang berwenang seperti pemerintah yang harus menampilkannya pertama kali di metaverse dan menyatakannya sebagai ruang publik yang terbuka. Ini untuk menghindari penyalahgunaan,” katanya, Rabu (9/9/2022).

Kepala Inkubator Bisnis ITB Stikom Bali itu menyatakan, pada era ini memang sangat dimungkinkan adanya pihak yang mengklaim aset budaya Bali untuk dijadikan sebagai aset di metaverse. Bila hal itu sudah terjadi, maka akan ada kesulitan untuk mempersoalkannya karena memang belum ada aturan yang jelas mengenai hal itu.

embed from external kumparan

Budayawan Made Bandem menyatakan, pihaknya tak khawatir bila aset budaya Bali ditampilkan di Metaverse oleh pihak yang berwenang. Hal itu tak akan mengurangi nilai keagungan maupun daya tarik sebagai aset pariwisata. “Mungkin orang justru akan lebih tertarik lagi datang kesini,” katanya.

Dia menyamakan fenomena itu peristiwa tahun 80-an dimana pada saat itu dia mengajarkan gamelan dan tari Bali ke Amerika dan Jepang. Pihak yang memprotes khawatir, hal itu akan membuat orang merasa tak perlu ke Bali.

“Ternyata yang terjadi sebaliknya. Banyak orang yang sudah mengikuti sanggar di negaranya, merasa wajib datang ke Bali,” ujarnya.

Keberadaan aset budaya Bali di metaverse, menurutnya, juga akan makin meningkatkan pemahaman orang karena bisa menikmati secara lebih tenang. Sebagai perbandingan, dia sudah dua kali mendatangi langsung museum Louvre di Paris namun karena keramaian suasana di tempat itu maka sangat sulit untuk menikmati dan melakukan analisa mengenai kualitas lukisan disana.

“Setelah saya mengunjungi secara virtual baru bisa menganalisa secara detail. Sampai bisa tahu bahan untuk pembuatan lukisan dan kelebihan lainnya,” jelasnya. (kanalbali/RFH)