Sidang Perdana, Begini Kronologi Kasus Korupsi yang Membelit Eka Wiryastuti
ยทwaktu baca 3 menit

DENPASAR, kanalbali.com - Sidang perdana kasus dugaan korupsi dengan Terdakwa mantan bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti akhirnya digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Denpasar pada Selasa (14/6). Sidang itu agendanya membacakan dakwaan setebal 12 halaman.
Dalam berkas dakwaan yang dibacakan Jaksa dari KPK terungkap kronologis proses gratifikasi yang melibatkan Eka Wiryastuti, mantan stafsus bidang ekonomi Bupati Tabanan I Dewa Nyoman Wiratmaja, Kepala Seksi Dana Alokasi Khusus Fisik II Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, Rifa Surya serta pejabat Kemenkeu ketika itu, Yaya Purnomo dan Rifa.
Kasus ini bermula dari tahun 2017 ketika Pemkab Tabanan ingin menaikkan APBD Tabanan yang bersumber dari Dana Alokasi Umum dan Dana Insentif untuk APBD tahun 2018. Ketika itu Eka menugaskan Wiratmaja untuk mencari jalan.
"Dalam hal hubungan pemda dan pemerintah pusat terdakwa cari alternatif dana yakni dengan meningkatkan DID dan DAU. Terdakwa kemudian menugaskan saudara I Dewa Nyoman Wiratmaja," ucap Penuntut umum.
Selanjutnya Wiratmaja melalui jaringannya akhirnya bertemu dengan dua petugas dari kementrian keuangan yaitu Kepala Seksi Dana Alokasi Khusus Fisik II Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, Rifa Surya serta pejabat Kemenkeu ketika itu, Yaya Purnomo dan Rifa. Dalam sejumlah pertemuan mereka menyepakati sejumlah hal, termasuk success fee sebesar 2,5 persen dari anggaraan Dana Insentif Daerah (DID) yang nanti disetujui.
"Rifa dan Yahya Purnomo minta komitmen fee 2,5 persen. Dan serahkan tanda jadi di awal 300 juta di awal," Terang Penuntut umum.
Dalam proses selanjutnya Dewa Wiratmaja menyerahkan uang sebesar Rp. 600 juta kepada Yahya Purnomo dan Rifa. Diserahkan dua kali, masing-masing sebelum Tabanan masuk daftar Kabupaten penerima DID. Sedangkan sisanya 300 juta diserahkan setelah Kabupaten Tabanan masuk daftar Kabupaten penerima DID sebesar Rp. 300 juta.
Uang tersebut kemudian dibagi dua secara merata. Riffa dan Yahya Purnomo masing mendapat 300 juta. Tidak berhenti sampai di sana. Pada 27 Desember 2017 Dewa Wiratmaja kembali bertemu dengan Yahya Purnomo di Restoran Sunda, Cikini, Jakarta Pusat. Kali ini Dewa Wiratmaja menyelesaikan pembayaran succsess Fee dengan nilai sebesar $ 55.400 US. Penyelesaian menggunakan mata uang asing ini sesuai permintaan Yahya Purnomo dalam pertemuan beberapa waktu sebelumnya.
"Pada 27 Desember Dewa Wiratmaja dan Yahya Purnomo bertemu di Cikini selesaikan 55.300 dollar Amerika yang dimasukan salam amplop coklat. Yahya Purnomo lalu menghubungi Riffa lalu membagi dua uang tersebut," terang penuntut umum.
Eka Wiryastuti dalam sidang ini didakwa dengan ancaman pidana sebagaimana pasal 13 UU RI nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana dirubah dengan UU RI Nomor 20 tahun 2021 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP juncto pasa 66 ayat 1 KUHP.
Sementara itu Warsa T. Bhuana sebagai salah satu kuasa hukum mengatakan pihaknya belum bisa berkomentar terkait sidang perdana. Tanggapan akan diberikan melalui eksepsi pada sidang kedua, Kamis 23 Juni 2022 mendatang. "Tunggu saja eksepsi 23 Juni nanti," ucap Warsa.
(KanalBali/ROB )
