Konten Media Partner

Sudden Cardiac Arrest, Fenomena Henti Jantung yang Berakibat Kematian Mendadak

Kanal Baliverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi serangan jantung - Shuuterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi serangan jantung - Shuuterstock

DENPASAR, kanalbali.com - Peristiwa meninggalnya siswi SMP di Denpasar masih menyisakan misteri. Pasalnya, gadis itu tak memiliki riwayat penyakit dan keluhan kesehatan sedikitpun. Namun ia secara mendadak kejang saat berada di kelas dan kemudian nyawanya tak tertolong.

Dari sudut pandang medis fenomena ini kerap disebut henti jantung atau sudden cardiac arrest. Dijelaskan oleh dokter spesialis jantung, dr. I Made Junior Rina Artha, fenomena itu diduga disebabkan oleh kelainan jantung listrik (ventrikel fibrilasi).

"Perlu kita ketahui, henti jantung dan serangan jantung itu berbeda ya, serangan jantung terjadi karena penyumbatan pembuluh darah. Sementara henti jantung mendadak disebabkan oleh ventrikel fibrilasi," terangnya saat dihubungi, Jumat (14/10).

embed from external kumparan

dr Junior menyebut, saat henti jantung terjadi, jantung benar-benar berhenti berdetak secara tiba-tiba dan aliran sirkulasi darah di jantung berhenti saat itu juga. Kondisi ini menyebabkan penderitanya hilang kesadaran dan bahkan berhenti bernapas.

"Henti jantung mendadak terjadi akibat gangguan pada listrik jantung sehingga jantung berhenti memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak permanen bahkan kematian. Penderita perlu diberikan pertolongan pertama berupa CPR dan kejut jantung," ungkapnya.

dr Made Junior Rina Artha - IST

Ia menerangkan, Ventrikel fibrilasi merupakan salah satu jenis gangguan irama jantung (aritmia). Kondisi ini ditandai dengan ventrikel (bilik) jantung yang hanya bergetar, bukan berdenyut untuk memompa darah. Akibatnya, pasokan darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke organ-organ tubuh akan terhenti.

Henti jantung mendadak dapat dialami oleh siapa saja. "Pernah gak nonton TV, ada pemain bola atau atlet tiba-tiba meninggal saat dilapangan padahal tidak ada kontak, dan beraktivitas seperti biasanya. Padahal mereka sering latihan dan artinya tubuhnya fit," ucapnya.

Saat henti jantung terjadi, seseorang akan mengalami pingsan. Namun, sebagian penderita henti jantung mendadak dapat mengalami gejala awal berupa, pusing, lemas, nyeri dada, hingga sesak napas.

Sesungguhnya henti jantung dapat berpotensi terjadi kepada seseorang yang memiliki masalah kesehatan seperti gangguan jantung koroner. Selain itu juga kebiasaan merokok, Obesitas, diabetes, gagal ginjal, kadar kolesterol tinggi serta hipertensi juga berpotensi menyebabkan henti jantung.

dr menegaskan, jika melihat seseorang yang tidak sadarkan diri dan tidak bernapas dengan normal, segera periksa denyut jantungnya dan hubungi ambulans atau rumah sakit terdekat.

Pada saat tiba di rumah sakit, dokter akan memeriksa denyut jantung pasien. Dokter juga akan memasang monitor untuk memeriksa irama jantung. Selanjutnya, dokter akan melakukan penanganan sampai kondisi pasien stabil atau jantungnya kembali berdetak.

Jika jantung pasien tidak berdetak, tim medis akan melakukan CPR dan memberikan kejut listrik selama perjalanan ke rumah sakit. Setelah jantung kembali berdetak, pasien akan dirawat di ruang rawat intensif (ICU) dan diberikan alat bantu napas.

Jika kondisi pasien sudah stabil, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan berupa tes darah, foto tontgen dada, serta USG jantung untuk mendiagnosis penyebab atau faktor pemicu terjadinya henti jantung mendadak.

Dr Junior menambahkan, jantung mendadak dapat dicegah dengan menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, termasuk skrining penyakit jantung, dan menjaga kesehatan jantung. "Berolahraga secara rutin, berhenti merokok, membatasi konsumsi minuman beralkohol dan mengonsumsi makanan sehat untuk jantung, serta menghindari obesitas, dapat mengurangi potensi henti jantung," tambanhya. (Kanalbali/WIB)