Tak Hanya Warga Lokal, Kasus Depresi di Bali Juga Menimpa WNA
·waktu baca 2 menit

BADUNG, kanalbali.com – Kasus depresi yang berujung pada gangguan jiwa dan bunuh diri semakin meningkat di Bali. Bukan hanya warga lokal, kasusnya juga menimpa warga asing yang tinggal di Bali.
"Penurunan kualitas kondisi kejiwaan itu bukan pada orang Bali saja. Ada juga Warga Negara Asing (WNA),” kata aktivis kesehatan jiwa, dr I Gusti Rai Wiguna SpKJ, di Denpasar, Bali, Sabtu (26/3).
“Kami dari yayasan ‘Bersama Bali Bisa’ selama 2021 itu merawat tujuh orang asing dari bermacam negara. Ada yang mengalami gangguan bipolar, mengalami gangguan depresi dan terlunta-lunta di Bali," ungkapnya.
"Kalau orang Indonesia masih punya BPJS, kalau yang begitu (orang asing) bagaimana itu, yang artinya butuh penanganan. Disitu kami yang berasal dari komunitas terpinggirkan berusaha membantu,” katanya.
Sementara itu, peningkatan kasus bunuh diri di Pulau Bali dari tahun 2020 hingga 2021 mengalami peningkatan. Dari catatan komunitas Lisa Helpline Bali, untuk tahun 2020 ada 64 orang bunuh diri dan di tahun 2021 meningkat dua kali lipat sebanyak 125 orang.
"Kalau melihat dari data selama pandemi Covid-19, memang dua tahun terakhir ada peningkatan. Data resmi dari kepolisian, di 2020 itu 64 orang yang bunuh diri sampai meninggal, di tahun 2021 menjadi 125 (bunuh diri). Itu, kan hampir dua kali lipat," katanya.
Selain itu, pihaknya juga mencatat ada sekitar 1.085 warga Bali yang meminta pelayanan terapis gratis secara online selama tahun 2021. Mereka diduga depresi salah satunya karena terimbas pandemi. Lisa Helpline adalah layanan dukungan psikologi gratis.
Menurutnya, selain persoalan bunuh diri ada juga yang mengalami gangguan berat dan kemudian putus obat selama Pandemi Covid-19 ini. Sehingga, menimbulkan beban yang lebih besar lagi.
Sementara, untuk di tahun 2022 data bunuh diri belum ada karena data tersebut dikumpulkan dalam satu tahun sekali. Namun, bila melihat pemberitaan sudah ada sekitar 7 orang yang bunuh diri di Bali.
Penyebab bunuh diri menurutnya tidak ada faktor tunggal bukan hanya karena faktor ekonomi atau faktor asmara dan faktornya adalah kompleks.
"Tapi gabungan dari semua (masalah). Faktor luarnya adalah masalah yang mereka hadapi. Kalau, misalnya lansia sebenarnya karena mengalami penyakit kronis jadi kalau BPJS menanggung secara fisik tetapi rupanya kesehatan jiwanya yang perlu dilakukan. Cuci darah tapi tetap depresi dan meninggalnya bunuh diri," ujarnya. (Kanalbali/KAD)
