Konten Media Partner

Umat Hindu di Bali Hari Ini Rayakan Pagerwesi, Begini Maknanya

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Persembahyangan saat hari Pagerwesi di Bali
zoom-in-whitePerbesar
Persembahyangan saat hari Pagerwesi di Bali

DENPASAR, kanalbali.com - Umat Hindu di Bali merayakan hari raya Pagerwesi hari ini, Rabu (26/10). Hari raya yang diperingati setelah Saraswati ini memiliki makna yang mendalam bagi pemeluk kepercayaan Hindu, meski perayaannya tak semeriah hari raya Galungan atau Nyepi.

Diungkapkan oleh, I Gede Suwantana salah satu pengajar Universitas Hindu Negeri, Bali, I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Pagerwesi berarti memagari diri atau magehang awak.

"Hari raya Saraswati yang bermakna turunnya ilmu pengetahuan, pada hari raya Pagerwesi, umat Hindu memakai bahwa pemanfaatan ilmu sebagai sesuatu yang berharga berfungsi sebagai pemagar diri dalam menjalani kehidupan," ungkapnya.

embed from external kumparan

Hari raya ini menjadi semacam pengingat manusia yang hidup di dunia harus memiliki keteguhan iman, yang berdasarkan pada pemanfaatan ilmu pengetahuan di jalan kebaikan. Tanpa pengetahuan, mengalami awidya atau kegelapan.

Pengajar Universitas Hindu Negeri I Gusuti Bagus Sugriwa Depasar

" Pada hati raya ini umat Hindu melakukan persembahyangan dan memuja Siwa dengan manifestasinya sebagai Sanghyang Pramesti Guru sebagai penghancur segala hal yang buruk," jelasnya.

Hari raya yang jatuh pada Rabu Kliwon wuku Sinta dalam sistem penanggalan Bali. Secara pelaksanaan, Pagerwesi memiliki keterkaitan dengan Saraswati. Setelah Hari Raya Saraswati pada hari Sabtu Manis wuku Watugunung, keesokan harinya Minggu Pahing dilanjutkan dengan Banyu Pinaruh.

Selanjutnya pada hari Senin merupakan hari Soma Ribek dan keesokan harinya adalah Sabuh Mas pada Anggara Wage, Watugunung.

Setelah Sabuh Mas, keesokan harinya disebut Pagerwesi yang jatuh pada Buda (Rabu) Kliwon Wuku Sinta. Pagerwesi ini dirayakan setiap enam bulan atau 210 hari.

Gede Suantana menyebut, dasar dari pelaksanaan Pagerwesi yakni Lontar Sundarigama, sebagai sumber sastra tentang hari raya di Bali.

Saat tengah malam pada Pagerwesi, dilakukan yoga samadhi atau renungan suci. Selain itu, juga ada persembahan untuk unsur panca maha butha berupa segehan lima warna, sesuai dengan kelima arah mata angin.

Sementara itu, rangakian upacara hari Pagerwesi dimulai dengan menghaturkan persembahan dan bersembahyang di sanggah (tempat persembahyangan di pekarangan rumah), kemudian berlanjut ke pura di area desa, dan ke pura-pura yang menjadi pura keluarga. (Kanalbali/WIB)