Rekonstruksi Bulan Suci Menurut Syekh Muhammad Abdul Gaos

Researcher Kamufisa Green Intiative- Postgraduate student at Galuh University, Constitutional Law Program, - A young Muhammadiyah cadre.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dykasakti Azhar Nytotama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menimbang Ulang Kesucian Ramadhan dan Makna Lailatul Qadr: Tafsir Tuan Syeikh Muhammad Abdul Gaos
Saya membahas ini memang bukan di bulan Ramadhan, tetapi ada suatu konstruksi teks yang perlu dibedah secara mendalam. Sebab, istilah “bulan suci Ramadhan” yang begitu populer di masyarakat ternyata memuat muatan teologis dan kultural yang tidak sesederhana yang tampak di permukaan. Sebutan ini bukan hanya soal label bulan tertentu, tetapi terkait dengan cara pandang umat terhadap konsep waktu, ibadah, dan kemuliaan.
Secara umum, Ramadhan memang dipandang sebagai bulan penuh berkah, ampunan, dan rahmat. Keistimewaan ini diperkuat dengan hadirnya momentum spiritual seperti puasa, tarawih, malam Nuzulul Qur’an, hingga Lailatul Qadr. Di tengah semangat umat Islam menyambut dan merayakan Ramadhan, muncul satu pemikiran menarik dari seorang ulama sufi, Tuan Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul, yang mengkritisi secara halus istilah “bulan suci Ramadhan”.
Kesucian Ramadhan: Karena Puasa atau Karena Wahyu?
Menurut Tuan Syeikh, menyematkan predikat “bulan suci” kepada Ramadhan tidak seharusnya didasarkan pada kewajiban puasa yang disyariatkan di dalamnya. Sebab, jika kesucian bulan ditentukan oleh diturunkannya syariat tertentu, maka bulan Rajab juga bisa disebut suci karena menjadi momen turunnya perintah shalat, dan Dzulhijjah pun layak disebut demikian karena di dalamnya disyariatkan ibadah haji.
Beliau menyatakan bahwa penyematan “bulan suci” lebih tepat jika dikaitkan dengan peristiwa monumental: turunnya Al-Qur’an. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185: "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia...".
Namun, kritik beliau bukan hanya bersifat terminologis, melainkan menyasar cara pikir umat. Jika hanya Ramadhan disebut suci, apakah berarti bulan-bulan lain tidak suci? Jika hanya Ramadhan disebut penuh rahmat, apakah rahmat Allah terbatas pada waktu tertentu? Di sinilah titik kritis beliau: menyucikan Ramadhan secara eksklusif bisa membentuk pola pikir eksklusif pula tentang rahmat dan kehadiran Allah yang sebenarnya bersifat syamil (menyeluruh) dan mutlak.
Simbolisme Huruf “Ra”: Rahmat sebagai Sumbu Kesucian
Dalam kitabnya Majmu’ah Rasail, Tuan Syeikh memulai analisis linguistik dengan membedah kata “Ramadhan”. Huruf pertamanya, “Ra”, menurut beliau merujuk pada rahmah (kasih sayang). Beliau mendefinisikan rahmah sebagai iradah iishalu al-khair—kehendak Allah untuk menghadirkan kebaikan. Maka, Ramadhan adalah momen di mana rahmat Allah tidak hanya turun, tetapi memancar luas dan menyentuh nurani umat.
Realitas sosial menunjukkan kebenaran ini: banyak orang yang di luar Ramadhan jarang ke masjid, namun kembali hadir saat tarawih malam pertama. Bahkan, atmosfer kolektifnya membuat orang merasa malu untuk tidak berpuasa. Dengan kata lain, Ramadhan menciptakan daya dorong spiritual yang kuat—bukan semata karena waktunya, tapi karena rahmat Allah yang berlipat.
Lailatul Qadr: Malam di Bulan Lain?
Puncak keistimewaan Ramadhan bagi kebanyakan umat adalah malam Lailatul Qadr. Surah Al-Qadr ayat 1 menjelaskan secara eksplisit: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.” Malam ini diyakini lebih baik dari seribu bulan, dengan kedatangan para malaikat, dan pengabulan segala doa.
Namun, Tuan Syeikh menawarkan pendekatan tafsir yang lebih dalam. Ia menyoroti kata anzalnaahu (Kami turunkan) dalam ayat tersebut. Kata ganti “hu” dalam konteks ini merujuk pada Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa ayat ini menandai momen diturunkannya Al-Qur’an dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia secara sekaligus (jumlatan wahidah), sebelum kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW.
Dari sini, beliau mengajukan pemahaman penting: bisa jadi malam Lailatul Qadr bukan hanya ada di bulan Ramadhan. Karena jika makna keberkahan malam itu terletak pada kehadiran Al-Qur’an, maka setiap malam yang di dalamnya hadir dzikir dan petunjuk Ilahi, juga layak dimaknai sebagai malam penuh nilai lailatul qadr. Bahkan, beliau dengan berani menyatakan: “saya meramadhankan seluruh bulan”.
Malam Seribu Bulan dan Hati yang Berdzikir
Tuan Syeikh mengajukan tafsir reflektif atas Surah Al-Hajj ayat 47: “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” Beliau menjelaskan bahwa siapa pun yang mampu mengingat Allah dalam kualitas kedekatan tinggi, maka sesungguhnya ia telah meraih momen seperti Lailatul Qadr.
Artinya, Lailatul Qadr bukan hanya peristiwa astronomis atau waktu tertentu, tapi pengalaman spiritual yang bisa terjadi kapan saja—bagi siapa saja—yang hatinya bersih dan penuh dzikir. Ia adalah malam kualitas, bukan malam kalender.
Penutup: Menemukan Lailatul Qadr dalam Diri
Apa yang disampaikan Tuan Syeikh bukan hanya reinterpretasi terhadap istilah “bulan suci” atau “malam seribu bulan”, tetapi juga kritik atas pendekatan formalistik dalam memahami agama. Beliau mengajak kita untuk memaknai kesucian bukan pada waktu atau bentuk, tetapi pada pantulan rahmat dan kesadaran rohani.
Dengan demikian, tulisan ini menjadi refleksi untuk melampaui rutinitas ibadah yang terjebak di kalender, menuju pada kesadaran bahwa setiap waktu adalah suci, setiap malam berpotensi menjadi lailatul qadr—selama hati kita terus berdzikir dan menyambut rahmat Allah SWT.
