Konten dari Pengguna

Perempuan: Diposisikan Atau Memposisikan Diri?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Citra Rosika SAP MAP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Telaah atas Bab “Kedudukan Perempuan di dalam Masyarakat” dalam Obat Dungu Resep Akal Sehat

Dokumentasi pribadi — Buku Obat Dungu Resep Akal Sehat karya Rocky Gerung.
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi — Buku Obat Dungu Resep Akal Sehat karya Rocky Gerung.

Ketika membicarakan kedudukan perempuan di dalam masyarakat, persoalannya sebenarnya bukan hanya tentang apakah perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang selama ini menentukan posisi perempuan di dalam masyarakat?

Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika membaca gagasan Rocky Gerung dalam Obat Dungu Resep Akal Sehat, khususnya pada bagian yang membahas kedudukan perempuan. Pembahasan mengenai perempuan tidak dapat dilepaskan dari persoalan kekuasaan, pengetahuan, dan cara masyarakat membentuk suatu anggapan tentang apa yang “seharusnya” dilakukan oleh perempuan. Perempuan seakan hanya diberi peran pinggiran sebagai "warga negara kelas dua" (2024. hlm. 3).

Sejak lama masyarakat memiliki berbagai gambaran mengenai perempuan. Perempuan ideal sering kali dikaitkan dengan kelembutan, kepatuhan, kemampuan mengurus rumah tangga, serta kesediaan menempatkan kepentingan keluarga di atas kepentingan dirinya sendiri. Sementara itu, laki-laki lebih sering diasosiasikan dengan keberanian, kepemimpinan, rasionalitas, dan pengambilan keputusan.

Masalahnya bukan pada sifat-sifat tersebut secara individual. Seseorang tentu bebas memilih menjadi lembut, menjadi ibu rumah tangga, menjadi pemimpin, menjadi pekerja, atau menjalankan berbagai peran lainnya. Persoalannya muncul ketika pilihan tersebut tidak lagi benar-benar menjadi pilihan, melainkan menjadi tuntutan sosial.

Di sinilah pembahasan mengenai perempuan menjadi lebih luas daripada sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ia menyentuh persoalan bagaimana masyarakat membentuk manusia melalui norma.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Instagram pribadi penulis yang sedang menjadi MC pada kegiatan kuliah lapangan di kantor DPRD Kota Padang Sumatera Barat (18/01/2026).

Ketika “kodrat” menjadi alasan

Salah satu hal yang menarik untuk dipertanyakan adalah penggunaan kata “kodrat” dalam membicarakan perempuan.

Ada perbedaan antara sesuatu yang memang berkaitan dengan kondisi biologis dan sesuatu yang sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial.

Misalnya, kemampuan perempuan untuk mengalami kehamilan merupakan kondisi biologis (2024. hlm. 4). Namun, anggapan bahwa karena perempuan dapat hamil maka perempuanlah yang secara otomatis harus bertanggung jawab hampir sepenuhnya terhadap pekerjaan domestik merupakan persoalan sosial.

Demikian pula dengan anggapan bahwa laki-laki harus menjadi pencari nafkah utama, tidak boleh menunjukkan kelemahan, atau harus selalu mengambil keputusan.

Jika berbagai pembagian tersebut dianggap sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan, maka masyarakat sebenarnya telah membuat batas-batas tertentu bagi individu sebelum individu tersebut menentukan pilihannya sendiri.

Dalam konteks inilah kritik terhadap struktur patriarki menjadi penting. Rocky Gerung dalam pemikirannya mengenai feminisme juga menyoroti bagaimana relasi sosial dapat menjadi relasi dominasi dan bagaimana pengalaman perempuan perlu digunakan untuk mempertanyakan pengetahuan yang selama ini dianggap netral (2024. hlm. 10).

Perempuan bukan sekadar objek pembicaraan

Ada satu hal yang menurut saya penting dari gagasan tersebut: perempuan seharusnya tidak hanya menjadi objek yang dibicarakan, tetapi juga subjek yang berbicara.

Selama ini perempuan sering dibicarakan oleh banyak pihak: negara berbicara mengenai perempuan, agama berbicara mengenai perempuan, masyarakat berbicara mengenai perempuan, bahkan laki-laki berbicara mengenai apa yang seharusnya dilakukan perempuan.

Namun, pertanyaannya: seberapa jauh perempuan diberikan kesempatan untuk menentukan sendiri apa yang mereka butuhkan?

Persoalan ini berkaitan dengan apa yang dalam pemikiran feminis dikenal sebagai standpoint, yaitu perhatian terhadap pengalaman kelompok yang berada dalam posisi tertentu dalam struktur sosial. Rocky Gerung pernah menjelaskan bahwa pengalaman perempuan dapat menjadi sumber pengetahuan penting untuk memahami relasi kekuasaan yang timpang. (StudyLibid)

Dengan demikian, membicarakan perempuan tidak cukup hanya dengan membuat kebijakan “untuk perempuan”. Perempuan juga perlu dilibatkan dalam menentukan persoalan apa yang harus diselesaikan dan bagaimana penyelesaiannya.

Apakah masyarakat kita benar-benar memberikan kebebasan?

Pada titik ini, pembahasan dalam buku tersebut menjadi relevan dengan kehidupan sehari-hari. Seorang perempuan yang memilih bekerja kadang dianggap terlalu mementingkan karier. Sebaliknya, perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga dapat dianggap tidak produktif.

Perempuan yang tegas bisa disebut terlalu keras. Perempuan yang lembut dianggap tidak mampu memimpin.

Perempuan yang belum menikah ditanya kapan menikah. Setelah menikah ditanya kapan memiliki anak. Setelah memiliki anak, ia masih dapat ditanya mengapa bekerja atau mengapa tidak bekerja.

Serangkaian pertanyaan tersebut tampak sederhana. Namun jika berlangsung terus-menerus, ia menunjukkan bahwa masyarakat memiliki gambaran tertentu mengenai bagaimana seorang perempuan “seharusnya” menjalani kehidupannya.

Ironisnya, masyarakat sering berbicara tentang kebebasan perempuan sambil tetap memberikan daftar panjang mengenai bagaimana perempuan yang “baik” seharusnya bersikap.

Maka, persoalannya bukan sekadar memberikan perempuan kesempatan untuk memilih. Kita juga perlu bertanya apakah lingkungan sosial memberikan ruang yang cukup bagi pilihan tersebut.

Kesetaraan bukan berarti menyeragamkan

Membicarakan kesetaraan juga tidak berarti bahwa laki-laki dan perempuan harus menjadi sama dalam segala hal.

Kesetaraan lebih tepat dipahami sebagai kesempatan bagi seseorang untuk memperoleh hak, penghormatan, dan kesempatan tanpa dibatasi hanya karena jenis kelaminnya.

Perempuan boleh memilih menjadi ibu rumah tangga. Perempuan juga boleh memilih menjadi akademisi, politisi, pekerja, pengusaha, seniman, atau profesi lainnya. Yang perlu dipersoalkan adalah ketika salah satu pilihan dianggap lebih rendah hanya karena dilakukan oleh perempuan. Begitu pula laki-laki seharusnya tidak dipaksa memenuhi standar maskulinitas tertentu hanya karena ia laki-laki.

Dengan cara pandang seperti ini, perjuangan kesetaraan sebenarnya tidak hanya membebaskan perempuan. Ia juga membebaskan manusia dari peran-peran sosial yang dipaksakan kepadanya.

Membaca perempuan sebagai manusia

Pada akhirnya, pembahasan mengenai kedudukan perempuan membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kita melihat perempuan sebagai manusia yang memiliki kebebasan menentukan kehidupannya sendiri, atau sebagai seseorang yang terlebih dahulu harus memenuhi definisi masyarakat tentang perempuan?

Pertanyaan tersebut mungkin jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan apakah perempuan lebih baik berada di rumah atau di ruang publik. Sebab, jika seseorang benar-benar memiliki kebebasan, maka ia seharusnya memiliki kesempatan untuk memilih keduanya tanpa kehilangan martabatnya.

Perempuan tidak perlu menjadi “seperti laki-laki” agar dihargai. Sebaliknya, perempuan juga tidak seharusnya dipaksa memenuhi gambaran tertentu tentang bagaimana perempuan yang ideal. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk menjadi manusia.

Dan mungkin, di situlah inti dari pembicaraan mengenai kedudukan perempuan: bukan sekadar menempatkan perempuan di mana, tetapi memberikan perempuan hak untuk menentukan sendiri di mana ia ingin berdiri.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Instagram pribadi penulis yang sedang menjadi MC pada Bimbingan Teknis Pelaporan Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota Wilayah II TA 2019.