Konten Media Partner

Kisah Badut Jalanan di Samarinda: Mencari Nafkah dengan Menebar Keceriaan

Karjaverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi badut. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi badut. Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Tidak mengenal panasnya terik matahari dan debu jalanan, para badut jalanan itu melambaikan tangan mereka kepada para masyarakat setelah berkunjung ke mall. Tidak lupa, mereka pun berpose lucu agar yang melihat dapat terhibur.

Beberapa bulan terakhir ini, keberadaan badut jalanan memang sedang menjamur di area Kota Samarinda. Badut-badut jalanan tersebut bisa ditemukan di pintu keluar pusat perbelanjaan.

Sejak sore hari hingga malam, mereka beraksi menantikan para dermawan memberikan sedikit rezekinya. Salah satunya, terlihat para badut jalanan di pintu keluar parkiran Mall Samarinda Central Plaza (SCP).

Begitu kendaraan roda dua dan roda empat keluar dari parkiran, para badut tersebut segera melambaikan tangan mereka. Berharap adanya tangan-tangan kecil yang menyodorkan sebagian uang yang bagi mereka sangat berarti.

Namun, ada suatu hal yang tersembunyi di balik kostum badut jalanan; perasaan lelah, gelisah, dan sedih yang mereka benamkan dalam keceriaan.

“Memilih pekerjaan ini tidak apa-apa, sehat. Terus kalau sakit bawa main badut aja bawa senang,” ujar Siti (25) kepada Karja, Jumat (13/3), sambil melepas kepala badut yang dikenakannya untuk menghirup udara.

Siti, wanita berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai badut jalanan di Kota Samarinda. | Photo by Karja/Titiantoro

Siti juga menceritakan dirinya sudah berprofesi sebagai badut kurang lebih tiga bulan. Sedangkan teman-temannya sudah menjadi badut jalanan terlebih dahulu.

“Jadi badut sudah tiga bulan ini sih. Terus, kita juga tetap menjaga ketertiban supaya tidak mengganggu pengendara yang lain saat keluar dari mall. Supaya enak juga,” katanya.

Siti juga merasa gelisah dan waspada ketika ada mobil aparat yang sedang melintas. Ia khawatir, ada razia yang menjaring pencari nafkah di jalanan seperti dirinya dan kawan-kawannya.

“Pas itu pernah kena razia, pas beberapa hari lalu sempat kena razia. Setelah di bawa ke kantor, terus dikeluarkan dan dikasih peringatan. Saya tidak tahu juga kenapa, tapi ya mungkin mengganggu jalan kah? Padahal kita cuman menghibur orang-orang, ketimbang kita mengemis-ngemis,” ungkapnya.

Siti juga mensyukuri apa yang telah ia kerjakan, dan menceritakan kepada Karja mengenai suka dukanya menjadi badut jalanan.

“Kalau suka dukanya selama jadi badut itu ya kena hujan, panas. Terkadang sehari ada dapat rezeki, terkadang besok-besoknya tidak dapat rezeki. Tapi saya syukuri saja, terus itu kalau enggak dapat rezeki itu pas hujan soalnya enggak bisa kerja,” tuturnya.

Badut jalanan yang berada di depan Big Mall Samarinda. | Photo by Karja/Titiantoro

Selain itu, ia juga harus tetap membayar uang sewa kostum kepada sang pemilik dan dihitung per harinya sesuai dengan pendapatan Siti saat bekerja.

“Perhari biasanya kalau rame kita dapat sekitar Rp 170 ribu, tapi itu nanti dipotong sama biaya sewa kostum badut ini. Dari yang punya biasanya dia minta Rp 30 ribu, tapi kalau kita dapat Rp 70 ribu seharinya, itu nanti dia minta Rp 20 ribu aja. Jadi perhari kita bayar sewa kostum badutnya. Dipotongnya sesuai dengan penghasilan dalam sehari itu,” jelasnya.

Siti merupakan salah satu badut jalanan yang ada di Kota Samarinda. Namun, ia bersama teman-teman tetap semangat menularkan kebahagian kepada orang-orang di sekitar mereka, yakni dengan cara menghibur dan membuat orang lain tertawa saat melihat mereka sedang berpose imut dan melambaikan tangan mereka kepada pengendara lainnya yang tengah lewat.

#terusberkarya

Jangan lupa follow Karja di Instagram (klik di sini) dan klik tombol 'IKUTI' (klik di sini) untuk mendukung dan mengikuti konten menarik seputar entrepreneurship, kisah inspiratif, karya anak bangsa, dan isu sosial seputar milenial ya, Sobat!