Konten Media Partner

Kisah Haru Ini Buktikan Toleransi Antar Agama di Indonesia Belum Mati

Karjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kisah haru ini buktikan bahwa toleransi antar umat beragama di Indonesia belum mati | Photo by Pexels/Min An
zoom-in-whitePerbesar
Kisah haru ini buktikan bahwa toleransi antar umat beragama di Indonesia belum mati | Photo by Pexels/Min An

Semakin banyaknya kasus SARA yang terjadi Indonesia, membuat orang jadi berpikir bahwa toleransi sudah mati di negara yang berasaskan Pancasila ini. Bahkan tidak jarang, hashtag RIP Toleransi menjadi Trending Topic setiap ada kasus yang menunjukkan sikap tidak toleran dari kalangan masyarakat.

Namun, baru-baru ini netizen di media sosial diramaikan dengan sebuah thread dari Twitter seorang dosen yang bernama Lita Widyo. Di thread tersebut, Lita Widyo mengisahkan mengenai bagaimana mahasiswa bisa menghilangkan sekat antara ras dan agama yang kini menjadi masalah bagi banyak orang.

Kisah ini sendiri telah mendapatkan 16,9 ribu retweet dan disukai sebanyak 34,2 ribu. Seperti apa kisahnya? Simak di bawah ini!

Kisah ini diawali dengan persahabatan antara 6 orang mahasiswa, di mana 4 diantaranya di deskripsikan berbeda agama, kepribadian dan juga jenis kelamin. Namun, keenamnya berkawan begitu akrab.

Photo by Twitter/@WidyoLita

Kisah berlanjut, ketika ternyata salah seorang dari enam sahabat ini mengalami kecelakaan parah, sahabat-sahabatnya begitu menunjukkan kepedulian. Si A yang mengalami kecelakaan kebetulan merupakan seorang anak perantauan di mana orang tuanya berada di luar kota.

Kabar buruk datang ketika ternyata kaki si A harus diamputasi oleh dokter sebagai bentuk pencegahan supaya akibat yang diderita tidak bertambah parah.

Photo by Twitter/@WidyoLita

Walau si A dalam keadaan sakit, teman-temannya tidak pernah meninggalkannya. Mereka bahkan mengorbankan jam kuliah untuk menunggui si A yang dirawat di rumah sakit di Solo, serta mendampingi dan menguatkan orang tua dari si A.

Walaupun lelah namun mereka tetap bertahan; menunggu di rumah sakit hanya dengan duduk di lantai dan makan nasi bungkus. Namun apa daya kehendak Tuhan telah terjadi; si A menghembuskan napas terakhirnya.

Photo by Twitter/@WidyoLita

Kisah ini rupanya menjadi memori khusus bagi dosen satu ini. Bahkan ia menulis di akun Twitternya bahwa ia merindukan adanya anak muda yang hatinya tidak dibatasi oleh ras dan agama.

Photo by Twitter/@WidyoLita

Yang mengejutkan, ternyata kisah ini dibaca oleh orangtua si A dan hingga saat ini orang tua dari si A yang bernama Wahyu Gusni masih berhubungan baik dengan beberapa sahabat si A, bahkan menyebut mereka layaknya anak sendiri.

Dari kisah tersebut, kita tahun bahwa masih ada harapan terkait toleransi antar suku dan agama di Indonesia. Toleransi belum mati; kita sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya menjaga kerukunan antar warga beragama.

#terusberkarya

Jangan lupa follow Karja di Instagram (@karjaid) dan klik tombol 'IKUTI' di kumparan.com/karjaid untuk mendukung dan mengikuti konten menarik seputar entrepreneurship, kisah inspiratif, karya anak bangsa, dan isu sosial seputar milenial ya, Sobat!