Konten Media Partner

Mengenal Boreout Syndrome, Rasa Jenuh Karena Pekerjaan yang Monoton

Karjaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi stres | Foto: Pexels/Andrea Piacquadio
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi stres | Foto: Pexels/Andrea Piacquadio

Selama ini mungkin kita sudah sering mendengar istilah burnout untuk menggambarkan stres karena pekerjaan. Namun belakangan ini sering beredar di media sosial mengenai istilah lain, yakni boreout syndrome.

Banyak orang yang mungkin beranggapan bahwa boreout dan burnout syndrome adalah satu hal yang sama. Faktanya, boreout dan burnout syndrome ini berbeda

Burnout syndrome biasanya berkaitan dengan kelelahan akibat pekerjaan yang terlalu banyak. Sedangkan boreout syndrome adalah hal yang sebaliknya.

Boreout syndrome ini disebabkan karena rasa bosan yang muncul akibat beragam hal seperti:

  • Perasaan kurangnya tujuan yang dialami karyawan di tempat kerja

  • Kurangnya stimulasi intelektual

  • Kurangnya prospek untuk maju

Ilustrasi lelah bekerja | Foto: Pexels/Anna Shvets

Teori boreout syndrome sendiri pertama kali dikembangkan di tahun 2007 oleh Philippe Rothlin dan Peter Werder. Kedua orang ini mendeskripsikan boreout syndrome sebagai suatu ketidakseimbangan antara waktu untuk bekerja dengan jumlah tugas yang harus dikerjakan.

Dalam kalimat lain, bisa diartikan bahwa boreout syndrome adalah sebuah sindrom yang terjadi karena tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan di kantor atau jumlah tugas yang terlalu sedikit yang menyebabkan seseorang jadi merasa bosan.

Jika diperhatikan secara sekilas, sindrom ini nampak tak berbahaya. Karena memiliki sedikit pekerjaan dan tanggung jawab mungkin menjadi impian sebagian besar orang.

Namun lama kelamaan, hal ini akan berdampak pada kondisi psikologis karyawan. Boreout syndrome akan menyebabkan karyawan merasa kekurangan tujuan dalam bekerja, merasa tidak tertarik, frustasi yang menyebabkan depresi berkepanjangan, apatis dan masalah konsentrasi.

Lantas, bagaimana cara untuk mengetahui bahwa kita atau karyawan kita sedang mengalami boreout syndrome? Mereka yang mengalami boreout syndrome akan mengalami hal-hal sebagai berikut sebagai suatu gejala:

  • Tingkat percaya diri yang rendah

  • Adanya perasaan malu dan bersalah

  • Merasa tidak ‘nyambung’ saat bekerja

  • Mengalami krisis identitas sosial

  • Merasa tidak berguna bagi lingkungan sekitar

  • Depresi

Ilustrasi bosan | Foto: Pexels/Ketut Subiyanto

Boreout syndrome yang dirasakan oleh para karyawan harus segera diatasi agar tidak menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Contohnya seperti karyawan yang tidak melakukan pekerjaannya, ketidakhadiran karyawan, tingginya tingkat turnover karyawan, juga pengunduran diri.

Untuk mengatasi boreout syndrome yang terjadi maka cara-cara di bawah ini bisa dilakukan:

1. Menjawab beberapa pertanyaan

Untuk menangani boreout syndrome yang terjadi, maka berikan jawaban jujur pada pertanyaan di bawah ini :

  • Berapa lama hal tersebut sudah berlangsung?

  • Apa yang menjadi penyebabnya?

  • Apa yang bisa dilakukan untuk membawa perubahan positif?

2. Memisahkan kehidupan kantor dan pribadi

Pada saat jam kerja berakhir, maka benar-benar tinggalkan hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Lakukan saja hal yang bisa membuat kita menjadi semangat dan senang seperti menonton TV, berolahraga, pergi jalan-jalan dan lain sebagainya.

3. Berbicara dengan spesialis

Ketika kondisi sudah dirasa semakin parah, maka jangan ragu untuk pergi dan berbincang dengan tenaga profesional, seperti psikolog agar mereka bisa membantu kita.

#terusberkarya

Karja, we share creative and up to date content (entrepreneurship, inspiration, and social issues) for Indonesia’s millennials. Support and follow us on kumparan (click here) and Instagram (click here).